[MEDIA HINDU 6] KISAH-KISAH LEGENDARIS DARI PARA SANYASI SEJATI Posted by Media Hindu on 2004-09-09 [ print artikel ini | beritahu teman | dilihat 612 kali ] Seorang sanyasi yang sejati adalah seorang yang tidak mempunyai ikatan dengan hal-hal duniawi. Dia tidak memiliki kepentingan pribadi dan apapun yang ia lakukaan adalah untuk keuntungan masyarakat. Ini lebih merupakan keadaan pikiran (a state of mind) dan tidak tergantung apakah ia seorang grihastha, brahmachari atau sanyasi. Suatu hari Svami Vivekananda diundang ke Mysore. Raja telah mengatur suatu resepsi besar yang sesuai dengan kerajaan termasuk satu tarian oleh seorang dasi (pelayan).
Ketika Vivekananda mendengar tentang hal ini, ia memilih untuk tidak menghadiri resepsi ini. Dasi itu, dilanda oleh kesedihan, menyanyikan sebuah lagu untuk mengekspresikan perasaannya : “Parasmani, yang mengubah baja menjadi emas, dapat mengubah satu patung dewa menjadi emas maupun menjadi pisau bagi penjagal. Ia tidak membedakan antara keduanya, karena parasmani adalah suci. Sama halnya, seorang sanyasi yang sebenarnya tidak membeda-bedakan orang. Aku menantikan kunjungan anda, dengan harapan itu akan memberikan saya satu kesempatan untuk membersihkan diriku.” Ketika mendengarkan kata-kata ini, Vivekananda merasa malu. Ia bergegas perti ke tempat resepsi dengan tangan berlipat dan memberi tahu dasi itu bahwa ia telah menjadi seorang sanyasi yang sebenarnya hanya setelah ia mendengarkan kata-kata nyanyiannya .
Kisah lain yang menarik tentang orang bijaksana yang bertindak untuk kebaikan yang lebih besar menyangkut Rsi Ramanuja. Dengan kesulitan besar, ia berusaha untuk mempelajari divya mantra dari gurunya. Mantra ini diharapkan untuk membebaskan seorang dari semua dosanya dan akan membawa ia lebih dekat kepada Moksa. Guru Ramanuja memintanya untuk berjanji bahwa ia akan membuka mantra ini hanya kepada muridnya yang paling baik. Hal berikutnya yang segera dilakukan Ramanuja adalah naik ke puncak pura di satu tempat yang disebut Tirukottiyur, dan memangil orang-orang di kota itu. Lalu ia mengucapkan divya mantra itu dengan suara keras untuk mereka. Dia menyatakan bahwa dia siap pergi ke neraka, tapi paling sedikit semua orang lain akan dibebaskan, dilebur dosa-dosanya dan mencapai moksa.
Menurut kisah di dalam Veda, Janashruthi adalah seorang kaya dan sangat religius. Dia akan memberikan dana punia berupa makanan dan uang kepada yang memerlukan dan kaum miskin. Sekali waktu, ketika ia berdiri di teras rumahnya yang bertingkat delapan, dia mendengar percakapan dua angsa yang tebang di atasnya. Salah satu dari angsa itu bertanya kepada yang lain: “Apakah ada seseorang yang lebih besar daripada Janashruthi?” Angsa yang lain menjawab: “Apakah ia lebih besar dari Raickwer?” Janashruthi merasa penasaran. Dia ingin bertemu dengan Raickwer. Dia pikir Raickwer tentu lebih kaya dari dirinya dan mengirimkan orang-orangnya untuk mencari Raickwer di seluruh kota besar. Tapi mereka tidak menemukan. Kemudian ia mengirimkan orang-orangnya ke kota, tapi mereka gagal untuk menemukannya. Akhirnya, orang-orangnya menemuan seorang bernama Raickwer duduk di bawah sebuah gerobak di sebuah desa kecil. Janashruthi secara pribadi pergi untuk menemuinya dengan satu kereta penuh dengan harta kekayaannya. Raickwer menderita lepra, dengan luka di seluruh badannya. Serangga memakan lukanya dan ketika mereka jatuh, dia akan mengambil mereka dan menaruhnya kembali. Ia memberitahu Janashruthi bahwa kekayaannya terdiri dari serangga-serangga ini. Janashruthi belajar tentang atmagyan dan cara-cara untuk mencapai Tuhan dari Raickwer. Vedanta Desika adalah seorang sarjana Vaishnava besar.
Suatu hari, ketika seseorang memberikan ia permata, ia melemparkan permata-permata itu, mengatakan bahwa itu semua adalah batu. Seketika permata-permata itu menjadi batu. Pada saat yang lain, seorang miskin mendekati Vedanta Desika meminta uang untuk perkawinan putrinya. Vedanta Desika menyanyikan Sristuti untuk memuja Dewi Lakshmi dan dikatakan uang emas menghujani orang miskin itu. Madhvacharya menyusun puisi untuk Dewi Laksmi dan ia juga dianugrahi dengan emas, dengan syarat bahwa ia akan menggunakan itu hanya dalam kelahirannya yang akan dating. Dengan segera ia menjadi sanyasi, sebagai sanyasi adalah kelahiran baru, dan menggunakan kekayaan itu utuk kebaikan orang / masyarakat.
Dalam semua kisah ini, para sanyasi ini berdoa untuk orang lain dan bukan untuk diri mereka sendiri. Jadi sanyasi adalah keadaan pikiran dan sanyasi yang sejati tidak membedakan manusia. Dia menggunakan waktunya untuk perbaikan bagi semuanya. (Renny)
Oleh : S. Srinivasan
|