VEDIC PHYSICS: BAB 4 - TELUR YANG MENGEMBANG Posted by Ketut Adi on 2004-07-12 [ print artikel ini | beritahu teman | dilihat 478 kali ](Sambungan dari sebelumnya)
"Ptolemy menciptakan sebuah dunia yang bertahan seribu tahun. Copernicus menciptakan dunia yang bertahan empat ratus tahun. Einstein telah menciptakan sebuah dunia, dan saya tak bisa memberi tahu berapa lama itu akan bertahan."
George Bernard Shaw
4. Telur Yang Mengembang
Bahasa Sanskrit adalah bahasa yang indah. Tiap kata dalam Sanskrit mengungkap maknanya sendiri. Tiap kata telah dipikirkan dengan sangat hati-hati. Sanskrit bukanlah produk dari evolusi dari bahasa yang telah ada sebelumnya. Bahasa ini telah didisain untuk menjadi seperti yang ada. Ketika para orang suci Veda mengkodekan pengetahuan fisika partikel dan kosmologi, mereka telah sadar akan kemungkinan bahwa suatu saat kode itu akan hilang karena penurunan peradaban. Oleh karena itu, mereka memilih kata-kata dengan hati-hati untuk memberikan petunjuk penting tentang kode tersebut. Dalam buku ini, kita akan meneliti tiap kata, menuju ke akar katanya dan menemukan arti sains dari Veda.
4.1 Semesta yang Mengembang
Kata dunia dalam Sanskrit adalah "Brahmanda," yang merupakan perpaduan dari dua kata yakni "Brahma" dan "Anda." Brahma berasal dari kata "Brha" yang berarti berkembang dan "Anda" berarti telur. Jadi Brahmanda berarti telur yang mengembang. Konsep semesta sebagai sebuah telur bisa ditemukan di hampir semua peradaban, sumbernya tentu saja dari Rgveda. Konsep Martanda yang akan didiskusikan lebih lanjut dalam bab ini berkaitan dengan dunia yang berbentuk seperti telur. Semesta dilukiskan sebagai telur dalam semua naskah pasca-veda.
" Apah adalah Salila sebelumnya. Keinginan lahir dari itu. Mereka bekerja. Dari sana muncul panas. Dari panas lahirlah telur emas. Telur emas berenang di dalamnya selama satu tahun."
Satapatha Brahmana 11.1.6.1
" Seluruh semesta termasuk bulan, matahari, galaksi dan planet-planet ada didalam telur. Telur ini dikelilingi oleh sepuluh kualitas dari luar."
Vayu Purana 4.72-73
"Di akhir dari ribuan tahun, Telur itu dibagi dua oleh Vayu."
Vayu Purana 24.73
"Dari telur emas, bumi dan langit diciptakan."
Manusmrti 1.13
Dalam Matsya Purana 2.25-30 cerita berikut ini adalah tentang penciptaan.
Setelah Mahapralaya, leburnya alam semesta, kegelapan di mana-mana. Semuanya dalam keadaan tidur. Tidak ada apa-apa, baik yang bergerak maupun tak bergerak. Lalu Svayambhu, self being, menjelma, yang merupakan bentuk diluar indra. Ia menciptakan air pertama kali, dan menciptakan bibit penciptaan didalamnya. Bibit itu tumbuh menjadi telur emas. Lalu Svayambhu memasuki telur itu, dan disebut Visnu karena memasukinya.
Konsep semesta sebagai telur adalah berdasarkan konsep sains. Kita akan diskusikan dasar sains bentuk ini dalam diskusi tentang kosmologi Veda.(bersambung ke bagian berikutnya: 4.2 Lahirnya Dewa-Dewa)
4.2 Lahirnya Dewa-Dewa
Apakah yang terjadi pada saat awal penciptaan? Kosmologi "Ledakan Besar" (Big Bang) memberikan penjelasan yang sangat dramatis tentang saat-saat awal penciptaan. Alam semesta sangat panas lalu melalui tahap ekspansi yang sangat cepat yang disebut inflasi. Pandangan Veda berbeda dengan pandangan Ledakan Besar. Momen awal penciptaan dijelaskan dengan sukta berikut dalam RgVeda:
RgVeda 10.72:
Orang Suci: Laukya Brhaspati atau Brhaspati Angirasa atau Daksayani Aditi.
Dewa/Deity: Dewa-dewa
Metre: Anustupa
1. Kami mengungkapkan kelahiran para dewa dengan jelas. Bagi yang menyebutkan doa-doa ini akan menemui mereka pada masa mendatang.
2. Brhamanaspati menciptakan semua ini (semua yang ada di alam semesta) seperti seorang seniman. Pada masa sebelumnya, dewa-dewa yang
bermanifestasi lahir dari yang tak-bermanifestasi.
3. Di jaman para dewa yang pertama, yang bermanifestasi lahir dari yang tak bermanifestasi. Lalu seperempat dari langit (Asa) lahir, setelah itu satu kakinya menjadi panjang.
4. Dari kaki yang diperpanjang, lahirlah Bhu, dari Bhu lahirlah seperempat dari langit (Asa). Dari Aditi lahirlah Daksa. Dan dari Daksa lahirlah Aditi.
5. Daksa, putrimu Aditi telah memberikan kelahiran. Para dewa yang berjaya dan kekal lahir darinya.
6. Ketika para dewa duduk didalam Salila yang telah terbentuk, dari tarian para dewa muncullah debu-debu (penetrating dust).
7. Ketika dewa-dewa melingkupi seluruh alam semesta, lalu dalam samudera didekatkanlah matahari.
8. Dari delapan Putra yang lahir dari Aditi, hanya tujuh yang dibawanya kepada para dewa, Martanda ditinggalkan.
9. Dengan ketujuh putranya, Aditi pergi ke masa sebelumnya. Untuk kelahiran dan kematian manusia, Aditi menerima Martanda kembali.
4.3 Telur Mati
Dua mantra yang terakhir menyebutkan tentang Martanda, dan di sinilah sumber besar salah konsep tentang manusia yang diciptakan di awal penciptaan. Martanda berarti telur mati. Telur disini adalah alam semesta, jadi telur mati berarti alam semesta tanpa kehidupan. Terbentuknya kehidupan bukanlah proses yang spontan. Alam semesta harus berkembang untuk menjadi eksis, tapi gaya ekspansi dan konstraksi telah ada sejak awal dalam keseimbangan yg lemah. Alam semesta tidak berkembang secara kontinyu adalah sudut pandang Veda. Setelah ekspansi awal, alam semesta mulai mengkerut. Inilah arti dari Aditi pergi ke masa sebelumnya. Dalam Satapatha Brahmana, ada cerita menarik tentang
Martanda.
" Aditi mempunyai delapan Putra. Hanya tujuh dari mereka yang disebut Aditya. Yang kedelapan, Martanda, tidak punya bagian tubuh yang bisa dibagi. Para Aditya melihat ia (Martanda) tidak sama dengan mereka (Aditya), jadi mereka membagi tubuhnya. Lalu ia menjadi seorang manusia. Ia diberi nama Vivasvana dan semua manusia lahir dari dia."
Satapatha Brahmana 3.1.3.3-4
Taittiriya Samhita 6.5.6.1 mengatakan bahwa Aditi melahirkan telur yang tidak sempurna. Dalam Mahabharata, Harivamsa Parva 9.5 Kasyapa berkata kepada Aditi tentang penolakannya bahwa putranya tidak mati, tapi ada di dalam telur. Oleh karena itu ia diberi nama Martanda. Inti dari semua cerita tersebut adalah gaya dasar alam tidak bekerja dengan baik pada saat penciptaan. Setelah ekspansi awal, alam semesta mulai kolaps. Lalu gaya dasar alam berubah, dan semesta mulai berekspansi lagi. Saat semesta telah dalam keadaan setimbang, itu disebut Vivasvana, tempat di mana makhluk bisa hidup. Satapatha Brahmana 3.1.3.4 adalah sumber dari mitos dimana manusia diciptakan sejak saat awal oleh Tuhan. Perlu dicatat bahwa Vivsvana adalah alam semesta itu sendiri dan tidak mungkin melahirkan kelahiran pada manusia. Dalam Rgveda 10.17.1 Yama disebut sebagai Putra Vivasvana, dan dalam Rgveda 10.14.1 Yama disebut sebagai
Vaivasvata yang berarti Putra dari Vivasvana. Orang suci dalam sukta 8.27-31 dalam Rgveda adalah Vaivasvata Manu.Vivasvata berarti Putra dari Vivasvana. Dalam naskah India, Vivasvana adalah ayah dari Manu, raja pertama, dan dalam naskah Iran, Vivangahvanta (yaitu Vivasvana) adalah ayah dari Yima (yaitu Yama), yang juga raja pertama.
Sejak adanya naskah pasca Veda, penciptaan manusia pertama diterima sebagai terjadi segera setelah penciptaan semesta, sehingga selanjutnya Veda diasumsikan diterima oleh manusia sejak awal jaman. Walaupun pengetahuan Veda adalah abadi, Veda ditemukan oleh orang-orang suci pada masa kebudayaan Indus-Sarasvati. Alam semesta berumur milyaran tahun, sedangkan sejarah manusia hanya berumur 10.000 tahun saja. Pada saat 10.000 tahun yang lampau pikiran manusia belum mampu untuk mencerna pengetahuan di dalam Veda. Sejarah manusia, dan tentu saja sejarah India juga, baru berumur 10.000 tahun, konsep sejarah India berumur jutaan tahun seperti dijelaskan dalam Purana adalah kesalahan yang disebabkan kebingungan membedakan kosmologi Veda dan sejarah manusia.
Tentu saja memang ada sejarah manusia dalam Purana, tapi itu dimulai saat yang sama Purana berhenti menjelaskan sains Veda sebagai sejarah manusia. Fakta ini tentu saja cukup jelas bagi pengarang-pengarang Purana. Konsep Veda adalah sangat kompleks, dan begitu kompleksnya sehingga mungkin tidak bisa menarik orang awam untuk mempelajari Dharma, sehingga Purana dengan sengaja disisipi representasi yang sangat indah dari konsep yang kompleks itu. Bagi umat Hindu yang biasa (awam), Putana adalah cerita yang sangat indah, tapi dibalik itu sebenarnya adalah sains kelas tinggi, dimana cendikiawan Hindu seharusnya mengerti. Sayang sekali, telah lama sekali semua umat Hindu melupakan sains di belakang naskah suci, dan umat Hindu tidak bisa membela Dharma dari serangan ajaran Kristen dan Islam. Sumber dari beberapa ide dalam ajaran Kristen dan Islama adalah naskah suci Hindu. Yang telah dipinjam tanpa mengetahui arti sainsnya. Pada abad awal dan pertengahan sejarah, umat Hindu (dan Budha) telah menyebarkan ide mereka ke seluruh penjuru.
Perhatikan keterangan berikut dari Taittiriya Brahmana.
" Setelah menciptakan alam semesta dan manusia, Prajapati pergi tidur."
Taittiriya Brahmana 1.2.6.1
Keterangan yang sama bisa ditemukan pada Injil (Genesis 2.2) yang mengatakan bahwa Tuhan beristirahat pada hari ketujuh setelah menyelesaikan pekerjaannya..
4.4 Sang Penguasa Expansi
Mantra 10.72.2 mengatakan bahwa Brahmanaspati menciptakan alam semesta seperti seorang seniman. Brahmanspati berarti Sang Penguasa Expansi. Jadi Brahmanaspati bisa diidentifikasikan sebagai berekspansinya alam semesta, dan mantra ini mengindikasikan bahwa alam semesta diciptakan dari exspansi. Dewa lain dalam Rgveda yang digunakan secara bergantian dengan Brahmanaspati adalah Brhaspati, dan arti dari Brhaspati adalah sama. Brhaspati dalam naskah pasca-Veda digambarkan menjadi pendeta para dewa. Kata Brhaspati digunakan sebanyak 128 kali dalam Rgveda dan kata Brhmanaspati muncul 49 kali. Sebelas sukta lengkap didedikasikan untuk Brhaspati (1.20, 1.190, 2.23, 2.24, 2.25, 2.26, 4.50, 6.73, 10.38, 10.67, dan 10.182), dan pada dua sukta lainnya (4.49 dan 7.97) Brhaspati dipuja bersama dengan Indra. Rgveda 2.24 menggambarkan kebesaran dari Brahmanaspati.
Rgveda 2.24
Orang suci: Grtsamada Bhargava Saunaka; Dewa: Brhamanaspati, Metre:
Jagati, 12,16-Tristupa.
1. Brhaspati, yang menguasai dunia, marilah kita puja beliau. Kami memuja Mu dengan puja-puji ini, dan teman-teman Mu yang berada diantara kita, semoga Ia mencerahkan pikiran kami.
2. Brahmanaspati, dengan kekuatanNya bisa membengkokkan yang tak terbengkokkan, yang dengan kemarahan membinasakan Sambara, yang mengacaukan yang tak terkacaukan, memasuki gunung Vasumanta.
3. Itulah tempat dewa terbaik diantara para dewa, yang lembut menjadi kuat menjadi lembut, keras menjadi lunak. Ia membawa sapi-sapi keluar, membunuh Bala oleh Brahma, menyembunyikan kegelapan dan menerangi surga.
4. Sumur dengan mulut batu dan aliran madu yang dibuka oleh Brahmanaspati dengan kekuatannya, yang mabuk oleh sinar matahari. Ia mengairi itu dengan aliran berlimpah.
5. Ia membuka pintu air, yang telah ada dan akan terbentuk kemudian, selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun. Kerja yang dilakukan oleh Brahmanaspati, satu dan yang lain, menggunakan air dengan tanpa usaha yang keras.
6. Setelah mencari di semua sisi, akhirnya mereka menemukan sumur terjauh yang disembunyikan oleh Panis. Orang-orang yang bijak, setelah menemukan ketidak-benaran itu, memasuki sumur itu, lalu kembali ke tempat asal mereka.
7. Orang bijak sebenarnya melihat ketidakbenaran itu dan berdiri pada jalur yang benar lagi. Mereke menciptakan Agni dari tangan mereka di gunung, yang belum ada sebelumnya.
8. Brahmanaspati menggunakan busur dimana kebenaran adalah tali busurnya, kemanapun yang dia inginkan, Ia akan menjangkaunya. Tali busur ditarik sampai ke telinganya Ia melepas anak panah yang perhasil untuk melihat manusia.
9. Ia bersiap dengan baik, Ia memimpin dengan baik, Ia dipuja-puja, Ia sang pendeta Brahmanaspati bertempur dengan baik. Ketika semua kekuatan dan kekayaan terlihat, lalu matahari mulai memanas dengan mudah.
10. Semua yang pertamakali kaya, yang kedua jenis manusia menikmati, dimiliki oleh hujan yang diciptakan oleh Brahmanaspati, yang menyediakan kemampuan yang besar sekali.
11. Semua yang dijangkau Brahmanaspati menunjukkan kebesarannya bahkan dalam pertempuran yang paling kecil. Dewa ini menjadi lebih besar dibanding dewa yang lainnya, dan membungkus mereka dari segala penjuru.
12. Indra yang sentosa dan Brahmanaspati, mengatur yang anda berdua pegang, bahkan air pun tidak bisa melawan hukum anda. Datanglah langsung makanan kita seperti dua kuda yang menarik kereta.
13. Kuda-kuda yang bergerak cepat mendengar, orang yang bijaksana memegang kekayaan. Semoga yang kuat, yang keras pada musuh-musuh, bisa membayar hutang kita. Ia Brahmanaspati, sangat perkasa dalam pertempuran yang kejam.
14. Kemarahan Brahmanaspati, yang selalu melakukan hal-hal yang hebat, menjadi nyata ketika Ia menginginkan. Ia membawa sapi-sapi keluar, membagi mereka dengan prosedur yang hebat untuk surga, dan mereka mulai bergerak terpisah dengan kekuataannya.
15. Brahmanaspati, ijinkianlah kami menjadi tuan dari segala makanan dan kekayaan yang diatur dengan baik, keberanian kami menghasilkan keberanian. Oh Tuan segalanya, dengar lah pujian kami.
16. Brahmanaspati sang pengatur, semoga anda mengetahui pujian ini. Berkatilah anak-anak kami. Yang dilindungi oleh dewa-dewa, Ia sangat beruntung. Kita mempunyai anak-anak yang berani yang akan berbicara dengan pengetahuan yang tinggi.
Mantra kedua mengatakan tentang Brahmanaspati memasuki Gunung Vasumanta. Tidak ada gunung dengan anama seperti ini. Dalam Rgveda permukaan alam semesta disebut dengan istilah gunung. Exspansi alam semesta tidak terjadi secara spontan, dan batas energinya dilambangkan oleh gunung. Vasumanta berarti yang menyimpan kekayaan, jadi gunung ini dianggap sebagai menyimoan kekayaan tersembunyi di dalamnya. Kekayaan ini adalah materi dan energi dari alam semesta, yang akan bermanifestasi pada saat permukaan dari alam semesta didorong lebih jauh. Dalam mantra kelima, Brahmanaspati dikatakan membuka pintu air. Ini bukanlah air biasa. Arti sainsnya akan menjadi jelas dengan berlanjutnya diskusi kita. Dalam mantra lima ini Brahmanaspati ini dikatakan bertempur dengan baik. Pertempuran ini adalah antara kekuatan-kekuatan ekspansi dan konstraksi, bukan antara bangsa Arya dan Dravidia.Dalam mantra empat belas, Brahmanaspati dikatakan membebaskan sapi-sapi. Sapi-sapi sering disebutkan dalam Rgveda sebagai tersembunyi dalam gunung, yang lalu dibebaskan oleh Brahmanaspati.
" Sapi-sapi dibawah dibebaskan dengan dua pinta, dan sapi-sapi di atas dengan satu pintu."
Rgveda 10.67.4
"Ketika Brhaspati menemukan tempat dimana sapi-sapi disembunyikan dan membuat suara. Sapi keluar dari gunung seperti burung keluar dari telur."
Rgveda 10.68.7
Sapi-sapi ini adalah partikel fundamental dari alam, yang belum termanifestasikan. Dalam Rgveda 4.50.1 Brhaspati disebut sebagai Trisadhasta, yang berarti yang tinggal di tiga tempat. Tiga tempat ini adalah bumi atmosfir dan langit. In Rgveda 4.50.4 Brhaspati disebut lahir pertama dan mempunyai tujuh mulut. Tujuh mulut adalah tujuh dimensi dari bumi, atmosfer dan langit. Kita akan mendiskusikan dimensi-dimensi ini lebih lanjut.
(bersambung ke bagian 4.5 Purusa dan Aditi)
4.5 Purusa dan Aditi
Kebanyakan mantra-mantra Veda adalah misterius. Hal ini karena kita tidak tahu arti sains dari mantra-mantra itu. Tujuan saya memberikan mantra-mantra dengan lengkap adalah untuk memberikan pada para pembaca yang lebih tahu sebanyak mungkin informasi, sehingga mereka bisa membantu menemukan pengetahuan Veda yang hilang. Salah satu misteri kosmis adalah Aditi dan Daksa saling melahirkan satu sama lain. Ini tidak mungkin jika mereka adalah manusia. Aditi sering disebut sebagai Ibu para dewa. Dalam naskah pasca-Veda, Purusa dan Aditi menjadi Visnu-Laksmi atau Siva-Sakti. Dalam Siva Purana, Daksa melakukan pengorbanan sehingga Dewi Sakti bisa lahir sebagai manusia sebagai
putrinya Sati. Ini hanya representasi dari Aditi dan Daksa yang saling melahirkan. Jadi Purana telah dengan baik sekali membawa konsep Veda yang kompleks kedalam kebijaksanaan Veda yang tak ternilai harganya dalam ribuan tahun. Veda adalah buku sains, yang sangat mampu memikat orang dengan pengetahuan yang terkandung di dalamnya, tapi ketika makna sainsnya hilang, orang mulai mempertanyakan autoritas Veda. Dalam perubahan kondisi itu, Purana hadir untuk menyelamatkan Hinduisme. Orang-orang suci yang bijak mentransformasikan sains Veda dalam cerita yang memikat untuk menjaga umat Hindu yang awam tetap tertarik dengan Dharma. Dibalik cerita ini adalah semua rahasia sains. Mari kita simak sebuah kisah cantik tentang rsi Agastya dan istrinya Lopamudra dan kita lihat apa makna sains-nya.
4.6. Agastya dan Lopamudra
Agastya adalah orang suci Veda yang sangat terkenal. Ia dianggap sebagai penyebar kebudayaan Arya di India selatan. Ia juga disebut sebagai pengarang pertama tata bahasa Tamil. Agastya berasal dari kata Aga, yang dibentuk dari awalan "a" yang merupakan negasi dari akar kata "ga" yang berarti pergi (go). Jadi Agastya berarti ia yang tidak bergerak, atau diam ditempat. Istri rsi Agastya adalah Lopamudra. Lopa berarti menghilang dan mudra berarti kemakmuran, jadi Lopamudra berarti menghilangnya kemakmuran. Nama-nama dalam Rgveda bukanlah nama sebenarnya tapi punya arti sains, yang bisa dimengerti dari makna
etimologisnya. Rgveda bukanlah tentang sejarah manusia, tapi menceritakan evolusi semesta dengan memberikan personifikasi atas fenomena sains. Dalam komsologi Veda, alam semesta mempunyai pusat, dan materi serta energi diciptakan secara terus menerus di permukaan alam semesta selama semesta berekspansi. Melihat balik ke belakang, alam semesta pertama kali adalah tanpa materi, energi dan ruang pada saat waktu ke -nol. Dalam Rgveda buku pertama, terdapat dialog menarik antara Agastya dan Lopamudra yang menceritakan tentang penciptaan semesta.
Rgveda 1.179
Orang suci: 1,2 - Lopamudra, 3,4 - Maitravaruni Agastya, 5,6 - murid ;
Dewa : Raiti ; Metre : Tristupa, 5 - Brhati
1. Lopamudra : Hamba telah melakukan pengekangan diri selama beberapa musim dingin, menjadi tua dengan lewatnya hari, malam dan subuh. Umur tua membawa pergi kecantikan tubuh. Keperkasaan seharusnya mendekati istrinya (sebelum itu terjadi).
2. Lopamudra: Mereka orang-orang yang berkata jujur di masa lampau, yang berkata kebenaran dengan dewa-dewa, tidak akan menemui akhir dari pengekangan. Istri bertemu suami yang gagah.
3. Agastya: Kerja kita tak akan sia-sia, karena dewa-dewa melindungi kita. Kita telah mengalahkan semua musuh kita. Mari kita menangkan pertandingan ratusan tipuan ini. Mari bertemu sebagai pasangan dan menghasilakan anak-anak.
4. Agastya: seperti sungai yang tenang, keinginan datang padaku dari berbagai arah, dari sana dan dari mana-mana. Lopamudra bersuamikan orang yang kuat, pikiran yang tak tentu menjadikan penciptaan memerlukan napas panjang.
5. Murid: Hamba berdoa kepada Soma, Ia yang dekat dan didalam hati hamba. Kalau kami berdosa, Ia mengampuni kami, karena mahluk mempunyai banyak keinginan.
6. Murid: Agastya menggali dengan cangkul keinginan akan anak-anak, keturunan dan kekuatan. Orang suci yang marah memberkati orang dari kedua warna, dan mendapatkan berkat yang sejati dari dewa-dewa.
Dialog ini adalah representasi dari belum adanya materi, energi, dan ruang di awal penciptaan semesta. Lopamudra mewakili keadaan tanpa materi dan energi sedangkan Agastya adalah representasi dari pusat semesta. Mantra pertama menyatakan ekspansi alam semesta tidaklah secepat 'inflationary' dalam model Big Bang. Namun, terjadi masa pembentukan yang panjang sebelum akhirnya menjadi tunak (steady). Ini juga menyatakan bahwa alam semesta pada awalnya ada dalam keadaan dingin tidak seperti yang dikatakan sebagai dalam keadaan panas tak terhingga seperti disebut dalam model Big Bang. Mantra ketiga menyatakan tentang 'perang' antara gaya konstraksi dan ekspansi akhirnya dimenangkan oleh gaya ekspansi, dan proses penciptaan materi dan energi dimulai. Dua mantra terakhir diceritakan oleh murid Agastya yang mendengar percakapan antara Agastya dan Lopamudra. Dalam mantra kelima, Soma dinyatakan sebagai dekat dan di dalam. Saya akan mendiskusikan secara lengkap
tentang Soma lebih lanjut didalam buku ini. Pengampunan dimohonkan kepada Soma, dengan makna Soma bisa memberikan efek yang berlawanan pada penciptaan. Mantra keenam menghubungkan penggalian dengan penciptaan. Penggalian ini adalah penghancuran gunung-gunung. Permukaan alam semesta
diwakili oleh gunung-gunung, dan ekspansi alam semesta adalah penggalian, yang menghasilkan anak-anak yaitu materi dan energi. Yang paling penting, bagian kedua dari mantra ini nmerujuk pada penciptaan anak-anak dalam dua warna. Warna apa yang mungkin? Hitam dan putih, tentunya. Dua warna ini melambangkan materi dan anti-materi. Ini menggugurkan mitos invasi Arya, mitos tentang bangsa Arya yang lebih hebat mengalahkan Bangsa Dravidia yang berkulit gelap. Dalam Rgveda, materi dilambangkan dengan putih sedangkan anti-materi dilambangkan dengan hitam. Warna hitam dan putih dipilih untuk menunjukkan sifat yang berbanding terbalik antara materi dan anti-materi. Alam semesta kita didominasi oleh materi dan ini tidak bisa terjadi tanpa hilangnya anti-materi.
Sekaranga anda tahu bahwa menurut pandangan Veda, ekspansi alam semesta tidak terjadi secara spontan, mungkin anda bertanya-tanya, apakah yang menyebabkan ekspansi itu? Gaya apakah yang menyebabkan ekspansi dan gaya
apakah yang melawannya? Pertentangan antara gaya ekspansi dan konstraksi adalah pertempuran epik dalam Rgveda, dilambangkan dengan pertempuran antara Indra dan Vrtra, dan layar dari pertempuran ini adalah batas alam semesta.
|