BESOK, RATUSAN OGOH-OGOH DIARAK, DARI GATOTKACA SERAYA HINGGA ''BIBIH MUNJU Posted by Balipost on 2006-03-29 [ print news ini | beritahu teman | dilihat 2991 kali ]Pada malam Pangerupukan, Rabu (29/3) besok, ratusan ogoh-ogoh akan diarak keliling Denpasar. Sekalipun ada imbauan bahwa ogoh-ogoh hanya boleh diarak di wilayah desa adat, sejumlah sekaa pembuat ogoh-ogoh, STT dan banjar berkeinginan menembus patung Catur Muka Denpasar. Di sini ogoh-ogoh dari segala penjuru bersaing menunjukkan kebolehannya.
DARI pantauan Bali Post, Senin (27/3) kemarin, tema ogoh-ogoh yang diusung banjar, STT dan sekaa anak-anak semakin bervariasi. Ada yang mengambil tema klasik seperti Gatotkaca Seraya di Br. Tektekan, Peguyangan. Br. Kepuh, Peguyangan mengambil tema kala, di tempat lain mengambil tema bebanyolan.
Di Br. Kedaton Kesiman, sekaa ogoh-ogoh banjar setempat menampilkan ogoh-ogoh bebanyolan, namun sarat dengan kritikan. Ogoh-ogoh dengan bibih munju ini sengaja tak dikasi nama untuk memberi ruang bagi penonton menafsirkan sendiri. Namun menurut koordinatornya I Wayan Bayu, ogoh-ogoh ini mengkritik kala yang ada dalam diri para elite saat ini yakni suka berbicara namun tak pernah berbuat. Makanya bentuk bibirnya terbuka mengejek yang ditonjolkan. Ini menurut Bayu, salah satu sifat kala dalam diri yang perlu dieleminir pada hari raya Nyepi sehingga pejabat lebih banyak berbuat daripada hanya pada taraf wacana.
Di banjar lainnya, ogoh-ogoh juga diwujudkan dalam bentuk binatang. Warga Banjar Kaliungu Kaja dan Kaliungu Kelod mengusung tema kala, rangda dan celuluk. Sementara dari kalangan anak-anak kebanyakan berupa gabungan fisik raksasa dan binatang. Pembuatan sebuah ogoh-ogoh bisa menghabiskan biaya jutaan rupiah.
Pengamat agama Hindu Drs. Ketut Wiana mengungkapkan, apa pun tema ogoh-ogoh yang diusung tak masalah. Yang penting, jangan sampai memberi dampak pendidikan yang terbalik di mana dharma dikalahkan oleh adharma. Misalnya tak pas kalau menampilkan tokoh Hanoman dikalahkan oleh raksasa. Sebab, konsep kala bisa saja dipersonifikasikan dengan berbagai variasi, termasuk ogoh-ogoh bebanyolan.
Pada malam Pangerupukan ini pawai ogoh-ogoh harus diluruskan sebagai bentuk kegiatan untuk menyomia kala. Secara sosial ia bisa dipakai ajang pemersatu warga. Jangan justru sebaliknya dipakai untuk memecah belah warga.
sumber: BaliPost
|