[SUFI] MISTERI PERBEDAAN REZEKI Posted by Nirvana Blue on 2004-06-22 [ print artikel ini | beritahu teman | dilihat 426 kali ]Sufi kenamaan, Nasruddin, suatu ketika bertemu empat orang anak yang sedang kebingungan membagi sekantong buah kenari. Melihat kedatangan orang tua yang terkenal arif bijaksana itu, maka ke empat anak tersebut memutuskan untuk meminta pertolongannya.
"Mullah (mahaguru, penguasa), kami tidak dapat membagi kenari ini secara adil, dapatkah Anda menolong kami membaginya?" kata anak-anak itu, sebagaimana diceritakan Mohammad Yasin Owadally dalam buku Great from Mullah Nasruddin Effendi.
Mendengar pemintaan itu, Nasruddin balik bertanya, "Cara pembagian bagaimana yang kalian inginkan? Cara pembagian Tuhan, atau cara pembagian makhluk hidup?"
"Cara pembagian Tuhan," jawab ke empat anak itu serempak dan kompak.
Maka, Nasruddin pun membuka kantong yang penuh buah kenari tersebut. Lalu, dua genggam diberikannya kepada anak pertama, segenggam kepada anak kedua, dua butir kepada anak ketiga, dan hanya sebutir untuk anak keempat.
Ke empat anak itu tentu saja keheranan luar biasa. Bagi mereka, pembagian demikian itu jelas sama sekali tidak bijaksana. Karena itu mereka pun serempak bertanya, "Pembagian macam ini, wahai Mullah yang terkenal arif bijaksana?"
Tapi Nasruddin justru tersenyum saja mendengarnya. "Itulah cara pembagian Tuhan sebagaimana yang kalian minta," ujarnya, sambil menaiki keledai meneruskan perjalannya. Ke empat anak itu tentu saja semakin penasaran. "Mullah, Tuhan itu Maha Adil Maha Bijaksana. Tak mungkin Dia mengajarkan pembagian begitu rupa," teriak mereka.
"Ya, begitulah cara Tuhan membagi rezekinya. Beberapa orang diberikan sedemikian banyak, beberapa orang diberinya lumayan banyak, beberapa orang diberinya sedikit saja, dan beberapa orang lainnya nyaris tak mendapatkan apa-apa. Jadi beda sekali dengan pembagian cara manusia, yang selalu menginginkan pembagian sama rata," jawab Nasruddin sambil meneruskan perjalannya.
Ke empat anak itu tentu saja tak mampu memahaminya sepenuhnya. Tapi, kita semua tentu sangat mafhum apa makna terdalam dari ucapan Sang Mullah yang di Turki biasa disapa Hodja itu.
Kita semua mafhum, rezeki dari Tuhan dibagikan sesuai dengan kerja keras dan ketulusan kita meminta kepada-Nya. Kita semua bahkan mafhum bahwa banyak sedikitnya rezeji yang diberikan-Nya tidak semata untuk memuaskan nafsu belaka.
Kita semua mafhum bahwa kekayaan atau kefakiran bukanlah wujud dari ketidakadilan dari Tuhan Yang Maha Adil. Kita semua mafhum bahwa ketidakmerataan rezeki bukanlah manifestasi pilih kasih dari Tuhan Yang Maha Pengasih.
Semua itu justru merupakan ujian dari Sang Penguasa Alam. Sebab, dengan limpahan kekayaan orang justru bisa terjerumus ke jurang kenistaan. Misalnya membeli semuanya, tak peduli lagi halal haramnya. Demikian pula dengan kemiskinan, orang bisa menanggalkan rasa malunya menjadi meminta-minta di jalan raya. Kemiskinan bahkan bisa membuat orang menghalalkan segala cara untuk mengisi perutnya, kecuali mereka yang menyadari bahwa sebenarnya kemiskinan bukanlah sebuah kenistaan.
Lebih dari itu semua, inilah misteri perbedaan rezeki. Tiap orang memang tak mungkin dibagi sama rata. Sebab, jika semuanya dipastikan mendapat sama banyaknya atau sama sedikitnya, untuk apa pula hidup ini diperjuangkan? Untuk apa mengejar pendidikan setinggi awan, untuk apa bekerja susah payah hingga larut malam? Bahkan, eksistensi doa pun menjadi layak dipertanyakan.***
kiriman: Rai Ida
|