Artikel Bali - Hindu & Adat Bali

MAKNA DAN FILOSOFI ''SUGIHAN'': PEMBERSIHAN ALAM MAKROKOSMOS DAN MIKROKOSMO
Posted by Balipost on 2009-03-15 [ print artikel ini | dilihat 1669 kali ]



Adanya perayaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali menjelang hari raya Galungan dan Kuningan harus diakui belum begitu dipamahi konsepsinya oleh umat. Hanya sering disebutkan bahwa konsepsi Sugihan itu disebutkan sebagai penghormatan kepada batara-batari yang berstana di sanggah (merajan) dan penghormatan kepada leluhur. Namun, di balik rutinitas upacara tersebut sebenarnya ada makna mendalam terkait dengan persiapan umat Hindu secara spiritual sebelum memasuki hari raya Galungan. Tetapi dengan adanya perbedaan kata di belakang sugihan yakni Jawa dan Bali tentu saja melahirkan pertanyaan kenapa bisa muncul dua nama itu? Adakah kaitannya dengan asal-muasal dari mereka yang merayakan masing-masing sugihan tersebut? Lantas bagaimanakah sesungguhnya makna dari sugihan itu sendiri?

======

Menurut Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si., Wakil Ketua I Parisada Bali, membicarakan makna filosofis hari sugihan tidak bisa dipisah-pisahkan dengan hari lainnya yang masih merupakan rangkaian hari raya Galungan dan Kuningan. Rangkaian perayaan yang sudah dimulai sejak 25 hari sebelum Galungan tepatnya pada Saniscara Kliwon wuku Wariga atau yang lebih dikenal dengan Tumpek Wariga. Pada saat ini umat mengaturkan persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Sangkara. Dalam pengider bhuwana letaknya di Pucak Mangu. Umat pada Tumpek Wariga (Tumpek Pengatag) ini melakukan komunikasi dengan penguasa tumbuh-tumbuhan. Adapun tumbuh-tumbuhan yang diutamakan adalah yang menghasilkan bahan-bahan yang bisa digunakan sebagai sesaji persembahan untuk hari raya Galungan dan Kuningan. Dalam peng-aci-aci-nya, umat memohon dengan jelas kepada penguasa tumbuh-tumbuhan untuk melimpahkan buah-buahan yang akan digunakan pada saat Galungan.

Secara filosofi, kata Sudiana yang juga dosen STAHN Denpasar ini, dari perayaan Tumpek Wariga sesungguhnya umat Hindu diharapkan untuk mempersiapkan pelaksanaan hari raya Galungan dan Kuningan dengan niat dan pikiran yang suci. ''Mulai Tumpek Wariga ini umat Hindu menjalani pendakian spiritualnya untuk menyambut perayaan Galungan dan Kuningan,'' kata Sudiana.

Pendakian spiritual umat Hindu tersebut makin menjalani tahap yang lebih tinggi saat mendekati hari raya Galungan. Karena itu, pada Wraspati Wage dan Sukra Kliwon wuku Sungsang yang lebih dikenal dengan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali, umat Hindu mulai melakukan pembersihan-pembersihan di sejumlah tempat suci.

Dalam pandangan Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Bali I Gusti Made Ngurah, makna dan filosofi kedua sugihan tersebut adalah sebagai pembersihan makrokosmos (alam semesta) dan mikrokosmos (manusia) secara sekala maupun niskala. ''Sugihan Jawa merupakan pembersihan secara sekala, sementara Sugihan Bali merupakan pembersihan secara niskala,'' kata Ngurah.

Sudiana lebih melihat perbedaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali dari alam yang disucikan. Pada Sugihan Jawa, kata Sudiana, lebih menekankan pada pembersihan makrokosmos atau alam semesta. Pembersihan ini secara sekala dilakukan dengan membersihkan palinggih atau tempat-tempat suci yang digunakan sebagai tempat pemujaan. Ia mengatakan, dalam istilah Balinya sering disebut dengan ngererata atau mabulung yakni pekerjaan merabas atau mencabut rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar palinggih,'' kata Sudiana.

Sementara secara niskala juga dilakukan pembersihan dengan jalan mengaturkan upacara banten pengerebuan dan prayasita sebagai lambang penyucian. Semua itu diaturkan kepada Ida Batara, para leluhur dan para dewa yang berstana di masing-masing palinggih atau pura. Diyakini pada saat Sugihan Jawa ini, para dewa akan turun diiringi dengan para luluhur untuk menerima persembahan.

Simbol Pembersihan Alam

Keesekokan harinya, tepatnya Sukra Kliwon wuku Sungsang atau sering disebut dengan Sugihan Bali, kata Sudiana, merupakan simbol dari pembersihan alam mikrokosmos. Pada saat ini umat melakukan tirta gocara atau tirta yatra yakni dengan pergi ke samudera -- sumber mata air atau bisa di palinggih atau merajan yang ada di masing-masing rumah. Ia mengatakan, dalam praktik yoga umat Hindu pada hari ini melakukan yoga semadi yang ditujukan untuk mulat sarira. Menyambut hari raya Galungan, umat seharusnya memiliki kesucian batin dengan menahan diri dari segala macam godaan indria. Hal inilah yang menjadi penekanan dalam kaitannya pelaksanaan ritual Sugihan Bali.

Dikatakan, Sugihan Jawa dan Sugihan Bali jika dilihat dari konsepnya menyiapkan umat Hindu menghadapi berbagai gempuran dan godaan duniawai yang datang menjelang hari raya Galungan. ''Pada kedua sugihan ini, kekuatan rwa bhinneda diupayakan berada pada titik keseimbangan untuk menuju pada ketenangan dan kedamaian,'' kata Sudiana.

Kembali pada persoalan sesaji yang biasanya diaturkan pada saat sugihan. Dalam praktik di beberapa tempat terutama di daerah Denpasar, banten pangerebuan ini biasanya disertai dengan persembahan ayam, bebek atau babi guling. Hal ini sebenarnya hanya merupakan bentuk dari tradisi. Apabila ditinjau dari segi sastra, hal itu tidaklah mutlak. ''Artinya, tradisi ini bisa diubah, kalau memang keyakinan untuk mengubahnya sudah cukup besar,'' kata Ngurah seraya menambahkan, apabila umat tidak memiliki keyakinan untuk mengubahnya, hal tersebut akan tetap dijalankan.

Selain itu, umat Hindu yang merayakan Sugihan Bali berbeda dengan mereka yang melaksanakan Sugihan Jawa. Perbedaan ini, menurut Sudiana, semata-mata karena adanya tradisi yang sudah berlaku secara turun-temurun. Selain itu, juga disesuaikan dengan desa kala patra. ''Adanya perbedaan ini juga dikaitkan dengan kedatangan Dhanghyang Astapaka dan Dhanghyang Nirarta ke Bali,'' kata Sudiana. Ia menambahkan, di sinilah sangat berperan metode untuk meyakinkan umat Hindu di Bali.

Di kalangan umat Hindu juga berkembang pemikiran, bahwa umat yang melaksanakan Sugihan Jawa adalah umat Hindu yang keturunan Majapahit. Sementara yang terkait dengan Sugihan Bali adalah mereka yang dari keturunan Bali asli. Kenyataan ini dibenarkan oleh Ngurah.

Ia mengatakan, adanya pembagian umat Hindu dalam melaksanakan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali terkait dengan faktor historis. ''Mereka yang dari keturunan Majapahit melaksanakan Sugihan Jawa dan yang asli Bali melaksanakan Sugihan Bali,'' kata Ngurah.

Namun, kalau dikembalikan kepada makna dan filosofi sugihan itu, kata Sudiana, hendaknya umat Hindu di Bali melaksanakan kedua sugihan tersebut. Hanya, perbedaan pada kesemarakkan pelaksanaan dari salah satu sugihan yang sudah dilakukan secara turun-temurun memang sangat sulit dihilangkan. Artinya, kebiasaan umat Hindu untuk melaksanakan Sugihan Jawa dengan mengaturkan upacara pengerebuan misalnya, tetap dijalankan sebagaimana mestinya.

Adanya perbedaan pelaksanaan masing-masing sugihan oleh dua kelompok berbeda, menurut Ngurah, adalah bentuk penghargaan terhadap perbedaan yang ada. Sementara Sudiana memandang hal ini sebagai bentuk betapa luwes dan fleksibelnya agama Hindu itu sendiri. Yang paling penting tentunya pemahaman yang mendasar di kalangan umat tentang makna sesungguhnya dari sugihan itu sendiri.

* Winata
sumber: BaliPost









Jika Anda mempunyai komentar tentang artikel di atas, silahkan isi di sini
Selamat datang di Tagboardnya www.iloveblue.com, sudahkan Anda membaca aturannya? klik di sini


Foto pre wedding di Bali - Menikah di Bali - Lokasi foto pre wedding
Promo Iloveblue.com
WHAT'S UP BALI @TWITTER
Silahkan #BlueBrainers yang mempunyai info tentang event di Bali mention ke @ilovebluedotcom yah :)

Follow us: @ilovebluedotcom

Teman2 juga bisa menginformasikan keadaan jalan/lalu-lintas dengan mention/DM ke @ilovebluedotcom

Follow us: @ilovebluedotcom

Buat temen2 yg ada di Bali.. yg punya event di sekolah/kampusnya, mention/DM ajah ke @ilovebluedotcom, kami akan publish di sini.

Follow us: @ilovebluedotcom

Dengan mem-follow twitternya iloveblue.com, dapetin info terbaru dari kami.

Follow us: @ilovebluedotcom

BANNER PROMO
tiket pesawat murah
RECENT COMMENTS
LATEST POST
NUMPANG NAMPANG
Tonny Trisnawan - Denpasar
mau ikut numpang nampang di sini?
info lengkapnya.. klik di sini
BANNER SPONSOR
CHAT WITH US
IKLAN PREMIUM

Foto Prewedding di Bali

Iloveblue
Pembuatan foto pre wedding kini telah menjadi suatu keharusan bagi calon mempelai. Keindahan dan keunikan suatu foto pre wedding akan menghiasi kartu undangan ataupun souvenir pernikahan. Terlebih lagi foto itu dibuat di Bali. Ini akan menjadi suatu sensasi tersendiri.

Menikah di Bali

Iloveblue
Untuk melakukan pernikahan di Bali, saat ini bukanlah sesuatu yang susah untuk dilakukan. Anda tinggal kontak ke salah satu wedding organizer, menentukan jumlah undangan yang akan hadir, memilih lokasi upacara, thema, yang tentunya disesuaikan dengan budget Anda.

Lokasi Prewedding di Bali

Iloveblue
Selain terkenal akan budayanya, Bali merupakan salah satu tujuan dari fotografer-fotografer prewedding saat ini. Karena Bali memberikan pilihan lokasi prewedding yang begitu beragam. Mulai dari danau, gunung, pura, pantai dan tentu saja panorama sunset yang eksotis.
Iloveblue
  • Saya mau pulang sekarang - Tyang jagi mapamit mangkin
  • Saya baik-baik saja. - Tyang becik-becik kemanten.
  • Berapa harganya ini? - Aji kuda niki?
  • Lima Enam Tujuh Delapan - Lima Nenem Pitu Kutus
selantur nyane...

Bali Stock Photos

Welcome to Bali Stock Photos, the web's original source for high quality stock photos / images from Bali. Bali, as well known an island with a thousands pura (temple) has so many wonderers objects / moments that can be captured in photos. Start from most uniquely ceremonies, the wonderful landscapes, balinese life, the exotic face of the balinese, the wonderfully flora and fauna and side by side with the greatness of balinese temples.

iloveblue.com
iloveblue.com