RENUNGAN WAISAK: DI ATAS KEKUASAAN DAN KEKAYAAN Posted by Nirvana Blue on 2004-06-03 [ print artikel ini | beritahu teman | dilihat 459 kali ]Pada hari Waisak dunia mengenang kembali saat kelahiran, pencapaian Penerangan Sempurna, dan meninggalnya seorang manusia yang dikenal sebagai Buddha Gotama (Sakyamuni).
Buddha menyebut diri-Nya Tathagata. Vajracchedika- prajnaparamita-sutra menjelaskan, Tathagata tidak datang dari mana-mana, pun tidak pergi ke mana-mana. Barangsiapa mengidentifikasikan-Nya dengan suatu bentuk yang terlihat, atau mencari-Nya melalui bunyi yang terdengar, orang itu sebenarnya berjalan menyimpang dan tidak akan dapat melihat Tathagata sejati.
Hal ini tidak sulit dimengerti jika kita memandang Buddha bukan hanya sekadar sosok manusia. Buddha pernah bersabda, "Barangsiapa melihat Dharma, ia melihat Aku. Barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dharma." (S. III, 120) Apakah manusia Buddha muncul atau tidak, Dharma atau Kebenaran, Realitas Tertinggi, selalu ada di alam semesta. Dengan cara pandang ini, Buddha senantiasa hadir di tengah kehidupan manusia sehari-hari.
Buddha historis
Buddha Gotama asalnya adalah Pangeran Siddharta yang diramalkan apabila tidak menjadi raja diraja akan menjadi pertapa. Sang ayah tidak menginginkan putra mahkotanya menjadi pertapa. Karena itu, ia membesarkan Pangeran dengan segala kesenangan dan kemewahan, menjauhkan dari orang-orang yang mengalami kesusahan. Pangeran dinikahkan dengan Putri Yasodhara yang memberinya seorang putra. Namun, tidak terelakkan, bagai terjaga dari mimpi, Pangeran menyaksikan bagaimana orang menderita, ditelan usia tua, sakit, dan mati. Pangeran bangun dari tidurnya. Dia ingin mencari jawaban guna mengatasi penderitaan manusia.
Pada usia 29 tahun, Pangeran meninggalkan segala kedudukan dan kekayaan. Dia memilih menjadi rakyat jelata dan menjadi satu dengan yang menderita. Banyak guru ditemui, tetapi tidak satu pun mampu menunjukkan cara mengatasi penderitaan. Dia berpuasa menahan lapar hingga maut hampir merenggutnya. Lalu, timbul kesadaran untuk mengambil jalan tengah, menghindari dua bentuk ekstrem: mengumbar nafsu dan menyiksa diri. Akhirnya, pada usia 35 tahun, Pangeran berhasil mencapai Penerangan Sempurna. Dia menjadi Buddha.
Buddha tidak hanya mengajarkan spiritualitas personal, tetapi juga struktural. Dia mendirikan struktur monastik, yang dinamakan Sangha, yang membawa orang, individual, dan kelompok melatih diri mengatasi penderitaan. Sangha adalah komunitas yang membongkar struktur sosial yang timpang dan diskriminatif. Atas dasar kasih sayang, Sangha bertugas melayani dan membahagiakan masyarakat banyak. Sebagaimana ikrar Buddha: menyelamatkan semua makhluk. Itulah cara mengubah penderitaan dengan rahmat.
Sampai akhir hidupnya, di usia 80 tahun, bahkan sampai sekarang, tidak terbilang jumlah orang yang memperoleh keselamatan karena berlindung kepada-Nya. Meski demikian, Buddha sendiri berulang kali dengan merendah menyatakan, Dia hanya menunjukkan jalan. Secara khusus, Buddha mengamanatkan pada hari-hari terakhir sebelum mangkat agar para murid-Nya bersandar kepada diri sendiri dengan menjadikan Dharma sebagai pelindung.
Inspirasi kepemimpinan Buddha
Sebagai pemimpin, Buddha tidak membuat orang-orang tergantung kepada-Nya. Kepemimpinan yang ditunjukkan Buddha adalah bagaimana membuat orang yang dipimpin meningkatkan kualitas dirinya. Berlindung kepada Buddha pun tak lain dari menjadikan Buddha sebagai pembawa inspirasi, penuntun hidup, bahkan tujuan hidup.
Dengan menghormati Buddha dan nilai-nilai kebuddhaan, umat mendapat dorongan untuk mengembangkan nilai-nilai luhur, mengambil cinta kasih dan kebijaksanaan Buddha sebagai teladan, dan bekerja keras untuk menjadi sama seperti Buddha. Disadari atau tidak, tiap manusia dapat menjadi Buddha. Manusia memiliki hakikat Buddha atau benih Buddha. Dalai Lama melihatnya sebagai Buddha Kecil, istilah yang dipopulerkan Bernardo Bertolucci melalui filmnya, Little Buddha.
Kebanyakan orang ingin menaklukkan orang lain, Buddha mengajarkan agar kita menaklukkan diri sendiri. Kebanyakan orang mengejar jabatan dan kekayaan. Yang berpeluang dan berjuang, atau bermimpi, semua ingin menjadi penguasa.
Tidak demikian dengan Buddha. Setelah menjadi Buddha, Dia mudah menduduki takhta dan menggunakan kekuasaan pemerintahan untuk menyiarkan agama. Tetapi itu tidak dilakukan. Menurut Buddha, ada yang lebih baik dari kekuasaan di Bumi, lebih baik daripada memerintah seluruh jagat, yaitu kemuliaan memenangi tingkat kesucian.
Pandangan ini tidak menunjukkan Buddha menyangkal perlunya kekuasaan pemerintahan. Dia amat dihormati raja-raja dari berbagai negara dan mengajarkan bagaimana memimpin negara dengan baik, cinta damai, dan menempatkan kesucian di atas kekuasaan dan kekayaan.
Sepuluh kewajiban
Menurut Buddha, pemimpin harus memenuhi sepuluh kewajiban. Etika kekuasaan menyentuh semua kewajiban ini. Kewajiban pertama mengenai kemurahhatian. Dalam hidup kenegaraan, penguasa bertanggung jawab memelihara dan meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan kemampuan menjamin keselamatan ekonomi negara. Kedua, pemimpin harus memiliki moral yang baik sehingga pantas dijadikan teladan dan dijunjung. Ketiga, sedia berkorban dengan mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Keempat, integritas atau tulus, jujur, dapat dipercaya, dan mewujudkan pemerintahan yang bersih. Kelima hingga kesembilan adalah kebaikan hati tanpa mengabaikan tanggung jawab dan keadilan, hidup sederhana, bebas dari amarah, tanpa kekerasan, dan sabar. Kesepuluh, tidak boleh bertentangan dengan kebenaran atau melawan kehendak rakyat. Terpenuhinya hal-hal ini akan membuat penguasa berwibawa dan kuat posisinya dalam kehidupan berbangsa yang demokratis.
Oleh karena itu, untuk memilih seorang pemimpin, latar belakang kehidupan pribadi dan bagaimana moral orang yang dicalonkan sepatutnya disorot secara terbuka.
Buddha mengingatkan, ada empat penyebab kemerosotan, yang dalam konteks kenegaraan diterjemahkan oleh Aung San Suu Kyi sebagai berikut: Ada yang hilang, yaitu hak-hak demokratis yang diambil oleh kediktatoran militer, dan berbagai usaha belum cukup untuk mendapatkannya kembali. Ada yang rusak, yaitu nilai-nilai moral dan politik yang dibiarkan memburuk. Ada pemborosan karena perekonomian diurus secara ceroboh. Yang terakhir menyangkut moral pemimpin. Krisis politik terjadi saat negara dikuasai orang-orang yang tidak memiliki integritas dan kebijaksanaan. Salah memilih pemimpin akan membuat kita semakin terperosok dalam kemerosotan.
Ketika kita menginginkan reformasi terus bergulir melalui pemilu dan pemilihan presiden, momentum merayakan Waisak sepantasnya digunakan untuk mengingatkan bahwa ada yang lebih baik dari kekuasaan dan kekayaan, yaitu kesucian. Dan, tidak ada kesucian di luar kebenaran.
Jika seseorang berbicara dan berbuat dengan pikiran suci, kebahagiaan akan mengikutinya, seperti bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan dirinya.
Selamat hari Waisak.
Krishnanda Wijaya-Mukti Upasaka Pandita; Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Majelis Buddhayana Indonesia
Oleh Krishnanda Wijaya-Mukti
|