KOMITE PEREMPUAN REGIONAL BALI TOLAK RUU APP Posted by Balipost on 2006-03-09 [ print news ini | beritahu teman | dilihat 1756 kali ]Denpasar (Bali Post) -
Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Sedunia, Rabu (8/3) kemarin, Komite Perempuan Regional Bali mengadakan sosialisasi masalah perempuan dan menyebarkan poster ke berbagai hotel di Nusa Dua. ''Dengan kegiatan ini saya harapkan agar perempuan Indonesia terutama Bali terangkat derajatnya,'' ujar Ketua Komite Perempuan Regional Bali A.A. Sagung Rat Mudiani, Rabu (8/3) kemarin di Hotel Grand Hyatt Nusa Dua.
Menurutnya, kegiatan ini perlu diperingati setiap tahun, mengingat hak perempuan sendiri belum terangkat sepenuhnya. ''Terutama untuk perempuan Bali yang menurut pandangan saya, haknya masih jauh di bawah grafik,'' ujar Sagung. Ia mengatakan demikian karena perempuan Bali masih sangat terikat dengan adat istiadat. ''Contohnya, sangat sulit mengajak wanita Bali untuk berdemo, karena mereka disibukkan dengan kewajiban mereka di dalam rumah dan banjar,'' tambahnya.
Mengenai RUU Anti-Pornografi dan Pornoaksi, Sagung mengungkapkan keberatannya. ''Saya sebagai perempuan sangat keberatan, karena peraturan itu terlalu mengesensikan perempuan,'' ujarnya. Ia juga keberatan sebagai salah satu orang yang terjun di dunia pariwisata. ''Pariwisata di Bali sudah sulit akibat bencana bom, masak harus dijatuhkan lagi dengan disahkannya RUU APP tersebut?'' tanyanya.
Sagung mengatakan berdasarkan survai pariwisata, untuk hotel-hotel besar di Bali jumlah kamar yang terisi sekitar 20%. ''Bali sangat tergantung dengan kesenian dan pariwisatanya. Jika turis dilarang datang hanya karena tidak boleh berenang memakai bikini, bisa tidak ada lagi yang mau datang ke sini,'' ujarnya.
Menurutnya, pemerintah seharusnya mengurus hal yang lebih penting selain meributkan RUU APP itu. ''Di negeri kita masih banyak masalah yang harus diselesaikan, seperti flu burung, bencana alam bahkan cara untuk mengangkat kembali pariwisata Bali yang sudah jatuh,'' ujar Sagung.
Sagung berpendapat, pandangan orang tentang pornografi dan pornoaksi berbeda-beda. ''Saya suka berbaju seksi dan senang melihat orang tampil seksi tanpa harus berpikir macam-macam. Jadi moral itu tidak usah diatur karena ada di dalam masing-masing orang. Semakin diatur bukannya akan memicu orang untuk semakin berbuat asusila?'' ungkapnya. (san)
sumber: BaliPost
|