DEKLARASI BALI BANGUN SOLIDARITAS PULIHKAN PARIWISATA Posted by Balipost on 2005-12-10 [ print news ini | beritahu teman | dilihat 1483 kali ]Denpasar (Bali Post) -
Pertemuan Tingkat Tinggi Antar-Pemerintah yang membahas Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan yang diikuti 20 negara dari kawasan Asia-Pasifik berakhir Jumat (9/12) kemarin di Jimbaran. Pertemuan yang digagas Komisi Sosial Ekonomi PBB untuk kawasan Asia-Pasifik atau United Nations Economic and Social Commission for Asia-Pasific (UNESCAP) ini memiliki arti penting bagi Indonesia khususnya Bali. Dalam suatu solidaritas Asia Pasifik pertemuan ini menghasilkan "Deklarasi Bali" yang diharapkan menjadi pintu pulihnya pariwisata pascabom Bali II.
Sekretaris Eksekutif UNESCAP Mr. Kim Kok-Su mengungkapkan, semua negara concern memulihkan pariwisata khususnya di kawasan Asia-Pasifik setelah didera berbagai peristiwa, baik aksi terorisme, bencana alam mapun penyakit. "Sudah saatnya kita bangkit bersama dalam suatu semangat solidaritas antarnegara untuk membangun kembali sektor pariwisata," ujar Mr. Kim saat jumpa pers di Jimbaran, kemarin. Mr. Kim didampingi Direktur Divisi Transportasi dan Pariwisata UNESCAP Mr. Bery Cable dan Sekjen Depbudpar Sapta Nirwandar.
Me. Kim memaparkan, pertemuan ini sangat produktif karena masing-masing negara menyampaikan berbagai permasalahan untuk kemudian dibahas bersama. Antara lain meningkatkan peran industri pariwisata dalam menyediakan lapangan pekerjaan. Sebagai gambaran, pariwisata menyerap 10 persen angkatan kerja di dunia dan sekitar 120 juta orang di Asia Pasifik (UNESCAP). Sektor ini tumbuh paling cepat dan tahun lalu berhasil meraup revenue 124 milyar dolar AS di Asia.
Juga dibahas pemberian fasilitas pengembangan transportasi dan infrastruktur lain yang berkaitan dengan industri pariwisata serta menekan sekecil mungkin dampak negatif pariwisata terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat setempat. "Dan yang tak kalah pentingnya me-manage krisis dan resiko dalam pariwisata serta mengembangkan SDM-nya ke arah yang lebih profesional sehingga menunjang berbagai upaya pengembangan pariwisata ke depan," tandas Mr. Kim..
Deklarasi Bali
Forum ini kemudian berhasil menelurkan suatu komitmen bersama yang termuat dalam dokumen bertajuk The Bali Declaration on Sustainable Development and a Regional Paland og Action 2006-2012. Deklarasi Bali merupakan tindak lanjut dari Action Plan for Sustainable Tourism Development in the Asian and Pacific Region (PASTA) yang sudah habis masa berlakunya tahun ini.
Ada tiga poin pokok yang dikendepankan. Pertama, membangun solidatitas antar negara di kawasan Asia-Pasifik dalam upaya memulihkan pariwisata. Sebagaimana diketahui, sejumlah negara di kawasan ini, termasuk Indonesia mengalami berbagai tragedi, baik akibat terorisme, bencana alam maupun wabah penyakit yang berpengaruh langsung pada penurunan revenue pariwisata. Kedua, pariwisata diyakini sebagai salah satu sektor yang bisa mengurangi kemiskinan.
Ketiga, memperbesar akses antara negara. Dalam konteks ini masing-masing negara mengupayakan makin membuka negerinya untuk dikunjungi. Antara lain dalam upaya memudahkan pelayanan visa, meningkatkan pelayanan (services) di masing-masing destinasi. Hal terakhir terkait langsung dengan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) bidang pariwisata yang makin profesional. Karena itu UNESCAP juga mendorong berlakukan standar kompetensi industri pariwisata.
Sekjen Depbudpar Sapta Nirwandar menegaskan, sebagai tuan rumah Indonesia sangat apresiated terhadap anggota UNESCAP. Solidaritas yang dikumandangkan dalam pertemuan telah diperlihatkan secara sungguh-sungguh. "Kita sangat menghargai keberanian mereka yang datang langsung ke Bali. Mereka tidak termasuk yang hanya mengajak datanglah ke Bali, tetapi tak datang-datang. Kehadiran mereka sungguh menjadi support bagi kita untuk cepat bangkit dari keterpurukan," ujar Sapta. (056)
Tiga Poin Pokok "Deklarasi Bali".
===================================
- Membangun solidatitas antarnegara di kawasan Asia-Pasifik dalam upaya memulihkan pariwisata.
- Pariwisata diyakini sebagai salah satu sektor yang bisa mengurangi kemiskinan.
- Memperbesar akses antarnegara. Masing-masing negara harus membuka negerinya untuk dikunjungi.
sumber: BaliPost
|