| | Posted by magda_ayu on 2008-07-02Aku selalu mengagumi seseorang seperti kamu. Yang mengerti serat-serat halus perasaan seorang wanita, melankolis, tapi sekaligus logic dan realistis seperti seorang IT. Dan memang kamu seorang IT, sebuah karier yang selalu kukonotasikan dengan ke-lelaki-an.
Pada saat dia merobek batas hatiku dan mengatungkannya dalam lautan pernikahannya yang tak pernah diinginkannya namun tetap dipilihnya. Membuatku hancur berkeping-keping akan pengharapan yang selama 2 tahun ini kubangun bersamanya. Tetapi aku justru tetap bertahan dalam hubungan itu. Hubungan yang tak lagi sehat. Karna aku masih berusaha percaya cinta dan ketulusanku tidak akan sia-sia dalam badai perseteruan antara diriku, dirinya dan istrinya. Hal yang membuatku menutup mata dari apa yang orang sebut sebagai dosa. Kemurnian cinta palsu, seperti musang berbulu domba. Tapi cuman kamu yang bisa mengerti. Ketika semua teman bahkan sahabatku menutup telinga dari semua keluh kesahku akan dia, karna mereka menganggap aku terlalu tolol untuk bertahan dan sudah sepantasnya aku meninggalkannya, cuma kamu yang perduli. Mereka semua tidak salah, hanya tidak bisa mengerti. Aku mengerti...
Tapi aku tau, kamupun memilih berada disitu, menemaniku saat itu, karna kamu juga takut terbunuh oleh kesepian. Aku tidak pernah tau seberapa dalam duka yang kamu pendam atas dirinya, yang sudah pergi meninggalkanmu bersama bentangan waktu yang semakin berat untuk kamu lalui. Kamu pernah bilang bahwa kamu membenci “sang waktu“. Dulu saja, tanpa luka ini kamu sudah membenci sang waktu, apalagi sekarang.... Tetapi yang kutau pasti, duka itu begitu dalam, hingga tak terselami dan tak tersentuh oleh kepadatan cinta semacam itu ,yang membuatmu memutuskan untuk berhenti merasa. Padahal menurutku cinta seperti itu sangat indah. Cinta yang selalu kuyakini akan membawa perasaan seperti ada seekor kupu-kupu yang menari didalam perut, yang selalu kuyakini membawa kedamaian, yang selalu kuyakini bisa membuat setiap mahluk yang tercipta kedalam dunia ini bisa merasakan ke-eksistensian-nya. Aku tau dimalam-malam kamu bersedia melewatinya denganku, mendengarkan ceritaku, menemani air mataku, menggenggam tanganku, menarikku kedalam pelukanmu, bahkan mengecup manis bibirku, adalah malam-malam dimana kamu juga mencari satu penghiburan untuk bathinmu yang mulai lelah. Bukan hanya untukku, tapi kamu melakukannya untuk dirimu juga.
Aku tidak mengutuki apa yang pernah kita lewati bersama. Bahkan untukku itu indah. Pada saat kamu memintaku untuk menemanimu dirumahmu karna keluargamu sedang berlibur keluar kota, pada saat ulang tahunmu yang kamu lewati begitu saja dirumahku tanpa ada perayaan bahkan lilin karna katamu kamu benci semua itu, dan sejumlah malam-malam yang kita lewati dengan hanya menonton film di bioskop 21. Hampir tak ada satu malampun dimalam-malam itu yang terlewati tanpa pelukan dan kecupan bibirmu. Sekalipun kita tidak pernah mempunyai satu komitmen atas apa yang kita lakukan itu. Seperti layaknya dua insan yang saling menautkan bibir karna perasaan jatuh cinta, kita tidak seperti itu. Setelah lama kupikirkan mengapa kita bisa berada dalam moment-moment itu, aku mulai mereka-reka, bahwa kita menautkan bibir kita karna kita mempunyai perasaan yang sama, yaitu, takut benar-benar kehilangan rasa itu. Seperti seorang pengembara yang berjalan berhari-hari di padang pasir, terlalu dahaga, lalu menemukan kantong airnya yang terselip diantara semrawut barang-barangnya, tetapi dikantong itu yang tersisa hanya seteguk air. Tidak akan cukup memang, karna yang diperlukannya adalah oase, tapi setidaknya cukup untuk membuatnya bertahan. Hampir seperti P3K.
Tapi aku tidak pernah menyesalinya, malahan semua itu menghadirkan suatu dimensi warna-warni yang indah dalam sekelumit waktuku. Ya..diam-diam aku mulai membentuk perasaanku untukmu. Perasaan yang seharusnya tidak pernah ada untuk tercipta, tapi dengan indah ia menguntai dirinya diruang hatiku. Lalu satu hari itu aku menangis, air mataku yang kuper-untuk-kan untuk dirimu buat yang pertama dan terakhir kalinya. Aku mengirimkan email untuk kamu tentang semua kata hatiku, tentang indah untaian itu, tapi tidak untuk menemukan jawaban darimu, tidak untuk berharap tentang keindahan cinta darimu, justru untuk mematikannya. Karna aku tau seperti apa hatimu saat ini. Kamu pernah bilang bahwa hati itu telah membeku, dan masih sulit untuknya mengecap keindahan itu kembali. Keindahan tentang cerita yang kurasakan untukmu. Tidak apa-apa. Aku mengerti...
Lalu berminggu-minggu setelah itu kita sempat bertemu lagi. Seperti biasa, kita janjian nonton di bioskop 21. Aku sudah lupa film apa yang kita tonton waktu itu, tapi sepertinya "nonton" adalah satu hal yang tidak pernah bosan kita lakukan. Sebenarnya aku juga tidak tau, apakah benar karna "tidak bosan" atau hanya karna tidak ada pilihan lain yang lebih menarik untuk dilakukan selain nonton atau kamu memang lagi suka dengan film-film yang sedang diputar itu atau...ah..tidak penting. Buatku yang penting adalah malam itu aku bisa bertemu denganmu lagi. Bisa melihat matamu, bisa melihat punggungmu yang melengkung karna postur tubuhmu yang kurus dan jangkung, bisa duduk disebelahmu dan mendengarkan ceritamu dengan nada suaramu yang tenor, bisa menghirup sekali lagi wangi tubuhmu. Dan mematri itu semua didalam benakku, yang memperkaya moment-moment ku bersama dirimu. Sejarah akan kita.
"..yah..jaketku ketinggalan dimotor. Di dalem dingin ga ya..." Kamu berkata itu sambil melirik jaket yang kupegang. Spontan aku memeluk jaketku, separuh melucu, menunjukkan sikap bahwa kamu tidak boleh meminjam jaketku didalam nanti sekalipun kamu kedinginan, karna aku juga pasti membutuhkannya. Lalu sambil tertawa ringan kamu berkata.. "..he..he..kalo kedinginan aku tinggal peluk kamu aja.." Mendengar guyonanmu itu, hatiku kembali melumer, seperti cairan es krim..dingin... . Aku hanya tertawa dan memukul pelan lenganmu sambil berkata.. "ngaco ah..." . Tapi hatiku benar-benar lumer dan benar-benar dingin.
Hari itu sepertinya hari terakhir kita bertemu. 3 bulan yang lalu kalau aku tidak salah ingat. Lalu hari-hari selanjutnya kita tersibukkan oleh rutinitas hidup yang berfluktuasi. Kita tidak putus berhubungan. Bahkan tetap wajar seperti biasanya. Sabtu kemarin juga kamu masih sempat menghubungiku. Tapi hatiku tidak pernah berhenti memikirkanmu. Kamu yang seorang IT, melankolis, membenci waktu, hobi nonton film, patah hati, berpunggung melengkung dengan nada suara tenor.
KOMENTAR
Belum ada komentar...
| |