[ANANDAMURTI] TUJUH RAHASIA KEBERHASILAN Posted by Nirvana Blue on 2004-08-24 [ print artikel ini | beritahu teman | dilihat 361 kali ]Beberapa kali Aku telah memaparkan suatu cerita dari ‘Hara-Parvati Sam’va’ha’ (note; kitab Tantra). Dalam cerita itu dikatakan bahwa suatu ketika Parvati bertanya kepada Shiva, “Apa yang menjadi kunci keberhasilan ?” Dalam jawabanNya Shiva mengatakan ada tujuh rahasia keberhasilan;
‘Phalis’yatiiti vishva’sa siddherprathama laks’an’am, Dvitiiyam’ shraddhaya’ yuktam’ trtiiyam’ Gurupu’janam.
Caturtho samata’bha’vo paincamendriyanigrahah,
Sa’stainca pramita’ha’ro saptamam’ naeva vidyate.’
(- Shivasam’hita’- )
Kunci pertama dari keberhasilan adalah ‘Phalis’yatiiti vishva’sa siddherprathama laks’an’am’ : ‘Saya harus berhasil dalam misi saya’. Kebulatan tekad seperti ini adalah rahasia pertama keberhasilan. Seorang pencari spiritual harus memiliki tekad seperti ini. Tekad yang bulat seperti ini adalah merupakan akibat dari cinta yang sangat mendalam terhadap Parama Purusa. Apabila cinta kepada yang Maha Agung tetap utuh, tak ternoda, dia akan menghasilkan tekad yang bulat : ‘Saya harus berhasil dalam misi saya.’
‘Dvitiiyam’ shraddhaya’ yuktam’. Kunci kedua untuk sukses adalah ‘shraddhaya’ yuktam’.
Seseorang harus memiliki shraddha untuk mencapai cita-citanya. Apa itu shraddha ? Shraddha kata dari bahasa Samskerta yang tidak ada padanan katanya dari bahasa berkembang manapun di dunia. Oleh karena itu Aku mesti menjelaskan kata ini. Shraddha berasal dari ‘shrat’ berarti ‘satyam’, dan dha’ dari akar kata kerja dha. Apabila seseorang mengarahkan segalanya kepada tujuannya yaitu Subyektivitas Agung yang seolah-olah nampak sebagai obyeknya, maka gerakan itulah disebut shraddha. Pertama memandang Yang Maha agung sebagai obyeknya (sebenarnya Subyektivitas Agung dianggap sebagai obyek) kemudian mengarahkan semuanya kepada Beliau, kegiatan mental itulah disebut shraddha. ‘Rasa hormat’ tidak mengandung makna shraddha. Shraddha ini bisa ditumbuhkan apabila ada cinta yang tulus kepada Beliau. Jadi faktor kedua ini juga bergantung pada cinta kepada Tuhan.
Trtiiyam’ Gurupu’janam. Apa itu Guru ? Dalam bahasa Samskerta kuno ‘gu’ berarti ‘kegelapan’ dan ‘ru’ berarti ‘pengusir’. Oleh karena itu kepribadian yang mampu mengusir segala kegelapan spiritual disebut sebagai Guru; dan Gurupu’janam adalah melakukan sebagaimana yang diinginkan oleh Guru. Faktor ketiga ini dihasilkan hanya apabila orang mendapatkan Guru sebagai pengejawantahan pembimbing spiritual, sebagai pengejawantahan Brahma dalam perananNya sebagai pembimbing spiritual.
‘Caturtho samata’bha’vo’. Karena semuanya adalah ciptaan Tuhan yang sama, keturunan dari Leluhur Agung, semuanya memiliki hubungan kakak beradik di antara mereka. Tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah. Tidak boleh ada perasaan superior dan inferior; yang ada adalah ‘samata’bha’vo - keseimbangan mental yang penuh. Apabila keseimbangan ini telah berkembang, kita katakan itu samata’bha’vo.
Paincamendriyanigraha. Organ motorik dan sensorik manusia adalah merupakan penghubung antara dunia luar dengan aspek internal eksistensi manusia. Jika organ-organ ini dikendalikan dengan baik, pikiran bisa berfungsi dengan tepat bergerak menuju Kecerdasan Agung. Itulah sebabnya faktor kelima adalah bahwa siswa spiritual hendaknya mengendalikan organ motorik dan sensoriknya.
Sa’stainca pramita’ha’ro. Apa itu ‘a’ha’ra ? ‘A’-‘hr’ + ‘ghain’ = ‘a’ha’ra’. Apa yang dikumpulkan oleh seseorang dari dunia luar disebut ‘a’ha’ra’. Ini adalah ‘a’ha’ra’ yang bersifat fisik. A’ha’ra yang bersifat mental dapat ditinjau baik dari segi obyektivitas eksternal maupun psikis internal. Kalian bisa makan rasagola yang nyata dan merasa senang, atau mungkin kalian menciptakan rasagola di dalam pikiranmu dan memakannya dan kalian juga merasakan kenikmatan. Di sini kata ‘pramita’ha’ra’ yang digunakan, bukan ‘parimita’ha’ra’. ‘Parimita’ artinya mengontrol, tidak mengambil terlalu banyak dan tidak juga terlalu sedikit. Tapi dalam sloka ini ‘pramita’ha’ra’ yang digunakan, yang maksudnya yaitu makanan harus dikontrol atau seimbang, dan bersamaan dengan itu juga harus substansial dan bergizi. Ada banyak orang yang nampaknya baik tetapi tidak bisa mengontrol makanan yang mereka makan. Adalah sangat penting bahwa apapun yang di peroleh hendaknya jangan dimakan sembarangan; sebaiknya ada pengaturan makanan, dan makanan harus bergizi.
Setelah menjelaskan enam faktor ini, Shiva berkata : ‘Oh Parvatii, tidak ada hal yang ke tujuh; jika engkau melaksanakan keenam hal ini, engkau tidak memerlukan lagi yang ke tujuh.
Patna, 3 Oktober 1978
(Shrii Shrii Anandamurti)
|