SAMA, ESENSI SIMBOL HINDU DI INDIA DAN BALI Posted by Balipost on 2009-03-12 [ print artikel ini | beritahu teman | dilihat 727 kali ]HINDU yang berkembang di Bali berasal dari India, tak ada yang menyangkal. Peradaban ini dimulai di lembah Sungai Sindhu. Harrapa dan Mahenjodaro adalah bukti otentik dari perkembangan Hindu. Meski demikian, istilah Hindu ternyata tidak dikenal dalam kitab suci. ''Sanatana Dharma atau kebenaran yang abadi, itu yang ada di kitab suci,'' kata IB Agastia. Kalaupun menjadi sebutan Hindu, menurutnya, karena pengucapan Sindhu yang lama-kelamanan menjadi Hindu. Kalau ''indu'' artinya bulan.
Selanjutnya, muncul peradaban dari Asia Tengah dengan bahasa Sansekertanya. Kelompok bahasa ini termasuk kelompok bahasa Indo Jerman. Di daratan India pun mulai terjadi akulturasi kebudayaan. ''Weda mulai dikenal di zaman ini. Dari Weda Samhita sampai kitab Purana, Upanisad dan yang lain yang disebut Wedas,'' jelasnya.
Evolusi terhadap pemikiran pun muncul di India. Masuknya penjajah Inggris ikut mempengaruhi situasi. Kaum Barat mulai menggoyang eksistensi Weda, selain dari kaum India sendiri. Mereka yang anti Weda berasal dari kalangan Buddha. Mereka protes karena penonjolan Weda hanya pada upacara. Sementara Buddha lebih menonjolkan etik. Weda itu sendiri sebenarnya mengakomodasikan semua hal itu. Karma dan jnana pun termasuk di dalamnya.
Di zaman yang lebih modern, kata Agastia, aksi dan reaksi tetap berjalan. Mulailah muncul pemikir-pemikir dari India seperti Gandhi, Brahma Samad, Arya Samad dan Sarwo Daya. Ajaran-ajaran Ahimsa dan Swadeshi juga mulai muncul di India.
Bagaimana dengan kedatangan Hindu ke Indonesia? Mantan pengurus PHDI pusat selama dua periode ini menjelaskan, Hindu yang datang ke Indonesia berasal dari India Selatan. Mereka datang dengan menonjolkan yoga yang mereka sebut sebagai agama. Agama lebih bersifat induktif, sedangkan yang deduktif adalah Nigama.
Agama dikatakan deduktif karena dimulai dari pengalaman spiritual pribadi kemudian dijabarkan ke dalam kitab oleh orang-orang suci. Nigama dikatakan deduktif karena wahyu berasal dari atas, kemudian disarikan oleh orang-orang suci juga. Istilahnya adalah dari buana agung menyebar ke buana alit. Weda kemudian termasuk ke dalam Nigama itu. Agastia mengatakan, antara Agama dan Nigama tetap saling mengisi. Siwa dan Buda bisa bersatu. Puncak penyatuan Siwa dan Buda ada di Bali. Hal ini disimbolkan dengan Padmasana. Hal inilah yang menjadi keistimewaan umat Hindu. ''Penyatuan ini tidak ada di India, hanya di Bali,'' papar Agastia. Ia menambahkan, konsep Siwa Buda Manunggal juga bisa dijadikan konsep agama masa depan.
Mengenai penggunaan simbol-simbol Hindu, baik di India maupun di Bali memiliki esensi yang sama. Api, air, bunga, biji-bijian, madu dan susu adalah contohnya. ''Semua ini memiliki makna yang sama, sebagai sari kehidupan,'' ungkap dosen Fakultas Sastra Unud ini. Canang sari misalnya. Unsur canang sari adalah bunga, biji-bijian (beras), madu (tebu), susu (pisang) ditambah api (dupa) dan air (tirtha). Di India juga memakai unsur yang sama.
Posisi duduk bajrasana dan padmasana pun memiliki esensi yang sama. Semua menunjukkan kebulatan tekad (circle) dalam mencapai keheningan. Malinggih dalam arti hening berguna untuk menguatkan pikiran. Pedanda yang mayoga adalah bukti mereka malinggih untuk mencapai penyatuan. Pedanda atau Sadhaka adalah mereka yang melakukan sadhana atau jalan yoga.
Terkait upacara, Agastia menolak anggapan umat Hindu di Bali tidak peduli tattwa. Tattwa itu ada 26. Unsur Panca Indria dan Panca Maha Bhuta termasuk tattwa. Karena itulah, bahwa setiap upacara ada tattwa. Walaupun karma kanda ditonjolkan, namun nuansa agama (tattwa) tetap ada. Karma dan Jnana Kanda harus menyatu.
Agastia mengibaratkan sebuah kapal. Kalau hanya menonjolkan Jnana, penumpang yang muat sedikit. Kalau menonjolkan Karma penumpang akan lebih banyak. Lebih bagus lagi kalau kedua ini menyatu. Dalam realitasnya di Bali memang karma-nya yang ditonjolkan. ''Jangan hanya banyak omong, akan tetapi tidak pernah diterapkan. Ini juga merupakan perwujudan tattwa,'' katanya.
Satu hal yang membuat Agastia gerah adalah adanya paranormal yang menggunakan sarana upacara. Pemakaian sarana upacara berdasarkan pawisik ini harus diwaspadai. Apalagi oleh mereka yang mengatasnamakan bhakta. Setiap upacara harus berdasarkan tattwa. Belakangan malah ada pakelem yang menurutnya tanpa dasar tattwa dan dewasa (hari baik). Penyimpangan ini ternyata banyak dilakukan kelompok Jnana yang tidak mengerti tattwa. Pahami dulu tattwa baru masuk jnana. Ditegaskannya lagi, upacara di Bali bersumber dari tattwa. Di luar itu bisa dihilangkan. (wah)
sumber: BaliPost
|