| | Posted by magda_ayu on 2008-07-17Malam itu diatas bangku kayu yang terasa nyaman, walaupun setiap bagiannya telah lapuk termakan waktu, dia mencoba untuk menguraikan semua pikirannya kedalam sebuah tulisan. Menghadap meja besi yang sudah setengah tahun ini menemaninya, dia mencoba untuk menfokuskan pikirannya pada apa yang seharusnya dilakukannya, karna dead line sudah menantinya diujung hari, bagaikan seorang sipir penjara yang menanti para pesakitan untuk menyelesaikan tugas-tugas penjara.
Dia mulai mengangkat penanya, berpikir keras akan sebuah awalan yang tepat. Tapi penanya justru terpaku, meninggalkan sebuah noda titik yang semakin lama semakin membesar. Dia mulai gelisah... apa yang terjadi dengan dirinya? Mengapa ide itu tidak segera mencuat diujung pikirannya? Mengapa malam ini rasanya sang ide sedang berjalan menjauhinya? Mengapa? Siapa yang salah?
Setengah jam berlalu dan penanya masih terpatri disana. Noda titik itu semakin membesar dan noda titik itu mulai mengganggu pikirannya. Noda itu, yang semakin membesar, terasa semakin menutup celah-celah ide dari pikirannya.
Akhirnya dia menyerah. Meletakkan penanya disamping buku catatan bergambar pemandangan laut yang kaku. Dia menyenderkan punggungnya, dan kursi kayu itu mengalirkan kesejukan disekitar kulit punggungnya yang hanya terlapis baju tidur berbahan sutra buatan. Dia mengambil sebatang rokok, menyulutnya, lalu melemparkan pandangan matanya kelangit hitam diluar sana melalui jendela kamarnya, sembari menghembuskan asap rokok dari hisapannya yang pertama.
Kosong...dia merasa kosong.
Tidak ada bayangan yang hadir dalam tatapannya yang kosong itu dan dia benar-benar merasa kosong. Kosong ini benar-benar mematikannya. Hatinya..jiwanya..raganya..bahkan idenya..
Hisapan demi hisapan dari rokoknya, dia coba nikmati dengan sepenuh hati. Sebenarnya dia hanya ingin mencoba merasakan sesuatu, agar dia tetap yakin bahwa dia masih eksis sampai dengan saat ini. Hisapan dan hembusan dari rokok itu, membantunya merasakan ke-eksistensi-an nya. Akhirnya rokok itu sampai juga pada hembusan terkhirnya, dan kembali, dia merasa kosong.
Dia menatap buku catatan didepannya dan juga pena disebelahnya, yang dengan manisnya bertahta diatas meja, seakan meja itu adalah kerajaan mereka yang megah, tentram dan damai, dengan si buku menjadi raja dan pena permaisurinya. Tapi wajah dari keduanya seakan menyiratkan kesedihan. Mereka berdua seakan merasa kecewa, malam ini tidak dapat mengukir sebuah karya. Kecewa, karna malam ini, bukannya menciptakan sebuah tulisan yang anggun, tapi malahan hanya sebuah noda titik besar tanpa makna. Dan dia merasa bersalah kepada kedua benda itu. "Maaf...sepertinya tidak untuk malam ini.." hanya itu yang tersirat dari suara batinnya saat dia menatap kedua benda cantik itu.
Lalu dia beranjak dari kursinya, dengan sedikit menyeret langkahnya, dia berjalan gontai keperaduannya. Menghempaskan tubuh letihnya keatas ranjang dingin itu, meraih guling dan mendekapnya erat. Kosong itu semakin menjadi-jadi, membesar seperti noda titik didalam bukunya itu. Tanpa terasa air mata itu kembali mengalir disudut matanya yang mulai sayu.
Air mata ini lagi..
Kekosongan ini lagi...
Satu malam lagi ditemani dengan hal-hal seperti ini.
Dia memejamkan matanya kuat-kuat dan air mata itu semakin terdorong keluar. Malam ini dia tidak ingin menahan air matanya, seperti malam-malam biasanya. Dia ingin air matanya mengalir keluar sebanyak yang tertampung dimatanya, berharap air mata itu habis dimalam ini, dan kelak dia tidak akan mempunyai air mata lagi untuk dikeluarkan, sehingga dia tidak perlu lagi menuduh dirinya sebagai manusia yang lemah dan cengeng.
Dia menangis hingga ia tertidur...
Hari ini didunia nyata, harinya sedang tidak baik. Semoga dialam mimpi dia jauh lebih beruntung. Dapat bertemu tujuh malaikat yang menyenandungkan lagu dan syair-syair lentik. Menemukan taman dengan berpuluh jenis bunga yang menebarkan wangi semerbak yang dapat membuat hatinya merasa tenang, dan yang terpenting tidak lagi kosong.
Semoga dia dapat merasa.
Semoga alam mimpi dapat membuainya diakhir hari.
Dan semoga esok menjadi lebih baik.
Semoga...
KOMENTAR
Posted by m3ntar!jing9a on 2008-08-21 Entah kenapa tuhan menciptakan malam..
ketika hanya ada sunyi dan sepi yang menemani, dinginnya bahkan membekukan setiap jiwa yang sedang merana.
Lalu kenapa ada malam..
saat mereka yang merasa sendiri semakin terasing diantara sunyinya.
Malam.. membuat luka semakin terasa pedih..
tapi bukankah karena itu, malam menjadi terasa begitu indah???
| |