<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Media Anak Muda Bali</title>
	<atom:link href="http://www.iloveblue.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.iloveblue.com</link>
	<description>Just another WordPress site</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Apr 2013 15:34:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Solidaritas dari Bali untuk Rokatenda</title>
		<link>http://www.iloveblue.com/solidaritas-dari-bali-untuk-rokatenda/</link>
		<comments>http://www.iloveblue.com/solidaritas-dari-bali-untuk-rokatenda/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Apr 2013 07:37:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ragam berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bali Blogger Community]]></category>
		<category><![CDATA[gunung berapi]]></category>
		<category><![CDATA[Nusa Tenggara Timur]]></category>
		<category><![CDATA[Rokatenda]]></category>
		<category><![CDATA[Sikka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iloveblue.com/?p=25250</guid>
		<description><![CDATA[Rokatenda mungkin nama yang baru kita dengar. Tapi, dia tetap bagian dari Indonesia. Desa di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini juga bagian dari kita. Toh, berita tentang gunung berapi di sana yang meletus sejak Oktober 2012 dan mengakibatkan ribuan orang mengungsi tak terlalu banyak di media. Juga tentang mereka yang mati oleh gunung [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-25254" alt="Solidaritas dari Bali untuk Rokatenda" src="http://www.iloveblue.com/wp-content/uploads/2013/04/foto-rokatenda.jpg" width="600" height="400" /></p>
<p>Rokatenda mungkin nama yang baru kita dengar.</p>
<p>Tapi, dia tetap bagian dari Indonesia. Desa di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini juga bagian dari kita.</p>
<p>Toh, berita tentang gunung berapi di sana yang meletus sejak Oktober 2012 dan mengakibatkan ribuan orang mengungsi tak terlalu banyak di media. Juga tentang mereka yang mati oleh gunung berapi ataupun ketika mengungsi.</p>
<p>Rokatenda, juga manusia-manusia yang mengungsi dan kelaparan di sana, tenggelam di antara ingar bingar berita tentang perseteruan politisi, penyerbuan penjara, dan semacamnya. Maka, mari sejenak mengingat dan membagi kepedulian kepada mereka, korban letusan gunung berapi di Rokatenda.</p>
<p>Dari Bali, mari kita sumbangkan tak hanya doa tapi juga dana untuk mereka. Bali Blogger Community (BBC) mengundang kita semua turut serta dengan menyumbang lewat rekening:</p>
<p><strong>Ni Nyoman Arie Suriasih</strong><br />
<strong>BCA Denpasar #1461554551</strong></p>
<p>Seluruh hasil pengumpulan sumbangan dari Bali akan diteruskan melalui komunitas blogger di NTT, Flobamora, dengan pertanggung jawaban kepada publik melalui blog dan jejaring sosial.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh: Anton Muhajir<br />
Sumber: <a title="Solidaritas dari Bali untuk Rokatenda" href="http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2013/04/02/solidaritas-dari-bali-untuk-rokatenda.html" target="_blank">BaleBengong.net</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iloveblue.com/solidaritas-dari-bali-untuk-rokatenda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bhagavad-gītā Bab 1 Śloka 6</title>
		<link>http://www.iloveblue.com/bhagavad-gita-bab-1-sloka-6-2/</link>
		<comments>http://www.iloveblue.com/bhagavad-gita-bab-1-sloka-6-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2013 09:26:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hindu dan Adat Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iloveblue.com/?p=25245</guid>
		<description><![CDATA[(Bagian 1) Oleh : Rasa Acharya Prabhu Darmayasa Yudhāmanyuś ca vikrānta uttamaujāś ca vīryavān saubhadro draupadeyāś ca sarva eva mahārathāḥ Arti Kata: Yudhāmanyuḥ : Yudhāmanyu ca : juga vikrānta : sangat perkasa uttamaujāḥ : Uttamauja ca : juga vīryavān : pemberani saubhadro : putra Subhadrā draupadeyāḥ : putra-putra Draupadī ca : juga sarva : semua [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>(Bagian 1)<br />
Oleh : Rasa Acharya Prabhu Darmayasa</strong></p>
<p><em>Yudhāmanyuś ca vikrānta uttamaujāś ca vīryavān saubhadro draupadeyāś ca sarva eva mahārathāḥ</em><br />
Arti Kata: Yudhāmanyuḥ : Yudhāmanyu<br />
ca : juga<br />
vikrānta : sangat perkasa<br />
uttamaujāḥ : Uttamauja<br />
ca : juga<br />
vīryavān : pemberani<br />
saubhadro : putra Subhadrā<br />
draupadeyāḥ : putra-putra Draupadī<br />
ca : juga<br />
sarva : semua<br />
eva : adalah<br />
mahārathāḥ : ksatria hebat dalam pertempuran</p>
<p>Terjemahan: <em>Hadir pula ksatria-ksatria hebat seperti Yudhāmanyu yang pemberani dan Uttamauja yang sangat kuat, dan juga putra Subhadrā serta putra-putra Draupadī. Mereka semua adalah ksatria hebat dalam pertempuran.</em></p>
<p>Catatan:<br />
Pada śloka ini disebutkan daftar para ksatria hebat (mahāratha) yaitu dua orang ksatria Pañcala, putra Subhadrā dan putra-putra Drupadī.</p>
<p>“Yudhāmanyuś ca vikrānta uttamaujāś ca vīryavān” – kata vikrānta (pemberani) ditujukan kepada Yudhāmanyu dan kata vīryavān (kuat, pemberani) ditujukan kepada Uttamauja. Keduanya adalah putra raja Pañcala, sebuah kerajaan besar pada akhir zaman Dvāpara Yuga. Di sebelah utara dibatasi oleh pegunungan Himālaya, di sebelah timur oleh hutan suci Naimiśaraṇya, tempat ribuan maharṣi pada zaman dahulu bertapa, di sebelah selatan dibatasi oleh sungai Carmanvatī dan di barat oleh kerajaan Matsya, Kuru dan Śurasena. Setelah terjadi perselisihan antara Mahārāja Drupada dengan Droṇa Ᾱcārya, Pañcala dibagi menjadi dua; satunya oleh Mahārāja Drupada dan bagian Utara Pañcala diperintah oleh putra Droṇa, Aśvāthāma.</p>
<p>Di sini, nama Yuddhāmanyu dijejer bersama dengan kata vikrānta. Yuddāmanyu disebutkan sebagai ksatria yang sangat kuat dan saudaranya yang bernama Uttamauja sebagai ksatria sangat pemberani (vīryavān). Keśavakaśmi Bhattācārya dalam Tatva-prakāśikā-nya setuju dengan hal ini (yuddhāmanyor vikrānta iti. Uttamaujaso vīryavān iti). Madhusūdana Sarasvati dalam Guḍhārthadīpikā-nya juga berpendapat yang sama (vikrānto yuddhāmanyuḥ vīryavānścottamaujā iti dvau). Dhṛṣṭadyumna memberikan tugas kepada mereka berdua untuk menjaga kanan-kiri kereta Arjuna. Uttamauja menjaga keselamatan roda kereta bagian kanan dan Yudhāmanyu menjaga bagian kiri. Belakangan tugas tersebut digantikan oleh Sātyakī dan Dhṛṣṭadyumna.</p>
<p>Diberikan nama Uttamauja karena ia adalah seorang anak pilihan, sangat baik dan yang maha utama (uttama), digabung dengan kata Ojah (berarti kekuatan tenaga dalam, inner power) menjadi Uttamaujah, seorang anak yang sangat utama dan memiliki kekuatan tenaga dalam maha hebat. Śankarānanda dalam Tātparyabodhinī-nya menegaskan Uttamauja sebagai ksatria sangat hebat (uttamojo balaṁ yasya sa uttamaujāḥ pāñcālaḥ vīryavān). Saat ia bertempur, ia akan membangkitkan kekuatan tenaga dalamnya dan ia bertempur sebagai meditasi atau sembahyang baginya, sebagai persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa.</p>
<p>Dalam peperangan Kurukṣetra Uttamauja bertempur dan mengalahkan Suśena, putra Karṇa dan Yudhāmanyu membunuh Citrasena, saudara Karṇa. Yudhāmanyu dan Uttamauja akhirnya dibunuh bersama-sama dengan lima orang putra Drupadī setelah perang Bharatayuddha berakhir, di hari ke- 18 perang Kurukṣetra dengan cara sangat keji. Aśvātthāmā dengan cara sangat licik di tengah malam mendatangi kemah musuh dan menggorok Yuddhāmanyu, Uttamauja serta kelima putra Drupadī di dalam kemahnya ketika mereka sedang tertidur.</p>
<p>“Saubhadro draupadeyāś ca sarva eva mahārathāḥ” – putra Subhadrā yaitu Abhimanyu (saubhadro’bhimanyuḥ) dan kelima putra Drupadī (draupadeyāḥ) semua adalah ksatria Mahārathī. Bhāvaprakāśa dari Sadānanda menyebutkan bahwa putra Subhadrā yang dimaksud adalah Abhimanyu (saubhadraḥ subhadrāputro’bhimanyuḥ) dan draupadeyāḥ dimaksud adalah kelima putra Drupadī (draupadeyāḥ drupadīputrāḥ prativindhyādayaḥ pañca).</p>
<p>Dalam kitab Viṣṇu Purāṇa disebutkan pula terdapat nama Abhimanyu lain yang adalah putra dari Manu Cakṣusā dengan istrinya bernama Naḍvalā.</p>
<p>Abhimanyu yang Saubhadrā-putra pada hidup lalunya adalah putra Dewa Soma bernama Varcas. Ia dikirim ke dunia ini untuk tujuan tertentu selama 16 tahun. Menurut cerita, itulah sebabnya ia terbunuh di medan perang Kurukṣetra pada usianya yang ke-16.</p>
<p>Abhimanyu dan ibunya, Subhadrā dipelihara oleh Kṛṣṇa di Dvārikā pada waktu Pāṇḍava menjalani pengasingannya. Ia diajarkan ilmu peperangan oleh putra Kṛṣṇa, Pradyumna dan juga oleh Satyaki, Kṛtavarma dan lain-lain. Bimbingan Kṛṣṇa dan Baladeva sejak kecil membuat ia menjadi seorang ksatria sejati setingkat Mahārathī. Dalam peperangan Bharatayuddha ia menunjukkan kegagahan dan keberanian luar biasa. Ia dipuji tidak hanya oleh pihaknya tetapi juga oleh pihak musuh, Kaurava. Ia sendirian berhasil menghancurkan hampir satu akṣauhiṇi pasukan Kaurava.</p>
<p>Keksatriaan dan gelar Mahārathī-nya menjadi nyata ketika pada hari ke-13 perang Kurukṣetra, Abhimanyu menembus formasi Cakravyūha yang digelar oleh Droṇācārya. Formasi pasukan perang yang bernama Cakravyūha adalah formasi yang sangat hebat dan mustahil untuk ditembus oleh musuh. Selain Abhimanyu, hanya tiga orang lagi yang mampu menembus formasi Cakravyūha maha kuat dan sangat rapi itu, yaitu Arjuna, Kṛṣṇa dan Pradyumna. Setelah berhasil menembus Cakravyūha, Abhimanyu mengamuk dan sendirian ia menghancurkan hampir satu akṣauhiṇi pasukan Kaurava (Satu Akṣauhiṇi pasukan terdiri dari 21870 kereta perang, 21870 gajah, 65610 kuda dam 109350 orang tentara).</p>
<p>Kaurava akhirnya terpaksa menerapkan ilmu “keroyok”-nya. Seorang anak muda usia 16 tahun dikeroyok oleh para ksatria maha hebat seperti Droṇa, Kṛpācārya, Karṇa, Śakuni, Duryodhana, Bhagadatta, Aśvatthāmā, Śalya, Kṛtavarmā, Bṛhadbala dan lainlain. Melihat kemampuan Duryodhana sudah tidak memungkinkan memenangkan pertempuran akhirnya (atas hasutan Śakuni) Droṇa mengatakan bahwa Abhimanyu hanya bisa dikalahkan melalui cara tidak ksatria.</p>
<p>Karṇa, setelah mendapat aba-aba dari pemimpin perangnya, secara diam-diam dan licik segera memanah dan menghancurkan tali busur Abhimanyu dari belakang. Sedangkan di saat yang sama, dari arah depan Droṇa membunuh kuda-kuda dan kusir kereta Abhimanyu, Sumitra. Mulailah terjadi pengeroyokan seorang anak muda oleh para ksatria kuat tak terkalahkan. Abhimanyu diserang dengan berbagai senjata dari segala arah. Akhirnya dalam pengeroyokan tersebut ia gugur oleh serangan terakhir oleh putra Dusśāsana bernama Durmaśana. Sumber lain menyebutkan nama putra Dusśāsana dengan nama Saindhava.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>sumber: http://mediahindu.net/berita-dan-artikel/artikel-umum/155-bhagavad-gt-bab-1-loka-6.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iloveblue.com/bhagavad-gita-bab-1-sloka-6-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Tuhan Semua Agama Sama</title>
		<link>http://www.iloveblue.com/apakah-tuhan-semua-agama-sama-2/</link>
		<comments>http://www.iloveblue.com/apakah-tuhan-semua-agama-sama-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2013 09:24:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hindu dan Adat Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iloveblue.com/?p=25243</guid>
		<description><![CDATA[Persamaan Pendapat. Pada dasarnya semua agama mengajarkan keyakinan seperti dibawah ini : Tuhan adalah yang menciptakan semesta alam dan seisinya. Tuhan adalah yang menghidupi semua mahluk hidup. Tuhan adalah yang berkuasa atas semesta alam dan semua mahluk hidup. Tuhan adalah yang menjadi penyembahan dan pemujaan umat manusia. Tuhan adalah yang Maha Esa. Khusus di Indonesia [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Persamaan Pendapat.</strong><br />
Pada dasarnya semua agama mengajarkan keyakinan seperti dibawah ini : Tuhan adalah yang menciptakan semesta alam dan seisinya. Tuhan adalah yang menghidupi semua mahluk hidup. Tuhan adalah yang berkuasa atas semesta alam dan semua mahluk hidup. Tuhan adalah yang menjadi penyembahan dan pemujaan umat manusia. Tuhan adalah yang Maha Esa. Khusus di Indonesia semua agama sepakat dengan butir kelima yang menjadi sila pertama dari Pancasila yaitu KeTuhanan Yang Maha Esa.Akan tetapi apakah masing masing umat beragama memahami bahwa Tuhannya berbeda dengan Tuhan umat beragama lain? Jawabannya perlu pembahasan dibawah ini.</p>
<p><strong>Perbedaan Pendapat.</strong><br />
Perbedaan bahasa. Masing masing bangsa (umat) menyebut Tuhan sesuai dengan bahasanya, seperti : Yahudi menyebut dengan nama Yahweh, Arab dengan nama Allah, Hindia – Brahman, Inggris – God, Yunani – Deo, Bali – Sang Hyang Widhi, Sunda ada yang menyebut Gusti, Jawa dengan berbagai sebutan seperti Pangeran, Hyang Manon, Hyang Widhi, Suksma Kawekas, dll. Termasuk bangsa bangsa lain diseluruh dunia ini menyebut sesuai dengan bahasanya.</p>
<p>Pertanyaannya adalah apakah kalau sebutannya berbeda, dapat dikatakan Tuhannya juga berbeda? Jawabannya perlu uraian dibawah ini.</p>
<p>Umat beragama di dunia ini terutama yang berakal sehat, berpendapat bahwa meskipun berbeda agama, Tuhan tetap sama, karena keyakinan seperti tersebut di bab A. Perbedaan hanya karena bahasa atau sebutannya saja.</p>
<p>Namun ada sebagian umat agama tertentu yang berpendapat bahwa Tuhan yang benar adalah yang sesuai dengan bahasanya atau sebutannya. Dinyatakan bahwa Tuhan yang benar adalah yang sebutannya A, kalau sebutannya B, D, G, H, S dan Y maka itu Tuhan yang salah. Pertanyaannya adalah bagaimana Tuhan Yang Maha Esa, yang memiliki semesta alam seisinya termasuk seluruh bahasa didunia ini, menyikapi pernyataan agama tertentu tersebut?</p>
<p>Tuhan Yang Maha Luhur dan Maha Kasih, sumber segala ilmu lahir dan batin, yang mengatur setiap kejadian seperti kejadian adanya berbagai agama dan berbagai bahasa di dunia ini, pastinya menerima seluruh umat manusia yang menganut berbagai agama dan menggunakan berbagai bahasa dengan tanpa pilih kasih. Ibarat eorang ibu yang memiliki banyak anak, tidak akan membeda bedakan kasih sayangnya meskipun ada salah satu anaknya yang merasa paling benar dan menganggap saudara saudaranya salah. Apalagi Tuhan yang memiliki berbagai umat dunia ini sebagai anak anakNya, tidak akan membeda bedakan satu sama lain, meskipun ada salah satu anakNya yang merasa paling baik. Tuhan Yang Maha Mulia tentu juga tidak terprovokasi oleh yang suka menjelek jelekkan saudara saudaranya. Tapi Tuhan Maha Pengampun, maka mengampuni anakNya yang satu itu, maklum dulu lahir ditempat yang gersang dan panas sehingga bertemperamen keras. Akan tetapi Tuhan juga Maha Adil, maka anakNya yang paling berbakti mendapatkan anugerah berupa kelebihan dari pada yang lain, seperti kecerdasan, kecakapan, ketrampilan, dll kemampuan.</p>
<p>Jadi kesimpulannya Tuhan Yang Maha Esa ini tetap menjadi Tuhannya berbagai agama yang masing masing bisa saja menyebutNya dengan bahasa yang berbeda.</p>
<p><strong>Perbedaan pemahaman tentang Tuhan.</strong><br />
Pemahaman tentang (Ilmu) keTuhanan, meliputi segala aspek tentang Tuhan. SifatNya, KarsaNya, keMaha SegalaanNya dan keberadaanNya. Didalam ajaran Islam termasuk Tauhid, sedang didalam ajaran Hindu termasuk Tatwa. Tentunya Tuhan mengajarkan dasar dasar Ilmu keTuhanan yang sama untuk berbagai agama. Apabila terjadi perbedaan, karena pemahaman (penafsiran) yang berbeda. Jadi umat agama yang satu dalam menafsirkan ilmu keTuhanan bisa ada perbedaan dengan umat agama lainnya. Sehingga ada hal hal tertentu yang satu sama lain tafsirannya sama, ada hal hal lain yang tafsirannya berbeda. Bahkan dalam satu agamapun yang berbeda golongan, bisa terjadi beda tafsir. Penyebabnya disamping perbedaan ruang dan waktu, juga karena perbedaan tingkat spiritual dan perbedaan kemampuan daya pikir, yang resultantenya berupa perbedaan tingkat kesadaran berkeTuhanan. Gus Dur secara bergurau menceritakan ada 3 orang yaitu seorang pastur, seorang pendeta Hindu dan seorang kyai, berdialog tentang kedekatan umat dengan Tuhan. Sang pastur mengatakan bahwa umatnya memanggil Tuhan dengan sebutan Bapak, untuk menunjukkan kedekatannya, ibarat bapak dengan anak. Sang pendeta mengatakan bahwa umatnya memanggil Tuhan dengan sebutan Om (yang oleh Gus Dur diartikan sebagai paman), bukankah antara paman dengan keponakan juga dekat. Sang kyai tadinya diam saja, kemudian didesak untuk berpendapat, akhirnya mengatakan : ”Umat saya boro boro dekat dengan Tuhan, untuk memanggil saja harus bikin menara terlebih dulu, sudah itu teriak teriak meskipun sudah pakai pengeras suara, supaya Tuhan yang jauh dilangit sap 7 bisa mendengar”. Guyonan ini menyiratkan perbedaan prinsip tentang dimana Tuhan berada.</p>
<p>Sebagai contoh umat Hindu meyakini bahwa Tuhan sudah berada didalam hati manusia. Sedang umat Islam menafsirkan Tuhan berada di Arasy, yaitu bersinggasana di atas langit sap ke tujuh. Jika demikian apakah Tuhan umat Hindu berbeda dengan Tuhan umat Islam? Untuk menjawab perlu analogi.</p>
<p>Suatu ketika Kulkas, Setlika dan Kipas angin berdialog tentang Sumber tenaganya yaitu Listrik. Kulkas berkata: “Listrik itu dingin, buktinya aliran listrik menjadikan saya menjadi dingin”. Setlika membantah dengan mengatakan: “Kulkas kamu salah, Listrik yang benar itu panas, buktinya kalau Listrik datang, saya menjadi panas”. Kipas angin berpendapat lain lagi: “Listrik yang benar itu berputar dan menimbulkan angin yang segar. Kalau menjadikan rasa dingin atau panas itu bukan Listrik”. Ketiganya berbantah berdasarkan yang dirasakan sendiri, sehingga tak ada ujung penyelesaiannya. Sampai kemudian datang Sarjana Listrik memberikan pencerahan dengan mengatakan: “Kulkas, Setlika dan Kipas angin, kalian semuanya benar sesuai dengan yang masing masing alami dan rasakan. Oleh karena itu tidak perlu menyalahkan satu sama lain. Ketahuilah bahwa Listrik itu dapat menimbulkan dingin, panas dan angin sesuai dengan kapasitas dan potensi kalian masing masing. Bahkan lebih dari itu, bila Lampu berhubungan dengan Listrik dapat menimbulkan cahaya, bila Radio berhubungan dengan Listrik dapat menimbulkan suara, bila TV berhubungan dengan listrik dapat menimbulkan gambar dan masih banyak lagi kemampuan Sang Listrik, sekali lagi sesuai dengan kapasitas dan potensi masing masing”. Setelah mendapatkan pencerahan dari Sarjana Listrik maka ketiga saudara Kulkas, Setlika dan Kipas angin menjadi faham dan rukun kembali.</p>
<p>Demikian pula dengan pemahaman umat Islam, bahwa Tuhan berada di Arasy yaitu singgasana diatas langit sap tujuh. Sedang pemahaman umat Hindu, Tuhan berada didalam hati setiap manusia. Keduanya satu sama lain berbeda pemahaman, tetapi keduanya bisa benar, karena Tuhan meliputi semesta alam dan seisinya. Bahkan apabila ada anggapan Tuhan berada lebih jauh dari langit sap tujuh yaitu di ujung galaxy yang jaraknya dari bumi membutuhkan waktu jutaan tahun kecepatan cahaya, juga tidak salah karena Tuhan memang juga ada disana. Sebaliknya apabila ada pendapat bahwa Tuhan sudah menyatu didalam hati setiap umatnya, sebagaimana anggapan kelompok penghayat kepercayaan, juga tidak dapat disalahkan, karena sekali lagi, Tuhan meliputi semesta alam seisinya baik itu ditempat yang dekat sekali maupun ditempat yang jauh sekali. Orang Jawa bijak menyatukan dua pendapat yang berbeda itu dengan ungkapan : Cedak ora sesenggolan, adoh tanpa antara. Terjemahannya dekat tidak bersinggungan jauh tanpa jarak, yang artinya adalah bertunggalnya umat dengan Tuhan yang meliputi semesta alam seisinya.</p>
<p>Pengalaman penulis tahun 1996 ketika masih dinas di Surakarta, dengan staf berjumlah 40 PNS. Yang beragama Islam sebanyak 30 orang kami kumpulkan di ruang rapat dan ditanya : “Apakah Tuhan agama Kristen sama dengan Tuhan agama Islam?”. Hampir semuanya menjawab tidak sama, kecuali 3 orang yang termasuk Islam Abangan (yang sekedar tercantum di KTP beragama Islam) serta 1 orang penganut kepercayaan (juga ber KTP Islam) menjawab sama. Dilain waktu 10 orang yang beragama Kristen ketika ditanya : “Apakah Tuhan agama Islam sama dengan Tuhan agama Kristen?”. Semuanya menjawab sama. Sambil menguji, pertanyaan kami selanjutnya :”Bagaimana dengan pandangan umat Islam bahwa umat Kristen berTuhan 2 yaitu Tuhan Allah (Allah Sang Bapa) dan Tuhan Yesus (Allah Sang Putra)?”. Sejenak diam hingga ada beberapa orang yang menjawab yang apabila dirangkum jawabannya sbb :</p>
<p>Pada prinsipnya Kristen menganut satu Tuhan juga, sedang sebutan Tuhan Yesus (Allah Sang Putra) mengandung maksud :</p>
<p>Bahwa Yesus itu sudah sedemikian dekatnya dengan Allah, ibarat anak dengan bapak, maka disebut Allah Sang Putra. Kami semua ini kalau betul betul menjadi Kristen seperti yang diajarkan Yesus, juga dapat disebut Anak Allah, karena dekat dengan Allah, ibarat anak dengan bapak.</p>
<p>Sebutan Tuhan Yesus, untuk memberikan pemahaman dan keyakinan kepada umat Kristen bahwa Yesus itu tidak hanya dekat dengan Tuhan, bahkan Roh Yesus itu sudah menyatu dengan Tuhan. Sehingga segala sesuatu yang dirasakan, diucapkan dan dilakukan Yesus adalah Kehendak Tuhan, Keadilan Tuhan, Kebijaksanaan Tuhan dan Kekuasaan Tuhan.</p>
<p>Atas pertanyaan :”Kalau begitu mengapa tidak menyebut saja Tuhan Allah, sedang sebutan Tuhan Yesus tidak usah dipakai?”, jawabnya adalah sebutan Tuhan Yesus untuk menunjukkan identitas sebagai umat Kristiani, sekaligus untuk selalu mengingat Yesus sebagai Nabi, Utusan Tuhan, Juru Penolong, Juru Penghibur dan Juru Penuntun dijalan benar.</p>
<p>Dari rangkuman jawaban diatas, dapat ditambahkan bahwa ungkapan Yesus sebagai Anak Allah adalah kiasan, jadi bukan berarti anak biologis Tuhan. Sebutan Tuhan Yesus diberikan karena pada hakekatnya Yesus itu, mengambil istilah para penghayat kepercayaan, sudah mencapai tingkat Manunggaling Kawula Gusti, didalam ajaran Hindu disebut sebagai Moksha yaitu menyatunya Atman denga Brahman. Sedang Tuhan Yesus dan Tuhan Allah, bukan berarti ada 2 Tuhan. Seperti diagama Islam disebut Al Rahman, Al Rahiim, Al Malik, Al Quddus, Al Salaam, Al Mukmin, dstnya ada 99 nama didalam Asmaul Husna, bukan berarti Tuhan ada 99. Demikian pula didalam ajaran Hindu ada Brahma sebutan untuk Tuhan Yang Maha Pencipta, Wisnu sebutan untuk Tuhan Yang Maha Pemelihara dan Siwa sebutan untuk Tuhan Yang Maha Pelebur; bukan berarti Tuhan ada 3.</p>
<p><strong>Betulkah Ada Banyak Tuhan?</strong><br />
Sebagian besar umat Islam tingkatan awam, menyatakan bahwa Tuhan yang benar adalah yang satu, bukan 2 dan bukan 3, yang sebutannya Allah. Sang Hyang Widhi, Yahweh, Deo dan God adalah Tuhan agama lain! Pernyataan ini berarti bahwa mereka menganggap ada banyak Tuhan, yaitu Tuhannya agama lain. Ada Tuhan yang namanya Sang Hyang Widhi yang khusus menguasai kehidupan umat Hindu, ada Tuhan yang namanya Yahweh yang khusus mengatur nasib umat Yahudi, dstnya. Jadi bila penduduk dunia ini ada 7 milyard, maka Allah hanya berkuasa terhadap I,5 milyard yang beragama Islam, sedang yang 5,5 milyard dikuasai oleh Tuhan Tuhan lain yang sebutannya bukan Allah? Jika demikian halnya maka Tuhan yang telah menciptakan seluruh umat manusia yang berjumlah 7 milyard ini, tidak diakui oleh umat Islam yang Tuhannya hanya mencipta 1,5 M umat Islam?</p>
<p>Terlepas dari anggapan diatas, adalah suatu fakta (kenyataan) bukan sekedar kepercayaan, bahwa Tuhan Yang Maha Tunggal itu, yang tiada duanya, adalah yang menguasai dan mengatur kehidupan seluruh 7 milyard manusia apapun agamanya dan apapun sebutan yang diberikan kepada Tuhan. Bahkan yang tidak berTuhan atau yang tidak percaya kepada Tuhanpun, tetap dikuasai oleh Tuhan.</p>
<p>Dalam kehidupan sehari hari yang dialami orang perorang, meskipun untuk hal yang sangat sepele sekalipun, tidak bisa lepas dari Kekuasaan Tuhan, Keadilan Tuhan dan Kehendak Tuhan. Jadi sekecil apapun kebaikan akan memperoleh balasan kebaikan, sekecil apapun keburukan akan memperoleh balasan keburukan, inilah bukti Keadilan Tuhan. Didalam ajaran Hindu termasuk bagian dari Hukum Karma, meskipun para kyai dan ustadz mengatakan ajaran Islam tidak ada Hukum Karma, namun setiap umat Islam tetap tidak dapat lepas dari Hukum Karma, termasuk terhadap para kyai itu. Bahkan tujuan hidup umat Hindu yaitu Moksha (Manunggaling Kawula Gusti) adalah tujuan akhir dari setiap Ruh umat Islam juga, meskipun tidak disadarinya. Seperti reinkarnasi, tidak hanya terjadi pada umat Hindu dan Budha, tetapi seluruh umat manusia yang beragama Islam dan Kristen, bahkan yang tidak beragama dan yang tidak percaya reinkarnasi, akan mengalami reinkarnasi itu. Jadi meskipun umat Islam tidak mempercayai dan tidak menyadari bahwa Tuhannya dapat melakukan reinkarnasi terhadap mereka, namun Allah tetap melakukan reinkarnasi terhadap mereka. Apalagi doa bagi yang meninggal dunia hanya sebatas :”Kembali disisi Tuhan”, berarti meninggal belum sempurna, maka perlu dihidupkan kembali didunia sekali atau berkali kali lagi sampai pada tingkat meninggal yang sempurna yaitu : “ Bertunggal dengan Tuhan”. Penalaran spiritual mengatakan, kalau begitu umat Islam tidak pernah sampai pada tingkat bertunggal dengan Tuhan karena memahami saja belum, oleh karena itu setelah meninggal selalu dihidupkan kembali sampai memperoleh keberuntungan masuk dalam keluarga Hindu, sehingga mencapai tingkat kesadaran tertinggi yaitu bercita cita untuk bertunggal dengan Tuhan. Oleh karena itu keluarga Hindu harus menerima dengan tulus dan ikhlas, jiwa jiwa orang Islam yang telah meninggal dan hidup kembali (mungkin menjadi anak atau cucu) agar kematian berikutnya mencapai kesempurnaan, yaitu moksha. Sebab kalau hidup kembali tetap berada di keluarga Islam, kasihan sekali, tidak akan dapat bertunggal dengan Tuhan. Lebih kasihan lagi yang dulunya sudah Hindu, kemudian hidup kembali sebagai orang Islam. Inilah yang dialami oleh mayoritas orang Jawa dan Sunda yang hidup diabad ini.</p>
<p><strong>Kesimpulan.</strong><br />
Masing masing umat beragama pada dasarnya meyakini bahwa semesta alam dan seisinya, termasuk 7 milyard manusia ini, diciptakan dan dikuasai oleh Tuhan Yang Maha Esa.</p>
<p>Tuhan Yang Maha Tunggal, sebagai satu satunya pencipta kejadian, termasuk menciptakan kejadian berbagai bahasa dan agama, adalah tetap menjadi satu satunya Tuhan yang dipercayai dan disembah oleh semua umat beragama, meskipun masing masing menyebut dengan nama yang berbeda, sesuai dengan bahasa atau sebutan yang dianut oleh masing masing agama.</p>
<p>Perbedaan ajaran agama sebaiknya disikapi secara positif, sebagai pentahapan tingkat kesadaran yang berjenjang. Selayaknya yang berada ditingkat kesadaran diatas dapat memahami yang masih berada ditingkat kesadaran dibawahnya. Sebaliknya, tidaklah menjadi masalah apabila yang masih berada ditingkat bawah tidak dapat memahami yang diatasnya, karena hal ini adalah wajar. Sehingga apabila ada agama baru yang mengajarkan tingkat kesadaran berkeTuhanan yang masih rendah dengan menganggap Tuhannya yang paling benar dan agamanya yang paling baik, tidak perlu disikapi dengan cara yang sama oleh umat agama yang lebih tua. Mudah mudahan dengan melalui proses reinkarnasi, tahap demi tahap dapat mencapai tingkat kesadaran berkeTuhanan yang tertinggi, yaitu bertunggal dengan Tuhan Yang Maha Esa.</p>
<p><strong><em>&#8220;Selama Tuhan tampak di luar dan jauh sekali, selama itu ada kebodohan. Tetapi di mana Tuhan direalisasikan di dalam, itu adalah pengetahuan yang benar.&#8221; Sri Ramakrishna Paramahamsa (1836-1886)</em></strong></p>
<p>sumber: http://mediahindu.net/berita-dan-artikel/artikel-umum/152-apakah-tuhan-semua-agama-sama.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iloveblue.com/apakah-tuhan-semua-agama-sama-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jejak Hindu-Buddha di Sumatera Utara Makin Kuat</title>
		<link>http://www.iloveblue.com/jejak-hindu-buddha-di-sumatera-utara-makin-kuat/</link>
		<comments>http://www.iloveblue.com/jejak-hindu-buddha-di-sumatera-utara-makin-kuat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2013 09:21:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hindu dan Adat Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iloveblue.com/?p=25240</guid>
		<description><![CDATA[MANDAILING NATAL, KOMPAS.com — Jejak agama Hindu di Sumatera Utara makin kuat. Peneliti Balai Arkeologi Medan dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional menemukan jejak baru di Kabupaten Mandailing Natal, sekitar 400 kilometer tenggara Medan. &#8220;Jejak ini melengkapi situs Hindu-Buddha yang sudah ada. Kami meyakini jejak ini lebih tua dari situs Candi Bahal di Kabupaten [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>MANDAILING NATAL, KOMPAS.com — Jejak agama Hindu di Sumatera Utara makin kuat. Peneliti Balai Arkeologi Medan dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional menemukan jejak baru di Kabupaten Mandailing Natal, sekitar 400 kilometer tenggara Medan.</p>
<p>&#8220;Jejak ini melengkapi situs Hindu-Buddha yang sudah ada. Kami meyakini jejak ini lebih tua dari situs Candi Bahal di Kabupaten Padang Lawas. Jejak Candi Simangambat kemungkinan ada sejak abad ke-9 sampai 10,&#8221; tutur peneliti Balai Arkeologi Medan, Eri Sudewo, Kamis (25/6), saat dihubungi dari Medan.</p>
<p>Eri mengatakan, tim peneliti berhasil menemukan struktur candi secara jelas. Struktur candi ini bisa dilihat dari susunan batu bata merah di bagian dalam dan batu pasir di bagian luar. Peneliti bisa melihat struktur batu berhias, baik di tangga candi, maupun juga di ambang pintu candi.</p>
<p>Keberadaan candi ini sekaligus melengkapi kekayaan jejak agama Hindu-Buddha di Sumut. Selama ini, situs Hindu-Buddha yang paling populer di Sumut terletak Candi Bahal, Padang Lawas (sebelumnya Kabupaten Tapanuli Selatan).</p>
<p>Penelitian di Candi Simangambat ini pernah dilakukan sejak 2008. Penelitian ini merupakan yang kedua kalinya di tempat yang sama. Candi Simangambat terletak di sekitar 20 kilometer selatan Kota Panyabungan (ibu kota Mandailing Natal). Letak candi ini sekitar 200 meter sebelah barat Sungai Muara Jada.</p>
<p>Menurut Eri, struktur bangunan dan motif candi yang ada di dinding candi mirip dengan Candi Sewu di Jawa Tengah. Dia menjelaskan, Candi ini memiliki kaitan erat dengan nama Mandailing seperti yang tertera di Kitab Negara Kertagama karya Empu Prapanca. Kitab yang ditulis pada 1365 ini menyebut nama Mandailing sebagai nama sebuah kawasan di tempat ini.</p>
<p>Lokasi candi berada di wilayah budaya Mandailing menjadi identitas budaya di kawasan.</p>
<p>Tarombo</p>
<p>&#8220;Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan adanya peradaban lebih tua dari tarombo (legenda) suku Batak. Keberadaan candi ini membuktikan adanya pesebaran manusia sebelum adanya migrasi orang Batak dari utara. Dalam tarombo, pesebaran ini paling tidak terjadi abad ke-15, padahal abad ke-10 sudah ada masyarakat yang menghuni tempat ini,&#8221; katanya.</p>
<p>Penelitian ini diikuti oleh 16 orang yang terbagi dalam dua tim. Penelitian rencananya berakhir pada 30 Juni 2009. Berdasarkan data Balai Arkeologi Medan, situs Simangambat berupa gundukan batuan terletak di tanah kosong; di tengah perkampungan warga. Pada 1920, peneliti Belanda bernama Bosch dan Schintger sudah menyebutkan adanya situs ini. Sebelumnya, pada 2008, tim Balai Arkeologi Medan menemuan keramik di abad ke-12 di sekitar candi.</p>
<p>Penemuan ini sekaligus menguatkan dugaan adanya kontak budaya masyarakat setempat dengan bangsa lain. Ketika itu, peneliti belum menemukan jawaban siapa yang membangun dan untuk siapa bangunan candi didirikan? Bagaimana struktur pemerintahan saat itu dan siapa yang berkuasa di tempat itu?</p>
<p>Sebelumnya, antropolog Universitas Sumatera Utara (USU) pernah mengatakan candi ini satu dari sekian banyak jejak sejarah di Kabupaten Mandailing Natal yang belum terungkap. Di beberapa tempat di Mandailing Natal masih menyimpan peninggalan bersejarah. Sayang sekali, benda bersejarah itu sebagian digunakan warga untuk keperluan pembangunan perumahan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>sumber: http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,11826.0.html?PHPSESSID=rup46ec2a1o719686vunfuv1v1</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iloveblue.com/jejak-hindu-buddha-di-sumatera-utara-makin-kuat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Budaya Hindhu Di Aceh</title>
		<link>http://www.iloveblue.com/budaya-hindhu-di-aceh/</link>
		<comments>http://www.iloveblue.com/budaya-hindhu-di-aceh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2013 08:39:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hindu dan Adat Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iloveblue.com/?p=25237</guid>
		<description><![CDATA[Pengaruh hindu di Aceh telah terjadai semenjak zaman purbakala seperti yang ditulis oleh ahli-ahli ketimuran Belanda dalam beberapa buku tentang sejarah budaya Aceh ( Prof Dr H Aboebakar Atjeh: 1972 ). Adat dan budaya Aceh yang kental dengan nuansa Islam, masih dipengaruhi oleh tradisi hindu. Hal ini disebakan, sebelum Islam masuk, Hindu telah berkembang di [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Pengaruh hindu di Aceh telah terjadai semenjak zaman purbakala seperti yang ditulis oleh ahli-ahli ketimuran Belanda dalam beberapa buku tentang sejarah budaya Aceh</p>
<p>( Prof Dr H Aboebakar Atjeh: 1972 ).</p>
<p>Adat dan budaya Aceh yang kental dengan nuansa Islam, masih dipengaruhi oleh tradisi hindu. Hal ini disebakan, sebelum Islam masuk, Hindu telah berkembang di Aceh. Setelah Islam masuk, unsur-unsur hindu dihilangkan, namun tradisinya masih ada yang dipertahankan sampai sekarang.</p>
<p>Asimilasi budaya Aceh, pernah disinggung oleh Teuku Mansoer Leupeung, Uleebalang yang dikenal sebagai pujangga. Dalam hikayat Sanggamara, tokoh yang hidup seangkatan dengan Teuku Panglima Pole mini mengisahkan.</p>
<p>Adat Aceh bak riwayat</p>
<p>Bacut sapat dudoe teuka</p>
<p>Peutama phon dalam kitab</p>
<p>Bangsa Arab nyang peuteuka</p>
<p>Nyang keudua bak Meulayu</p>
<p>Nibak hindu dengan Jawa</p>
<p>Nibak Cina na sigeuteu</p>
<p>Adat badu ngon Manila</p>
<p>Bangsa Jawa ngon Meulayu</p>
<p>Le that teungku keunan teuka</p>
<p>Hingga rame nanggroe makmu</p>
<p>Meurah breuh bu meuhai lada</p>
<p>Bak peukayan dum ban laku</p>
<p>Ureung hindu nyang peuteuka</p>
<p>Cuba tilek tingkah laku</p>
<p>Bajei Badu ladom pih na</p>
<p>Susoen bahsa Ara Meulayu</p>
<p>Barat timu bacut biza</p>
<p>Bahsa Arab na sigeuteu</p>
<p>Jampu bawu laen pih na</p>
<p>Senada dengan Teuku Mansoer Leupueng, menurut H Muhammad Said dalam makalah budayanya pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) II, Agustus 1972 menjelaskan, pada tahun 1891, seorang peneliti asing bernama G K Nieman sudah menemukan 150 kata dari bahasa Campa dalam bahasa Aceh. Demikian juga dengan bahasa Khmer ( Kamboja ) tetapi yang sangat dominan adalah bahasa Melayu dan bahasa Arab.</p>
<p>Tentang Hindu di Aceh, seperti yang pernah diungkapkan oleh sejarawan Belanda J.C Van Luer, mengatakan bahwa sejarah dan budaya Aceh sebelum kedatangan islam dan bangsa barat telah terisi dengan landasan hindu- sentris ( Indonesia Trade and Society, hal 261 )</p>
<p>Walau Islam telah kuat, sebahagian tradisi dan cara hidup hindu ada yang terus melekat pada masyarakat Aceh. Bahkan tradisi yang bersifat positif terus dipertahankan, seperti tradisi hidup bergotong royong dan berbagai tradisi lainnya yang kemudian unsur hidupnya diganti secara bertahap dengan syariat islam.</p>
<p>Tradisi-tradisi hindu yang telah diislamkan tersebut masih ada sampai sekarang, seperti pada acara khanduri laet ( kenduri laut ) yang dilakukan oleh para nelayan. Dulu pada acara khenduri laut ini, darah kerbau itu ditampung, asoe dalam ( organ dalam) kerbau tersebut beserta kepala, dibungkus kembali dengan kulitnya dan kemudian dihanyutkan ke tengah laut sebagai persembahan kepada penghuni laut.</p>
<p>Acara kenduri laut ini masih bertahan sampai sekarang, tetapi seiring dengan masuknya Islam, pemberi sesajen untuk penghuni laut dihilangkan, upacara pembuatan sesajennya diganti dengan kenduri dan doa bersama. Daging sapi atau kerbau yang disembelih tersebut dimakan bersama anak yatim dan fakir miskin agar hajatan yang dilakukan tersebut mendapat berkah.</p>
<p>Pemotongan ayam putih dan ayam hitam pada daka ( pintu air ) tambak oleh petani tambak sebelum panen juga merupakan sisa-sisa tradisi hindu yang masih dilakukan sampai sekarang oleh petani tambak tradisionil. Paha, hati dan dada ayam tersebut baik yang dimasak, dipanggang dan digoreng, bersama dengan masakan lainnya dibungkus dengan daun pisang terpisah-pisah kemudian disatukan dalam pelepah pinang yang dibentuk seperti sampan untuk dipasang pada pohon atau batang kayu ditengah tambak. Ini juga merupakan sisa-sisa tradisi hindu. Kini acara ini mulai diganti dengan makan dan berdoa bersama anak yatim sebelum tambak panen.</p>
<p>Selain itu peusijuek (tepung tawar) barang-barang berharga yang baru dibeli seperti kereta dan mobil, dengan menggunakan berbagai jenis rumput. Dengan akar rumput tersebut yang telah diikat, air dipercikkan ke barang yang ditepung tawarkan.. Acara peusoen atau peusijeuk orang yang baru sembuh dari sakit atau pulang dari bepergian jauh juga merupakan sisa-sisa tradisi hindu.</p>
<p>Begitu juga acara belah kelapa pada saat peutreun aneuk miet ( membawa keluar rumah bayi pertama kali ) juag merupakan tradisi-tradisi hindu yang masih ada sampai sekarang dalam kehidupan masyarakat Aceh. Dalam berpakaian, tusuk konde pada sanggul wanita juga merupakan tata cara berpakain hindu yang membudaya dalam masyarakat Aceh sampai sekarang.</p>
<p>Malah ada yang lebih kental lagi dan dilarang dalam islam, seperti pemujaan terhadap pohon-pohon besar dengan cara menggantungkan bunga-bungaan yang diikat dengan berbagai benang pada cabang pohon oleh para pemuja sihir, itu juga merupakan budaya hindu.</p>
<p>Menurut keterangan H.M. Zainuddin dalam tulisannya â€œAceh Dalam Inskripsi dan Lintasan Sejarah â€œ. Sebelum Islam masuk ke Aceh, di Aceh telah berkembang kota-kota kerajan hindu seperti : Kerajaan Poli di Pidie yang berkembang sekitar tahun 413 M. Kerajan Sahe sering juga di sebut Sanghela di kawasan Ulei Gle dan Meureudu, kerajan ini terbentuk dan dibawa oleh pendatang dari pulau Ceylon. Kerajaan Indrapuri di Indrapuri. Kerajaan Indrapatra di Ladong. Kerajaan Indrapurwa di Lampageu, Kuala pancu.</p>
<p>Semua kota-kota hindu tersebut setelah islam kuat di Aceh dihancurkan. Bekas-bekas kerajaan itu masih bisa diperiksa walau sudah tertimbun, seperti di kawasan Paya Seutui, Kecamatan Ulim ( perbatasan Ulim dengan Meurah Dua ), reruntuhan di Ladong.</p>
<p>Bahkan menurut H M Zainuddin, mesjid Indrapuri dibangun diatas reruntuhan candi. Pada tahun 1830, Haji Muhammad, yang lebih dikenal sebagai Tuanku Tambusi juga meruntuhkan candi-candi dan batunya kemudian dimanfaatkan untuk membangun mesjid dan benteng-benteng.***Gus Welirang</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>sumber: http://agamakejawen.blogspot.com/2010/08/budaya-hindhu-di-aceh_6688.html?spref=fb</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iloveblue.com/budaya-hindhu-di-aceh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kremasi Jenazah Suku Karo Tempo Dulu</title>
		<link>http://www.iloveblue.com/kremasi-jenazah-suku-karo-tempo-dulu/</link>
		<comments>http://www.iloveblue.com/kremasi-jenazah-suku-karo-tempo-dulu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2013 08:37:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hindu dan Adat Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iloveblue.com/?p=25235</guid>
		<description><![CDATA[Tradisi pembakaran mayat atau kremasi jenazah telah dikenal oleh masyarakat suku Karo yang dikenal dengan adat Sirang-sirang. Tradisi ini dilaksanakan oleh suku Karo marga Sembiring. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh Hindu dalam budaya suku Karo terutama marga Sembiring yang menurut beberapa ahli sejarah berasal dari India. Menurut Brahma Putro, menyebutkan kedatangan orang Hindu ini ke [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Tradisi pembakaran mayat atau kremasi jenazah telah dikenal oleh masyarakat suku Karo yang dikenal dengan adat Sirang-sirang. Tradisi ini dilaksanakan oleh suku Karo marga Sembiring. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh Hindu dalam budaya suku Karo terutama marga Sembiring yang menurut beberapa ahli sejarah berasal dari India.</p>
<p>Menurut Brahma Putro, menyebutkan kedatangan orang Hindu ini ke pegunungan (<a title="gua umang di tanah karo" href="http://www.gobatak.com/gua-umang-bukti-megalitik-dari-tanah-karo/">Tanah Karo</a>) di sekitar tahun l33l-l365 Masehi. Mereka sampai di Karo disebabkan mengungsi karena kerajaan Haru Wampu tempat mereka berdiam selama ini diserang oleh Laskar Madjapahit. Akan tetapi ada pula yang memberikan hipotesa, penyebaran orang-orang Tamil ini disebabkan oleh kedatangan pedagang-pedagang Arab (Islam) yang masuk dari Barus.</p>
<p>Upacara sirang-sirang hampir mirip dengan acara kematian layaknya yang berlaku pada masyarkat suku Karo, hanya saja prosesi akhir mayat tidak dikuburkan tetapi dibakar yang dipimpin oleh seorang dukun atau guru dibantu oleh 4 orang pembakar mayat yang disebut sindapur.</p>
<div id="gallery-1">
<dl>
<dt><a title="COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Batakvrouwen_bij_een_lijkverbranding_in_het_veld_Karolanden_Sumatra`s_Oostkust_TMnr_60012269" href="http://www.gobatak.com/kremasi-jenazah-suku-karo-tempo-dulu/collectie_tropenmuseum_batakvrouwen_bij_een_lijkverbranding_in_het_veld_karolanden_sumatras_oostkust_tmnr_60012269/"><img title="COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Batakvrouwen_bij_een_lijkverbranding_in_het_veld_Karolanden_Sumatra`s_Oostkust_TMnr_60012269" src="http://www.gobatak.com/wp-content/uploads/2012/09/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Batakvrouwen_bij_een_lijkverbranding_in_het_veld_Karolanden_Sumatras_Oostkust_TMnr_60012269-150x150.jpg" alt="COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Batakvrouwen_bij_een_lijkverbranding_in_het_veld_Karolanden_Sumatra`s_Oostkust_TMnr_60012269" width="150" height="150" /></a></dt>
</dl>
<dl>
<dt><a title="COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_crematie_op_Sumatra_mogelijk_bij_de_Karo_Batak_TMnr_60023666" href="http://www.gobatak.com/kremasi-jenazah-suku-karo-tempo-dulu/collectie_tropenmuseum_een_crematie_op_sumatra_mogelijk_bij_de_karo_batak_tmnr_60023666/"><img title="COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_crematie_op_Sumatra_mogelijk_bij_de_Karo_Batak_TMnr_60023666" src="http://www.gobatak.com/wp-content/uploads/2012/09/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_crematie_op_Sumatra_mogelijk_bij_de_Karo_Batak_TMnr_60023666-150x150.jpg" alt="COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_crematie_op_Sumatra_mogelijk_bij_de_Karo_Batak_TMnr_60023666" width="150" height="150" /></a></dt>
</dl>
<dl>
<dt><a title="COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_lijk_van_een_vooraanstaande_figuur_wordt_op_een_brandstapel_geworpen_door_Karo-Bataks_TMnr_10000885" href="http://www.gobatak.com/kremasi-jenazah-suku-karo-tempo-dulu/collectie_tropenmuseum_een_lijk_van_een_vooraanstaande_figuur_wordt_op_een_brandstapel_geworpen_door_karo-bataks_tmnr_10000885/"><img title="COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_lijk_van_een_vooraanstaande_figuur_wordt_op_een_brandstapel_geworpen_door_Karo-Bataks_TMnr_10000885" src="http://www.gobatak.com/wp-content/uploads/2012/09/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_lijk_van_een_vooraanstaande_figuur_wordt_op_een_brandstapel_geworpen_door_Karo-Bataks_TMnr_10000885-150x150.jpg" alt="COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_lijk_van_een_vooraanstaande_figuur_wordt_op_een_brandstapel_geworpen_door_Karo-Bataks_TMnr_10000885" width="150" height="150" /></a></dt>
</dl>
</div>
<p>Ritual dimulai pada saat mayat hendak dibawa ke tempat kremasi. Sebelum mayat dibawa keluar rumah, di depan pintu diletakkan kudin( belanga dari tanah liat) di dalamnya diisi gulai ayam ala masakan karo (cipera). Kemudian istri atau suami dari almahrum menendang belanga hingga pecah. Maknanya sebagai lambang hancurnya hati sang istri/suami dari almahrum atas kehilangan suami/istri yang meninggal.</p>
<p>Selanjutnya daging ayam tersebut akan dihidangkan dan disantap oleh kerabat dekat saat makan siang. Dengan menyantap hidangan tersebut, diharap kepedihan karena kehilangan keluarga tercinta segera sirna. Setelah itu mayat dibawa ke tempat kremasi di daerah lapangan terbuka dekat dengan sungai. Sebelumnya telah dipersiapkan kayu bakar oleh anak beru (keluarga dari pihak laki-laki). Kayu pembakar mayat berasal dari kayu pohon dokum. Selama proses pembakaran mayat, kayu tidak boleh ditambah, sehingga harus diperhitungan dengan matang jumlah kayu yang akan digunakan.</p>
<p>Setelah sampai di tempat pembakaran mayat, keluarga dari yang <a title="ritual mangokal holi" href="http://www.gobatak.com/mangokal-holi-ritual-adat-batak-full-video/">meninggal </a>disuruh kembali ke rumah dan yang tinggal hanya sang dukun dengan 4 orang sindapurnya.</p>
<p>Sebelum api disulutkan, dukun yang memimpin ritual memerintahkan sindapur untuk melepas semua pakaian jenazah dan ditelungkupkan di atas batang kayu dokum dan sindapur diperintahkan oleh sang dukun untuk memukul kaki jenazah sekuat-kuatnya agar arwahnya tidak kabur dan gentayangan. Bagi wanita yang meninggal melahirkan, bayinya juga dibakar dengan sang ibu. Barulah kemudian sang dukun membakar jenazah di atas kayu yang telah dipersiapkan.</p>
<p>Setelah pembakaran mayat, sindapur harus segera membuang abu jenazah ke sungai terdekat dan membersihkan sisa-sisa upacara agar sisa-sisa jenazah tidak digunakan oleh orang-orang yang menunut ilmu hitam. Kemudian Sindapur harus menjalani ritual yang dipimpin oleh sang dukun.</p>
<p>Mereka dimandikan dengan Lau penguras yaitu air yang sudah dijampi-jampi oleh sang dukun, dan baru setelah itu boleh pulang ke rumah. Setelah sampai di rumah mereka harus mencuci telapak tangan dan memegang para-para (tungku api unuk masak), dengan demikian sindapur tidak diganggu oleh mayat orang yang dibakarnya tadi.</p>
<p>Proses pembakaran mayat ini sangat rumit dan mengerikan sehingga upacara ini tidak lagi dilaksanakan oleh suku Karo marga Sembiring karena tidak ada Sindapur yang bersedia, dan juga pengaruh agama Kristen dan Islam dalam kehidupan masyarakat Karo.</p>
<p>sumber : http://www.gobatak.com/kremasi-jenazah-suku-karo-tempo-dulu/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iloveblue.com/kremasi-jenazah-suku-karo-tempo-dulu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Umat Hindu Adat Kei &#8221;Maluku Tenggara&#8221;</title>
		<link>http://www.iloveblue.com/umat-hindu-adat-kei-maluku-tenggara/</link>
		<comments>http://www.iloveblue.com/umat-hindu-adat-kei-maluku-tenggara/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2013 08:30:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hindu dan Adat Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iloveblue.com/?p=25232</guid>
		<description><![CDATA[  A.  Identifikasi Daerah Penelitian Fokus penelitian dilakukan di desa Tanimbar Kei yang penduduknya mayoritas beragama Hindu dan mempunyai tradisi dan budaya peninggalan leluhur yang masih tersimpan sampai sekarang. Diantaranya rumah adat dan benda-benda tradisional yang dianggap sacral. Desa ini letaknya berada di wilayah Kec. Ohoira, Kabupaten Maluku Tenggara. Jarak yang ditempuh untuk mencapai desa [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div> <img src="http://4.bp.blogspot.com/-ECvAbmF_EFg/TqQtIe3QIJI/AAAAAAAAAAM/oQNMZxLoWvo/s320/IMG_0789.JPG" alt="" width="320" height="240" border="0" /></div>
<div>
<div></div>
<div></div>
<div><strong>A.  Identifikasi Daerah Penelitian</strong></div>
<div>Fokus penelitian dilakukan di desa Tanimbar Kei yang penduduknya mayoritas beragama Hindu dan mempunyai tradisi dan budaya peninggalan leluhur yang masih tersimpan sampai sekarang. Diantaranya rumah adat dan benda-benda tradisional yang dianggap sacral.</div>
<div></div>
<div>Desa ini letaknya berada di wilayah Kec. Ohoira, Kabupaten Maluku Tenggara. Jarak yang ditempuh untuk mencapai desa ini kurang lebih lima jam perjalanan. Transportasi yang digunakan yaitu transportasi laut dengan menggunakan kapal motor laut yang berkapasitas sekitar 40-50 orang.</div>
<div></div>
<div> Masyarakat Desa Tanimbar Kei memiliki tiga pembagian lokasi tempat tinggal yaitu lokasi atas (<em>ohoratan</em>), lokasi bawah (<em>tahat</em>) dan lokasi  dusun Mun. Mayoritas penduduk yang beragama Hindu tersebar di dua lokasi tempat tinggal yaitu lokasi atas dan bawah. Desa ini memiliki empat komunitas agama yaitu : agama Kristen Protestan, agama Katolik, agama Islam dan agama Hindu. Adapun kondisi geografi dan demografi desa Tanimbar Kei menurut data sensus tahun 2010 adalah sebagai berikut :</div>
<div>
<div><strong>   </strong></div>
<div><strong>1. Kondisi Geografis Desa                                                                                              </strong></div>
</div>
<div>             Luas lahan                  :  35,4 Ha</div>
<div>             Jarak dan waktu         :</div>
<div>                   Jarak dari Desa ke Kecamatan                                         :  18 mil</div>
<div>                   Waktu tempuh dari Desa ke ibukota Kecamatan             :  2.5 jam</div>
<div>                   Jarak dari desa ke Ibukota Kabupaten                             :  20 mil</div>
<div>                   Waktu tempuh dari desa ke Ibukota Kabupaten             :   4  jam</div>
<div></div>
<ol start="1">
<li><strong>Kondisi demografi</strong></li>
</ol>
<div>            Jumlah Penduduk</div>
<div>Desa Tanimbar Kei memiliki jumlah penduduk 489 jiwa yang dirinci menurut kelompok umur adalah sebagai berikut :</div>
<div>Tabel I</div>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="38">
<div align="center"><strong>No</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="200">
<div align="center"><strong>Kelompok Umur (Tahun)</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="261">
<div align="center"><strong>Jumlah Penduduk (Jiwa)</strong></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="38">
<div align="center"><strong>1</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="200">
<div align="center"><strong>0-6</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="261">
<div align="center"><strong>43</strong></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="38">
<div align="center"><strong>2</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="200">
<div align="center"><strong>6-11</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="261">
<div align="center"><strong>84</strong></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="38">
<div align="center"><strong>3</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="200">
<div align="center"><strong>12-20</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="261">
<div align="center"><strong>18</strong></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="38">
<div align="center"><strong>4</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="200">
<div align="center"><strong>20-30</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="261">
<div align="center"><strong>108</strong></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="38">
<div align="center"><strong>5</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="200">
<div align="center"><strong>31-40</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="261">
<div align="center"><strong>79</strong></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="38">
<div align="center"><strong>6</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="200">
<div align="center"><strong>41-46</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="261">
<div align="center"><strong>44</strong></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="38">
<div align="center"><strong>7</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="200">
<div align="center"><strong>47-50</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="261">
<div align="center"><strong>32</strong></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="38">
<div align="center"><strong>8</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="200">
<div align="center"><strong>51-55</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="261">
<div align="center"><strong>26</strong></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="38">
<div align="center"><strong>9</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="200">
<div align="center"><strong>56-60</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="261">
<div align="center"><strong>23</strong></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="38">
<div align="center"><strong>10</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="200">
<div align="center"><strong>61-70</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="261">
<div align="center"><strong>19</strong></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="38">
<div align="center"><strong>11</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="200">
<div align="center"><strong>71 ke atas</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="261">
<div align="center"><strong>12</strong></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="38">
<div align="center"><strong>12</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="200">
<div align="center"><strong>113</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="261">
<div align="center"><strong>1</strong></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="38">
<div align="center"></div>
</td>
<td valign="top" width="200">
<div align="center"><strong>Jumlah</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="261">
<div align="center"><strong>489</strong></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div>
Adapun tingkat pendidikan masyarakat desa Tanimbar Kei cukup bervariasi yaitu sebagai berikut:</div>
<div>            Tabel II</div>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="37">
<div align="center"><strong>No</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="199">
<div align="center"><strong>Tingkat Pendidikan</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="262">
<div align="center"><strong>Jumlah Penduduk (Jiwa)</strong></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="37">
<div align="center">1</div>
</td>
<td valign="top" width="199">
<div>Belum sekolah</div>
</td>
<td valign="top" width="262">
<div align="center">24 org</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="37">
<div align="center">2</div>
</td>
<td valign="top" width="199">
<div>Tidak pernah sekolah</div>
</td>
<td valign="top" width="262">
<div align="center">-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="37">
<div align="center">3</div>
</td>
<td valign="top" width="199">
<div>Taman kanak-kanak</div>
</td>
<td valign="top" width="262">
<div align="center">43 org</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="37">
<div align="center">4</div>
</td>
<td valign="top" width="199">
<div>Tidak tamat SD</div>
</td>
<td valign="top" width="262">
<div align="center">2 org</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="37">
<div align="center">5</div>
</td>
<td valign="top" width="199">
<div>Belum tamat SD</div>
</td>
<td valign="top" width="262">
<div align="center">84 org</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="37">
<div align="center">6</div>
</td>
<td valign="top" width="199">
<div>Tamat SD</div>
</td>
<td valign="top" width="262">
<div align="center">11 org</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="37">
<div align="center">7</div>
</td>
<td valign="top" width="199">
<div>Tamat SLTP</div>
</td>
<td valign="top" width="262">
<div align="center">18 org</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="37">
<div align="center">8</div>
</td>
<td valign="top" width="199">
<div>Tamat SLTA</div>
</td>
<td valign="top" width="262">
<div align="center">78 org</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="37">
<div align="center">9</div>
</td>
<td valign="top" width="199">
<div>Tamat Akademi</div>
</td>
<td valign="top" width="262">
<div align="center">2 org</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="37">
<div align="center">10</div>
</td>
<td valign="top" width="199">
<div>Tamat S-1</div>
</td>
<td valign="top" width="262">
<div align="center">4 org</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="37">
<div align="center">11</div>
</td>
<td valign="top" width="199">
<div>Tamat S-2</div>
</td>
<td valign="top" width="262">
<div align="center">1 org</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="37">
<div></div>
</td>
<td valign="top" width="199">
<div align="center"><strong>Jumlah</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="262">
<div align="center"><strong>267</strong></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div>
Mata Pencahrian Penduduk</div>
<div>Desa Tanimbar Kei merupakan daerah yang sebagian besar penduduknya bermatapencahrian di laut yaitu sebagai nelayan.</div>
<div>Tabel III</div>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="58">
<div><strong>NO</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="200">
<div><strong>Mata Pencahrian</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="240">
<div><strong>Jumlah Penduduk (Jiwa)</strong></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="58">
<div>1</div>
</td>
<td valign="top" width="200">
<div>Petani</div>
</td>
<td width="240">
<div align="center">60  org</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="58">
<div>2</div>
</td>
<td valign="top" width="200">
<div>Peternak</div>
</td>
<td width="240">
<div align="center">35  org</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="58">
<div>3</div>
</td>
<td width="200">
<div>Nelayan</div>
</td>
<td width="240">
<div align="center">30  org</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="58">
<div>4</div>
</td>
<td width="200">
<div>Bangunan</div>
</td>
<td width="240">
<div align="center">5   org</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="58">
<div>5</div>
</td>
<td width="200">
<div>Pedagang</div>
</td>
<td width="240">
<div align="center">4  org</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="58">
<div>6</div>
</td>
<td width="200">
<div>PNS</div>
</td>
<td width="240">
<div align="center">9  org</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="58">
<div>7</div>
</td>
<td width="200">
<div>Pensiunan</div>
</td>
<td width="240">
<div align="center">3  org</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="58">
<div>8</div>
</td>
<td width="200">
<div>Jasa transportasi laut</div>
</td>
<td width="240">
<div align="center">9  org</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="58">
<div>9</div>
</td>
<td width="200">
<div>Lainnya</div>
</td>
<td width="240">
<div align="center">28 org</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="58">
<div></div>
</td>
<td valign="top" width="200">
<div><strong>Jumlah</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="240">
<div align="center"><strong>146</strong></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div></div>
<div></div>
<div>            Agama</div>
<div>Kehidupan beragama di desa Tanimbar Kei tergolong majemuk karena ada beberapa agama yang berkembang di daerah tersebut yaitu sebagai berikut :</div>
<div>            Tabel IV</div>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="37">
<div align="center"><strong>No</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="212">
<div align="center"><strong>Agama</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="249">
<div align="center"><strong>Jumlah Penduduk (Jiwa)</strong></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="37">
<div>1</div>
</td>
<td valign="top" width="212">
<div>Islam</div>
</td>
<td valign="top" width="249">
<div align="center">50  org</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="37">
<div>2</div>
</td>
<td valign="top" width="212">
<div>Katolik</div>
</td>
<td valign="top" width="249">
<div align="center">38  org</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="37">
<div>3</div>
</td>
<td valign="top" width="212">
<div>Kristen</div>
</td>
<td valign="top" width="249">
<div align="center">61  org</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="37">
<div>4</div>
</td>
<td valign="top" width="212">
<div>Hindu</div>
</td>
<td valign="top" width="249">
<div align="center">340 org</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="37">
<div>5</div>
</td>
<td valign="top" width="212">
<div>Budha</div>
</td>
<td valign="top" width="249">
<div align="center">-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="37">
<div></div>
</td>
<td valign="top" width="212">
<div align="center"><strong>Jumlah</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="249">
<div align="center"><strong>489</strong></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div></div>
<div></div>
<div>Jumlah Sarana Peribadatan</div>
<div>Ada beberapa sarana peribadatan yang telah dibangun dan difungsikan oleh penduduk Desa Tanimbar Kei sesuai dengan agamanya masing-masing yaitu :</div>
<div>Tabel V</div>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="45">
<div><strong>No </strong></div>
</td>
<td valign="top" width="212">
<div align="center"><strong>Sarana Ibadah</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="249">
<div align="center"><strong>Jumlah </strong></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="45">
<div>1</div>
</td>
<td valign="top" width="212">
<div>Masjid</div>
</td>
<td valign="top" width="249">
<div align="center">1</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="45">
<div>2</div>
</td>
<td valign="top" width="212">
<div>Pura</div>
</td>
<td valign="top" width="249">
<div align="center">1</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="45">
<div>3</div>
</td>
<td valign="top" width="212">
<div>Gereja Protestan</div>
</td>
<td valign="top" width="249">
<div align="center">1</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="45">
<div>4</div>
</td>
<td valign="top" width="212">
<div>Gereja Katholik</div>
</td>
<td valign="top" width="249">
<div align="center">1</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="45">
<div></div>
</td>
<td valign="top" width="212">
<div align="center"><strong>Jumlah</strong></div>
</td>
<td valign="top" width="249">
<div align="center"><strong>4</strong></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div><strong>B.  Sejarah Perkembangan Hindu di Desa Tanimbar Kei</strong></div>
<div></div>
<div> Pada zaman dahulu dari informasi yang penulis dapatkan dari hasil wawancara dengan tokoh adat didesa setempat bahwa sekitar tahun 1810 ada seorang tokoh spiritual yang berasal dari Bali Beliau bernama Ketut<em> </em>yang sering di sebut dengan nama <em>Tebtut</em>, beliau mempunya istri yang berasal dari desa Tanimbar Kei yang bernama <em>NenSikre</em>,<em> </em>Beliau kemudian mengajarkan ajaran spiritual kegamaan yaitu ajaran agama Hindu dan taradisi adat. Tetapi jauh sebelum beliau datang sebutan agama Hindu sudah ada di desa ini. Dari hasil wawancara dengan para tokoh adat mengungkapkan bahwa sebutan agama Hindu bagi umat di desa tanimbar Kei sudah ada sebelum zaman penjajahan Belanda. dari hasil wawancara dengan tokoh adat didesa setempat bahwa agama Hindu sudah berkembang pada zaman kerajaan Majapahit. Dalam perkembanganya jauh sebelum masuknya agama Hindu, di desa Tanimbar Kei sudah memegang teguh adat, tradisi dan kepercayaan setempat yaitu kepecayaan terhadap benda-benda sacral, dan <em>mitu</em> (leluhur) yang suci. Setelah perkembangan waktu berjalan masuklah ajaran Hindu di desa ini karena ajaran Hindu bersifat Universal, terbuka dan dapat menyesuaikan diri  dengan teradisi desa setempat maka tokoh adat desa Tanimbar Kei menerima ajaran agama Hindu sebagai suatu keyakinan masyarakat setempat. Hal ini dibuktikan dengan simbol-simbol yang masih terdapat di rumah-rumah adat yang ada di dalam ajaran Hindu. Salah satunya yaitu keyakinan tentang <em>mitu</em> dan sirih pinang terkandung juga di dalam nilai-nilai ajaran Hindu yaitu konsep <em>Panca Sraddah</em> dan kerangka dasar ajaran Hindu<em>.</em></div>
<div></div>
<div>Desa Tanimbar Kei terdiri dari dua pembagian lokasi dan satu dusun yang biasa di sebut :</div>
<div></div>
<div>1.      <em>Ohoratan</em> (kampung atas)</div>
<div>Kampung atas memiliki sejarah yang sangat panjang karena pada zaman dahulu para <em>mitu</em> (leluhur) bermukim atau bertempat tinggal di kampung atas. Kampung atas berada tepat di atas tebing yang tingginya sekitar 25 m. kampung atas sangat di sucikan dan di sakralkan oleh umat Hindu di desa Tanimbar Kei. Karena memiliki peninggalan seperti tempat-tempat suci rumah adat yang masih ada sampai sekarang. Ini merupakan warisan turun-temurun yang sangat di sucikan. Benda-benda peningalan seperti rumah adat, Arca (<em>Wadah</em>), meriam yang merupakan peningalan zaman Belanda, gelang yang terbuat dari timah, tembaga,mas dan uang gobang (Pis Bolong)  semua ini sangat berperan dalam melaksanakan proses ritual adat.</div>
<div></div>
<div>Kampung atas biasa di sebut dengan <em>ohoratan</em>. Pada zaman dahulu masyarakat masih bermukim di kampung atas karena mayoritas masyarakat dan tokoh adat beragama Hindu. Setelah perjalan waktu dan masuknya ajaran komunitas lain banyak yang beralih ke komunitas agama lain sehingga banyak yang tinggal di kampung bawah. Banyak hal yang membuat komunitas dari umat lain beralih tempat tinggal yaitu :</div>
<div>a.       <em> </em>Karena<em> Ohoratan</em> (kampung atas) terdapat banyak tempat sakral yang  sangat di sucikan. Mengingat kesucianya itu maka dilarang (<em>pamali)</em> orang melakukan kebisingan atau keributan sehingga sebagian masyarakat desa Tanimbar Kei yang beragama Non Hindu beralih ke kampung bawah dan dusun Mun.</div>
<div>b.      Penerus kepala marga yang tinggal di rumah adat harus baragama Hindu. Ini merupakan aturan tradisi <em>mitu</em> (leluhur) yang tidak boleh dilanggar. Karena akan berdampak buruk bagi kesejahteraan keluarga tersebut dan masyarakat desa Tanimbar Kei.</div>
<div></div>
<div>Dari penjelasan kedua poin di atas. Menjadi pertimbangan bagi komunitas agama lain untuk tinggal di kampung atas karena rasa menghormati dan menghrgai tradisi dan adat istiadat para <em>mitu </em>(leluhur)<em>,</em> sehingga merekapun beralih tingal di kampung bawa dan dusun Mun, karena dikhawatirkan apabila di bangun gereja, bunyi lonceng gereja dapat membuat kebisingan di kampung atas pada saat proses pelaksanaan ritual adat dan tradisi Hindu, serta posisi kepala marga yang tinggal di rumah adat atau yang menjaga rumah adat harus memegang teguh ajaran <em>mitu</em> yaitu masih berada pada jalur keyakinan agama Hindu. Sehingga komunitas agama lain baik Islam maupun Kristen beralih tempat tinggal kampung bawa dan dusun Mun.</div>
<div></div>
<div>2.      <em>Tahat </em>(kampung bawah)</div>
<div>Kampung bawah (<em>Tahat)</em> sudah ada sejak zaman dahulu dan masyarakat yang bermukim di <em>tahat </em>dahulunya mayoritas beragama Hindu. Seiring dengan perkembangan zaman, maka masyarakat yang bermukim di <em>tahat</em> sudah bermacam komunitas yang terdiri dari Islam, Katholik dan Protestan perkembangan dari komunitas Ktolik dan Protestan tidak di bawa masuk ke desa tanimbar Kei melainkan terjadi karena pernikahan campur antara masyarakat Hindu desa Tanimbar Kei dengan komunitan Non Hindu di daerah lain sehingga banyak dari keturunan komunitas lain yang kembali tingal di desa Tanimbar Kei.  Pada tahun 1969  dari hasil rapat para tokoh adat  menyampaikan agar komunitas Non Hindu tersebut bermukim di dusun Mun. Ini semua bertujuan untuk menghormati para leluhur dan menghormati proses kesakralan ritual tradisi yang sering dilakukan di kampung atas yang steril dari suara-suara bisingan. Ini semata-mata untuk menjaga bunyi kumandang sembahyang yang dilakukan dari tempat ibadah komunitas non Hindu agar tidak menggangu proses ritual dan tradisi yang sering dilakukan di kampung atas.</div>
<div></div>
<div>3.      Dusun Mun</div>
<div>Dusun Mun merupakan sebuah lokasi pemukiman masyarakat yang berada di desa Tanimbar Kei. Letaknya tidak jauh dari kampung atas dan kampung bawah. Mayoritas masyarakat yang tingal di dusun Mun beragama Islam. Masyarakat yang tinggal di dusun Mun masih memiliki hubungan persaudaraan yang sangat erat dengan umat yang berda di kampung atas dan kampung bawah. Semua masyarakat yang berada di ketiga lokasi ini merupakan satu keturunan Nenek moyang dan bersaudara. Masyarakat sudah berada di dusun Mun sejak tahun 1969.</div>
<div></div>
<div>Awal perpindahan masyarakat ke lokasi baru dusun Mun ini, disebabkan karena sekitar tahun 1967 ada masalah kesalapahaman keributan (membunyikan lonceng gereja) pada saat umat Hindu desa Tanimbar Kei sedang melaksanakan tradisi Tate’e. Maka disitulah awal mulanya masyarakat desa Taimbar Kei membentuk dusun Mun sebagai tempat bermukim komunitas Islam, Katolik dan komunitas Protestan. Setelah perkembangan waktu yang cukup lama komunitas Katolik dan Protestan kemudian kembali bemukim lagi di desa Tanimbar Kei sehingga sampai sekarang ini mayoritas yang tingal di dusun Mun  beragama Islam.</div>
<div></div>
<div>Pada awal sejarah masuknya komunitas Islam, para tokoh adat tidak mau menerima ajaran agama islam untuk masuk di desa Tanimbar Kei, ini dibuktikan dengan sebuah symbol kayu yang ditancapkan yang posisinya berada didepan laut Desa Tanimbar Kei sebagi respon tidak setuju akan masuknya komnitas Islam. Yang membawa masuk pertama kali ajaran Islam ke desa Tanimbar Kei adalah Mabal Latar beliau berasal dari desa Banda Eli. Desa ini mayoritas penduduknya beragama Islam lokasinya berada masih sekitar daerah Maluku tenggara.</div>
<div></div>
<div>Sejak saat itulah masyarakat dari desa Banda Eli kemudian mengangkat Desa Tanimbar Kei sebagai <em>Pela</em> (saudara), sehingga simbol kayu tersebut sebagai lambang <em>Pela</em> (persaudaraan). Seiring dengan perkembangan waktu masyarakat desa Tanimbar Kei mulai ada yang  beralih ke ajaran komunitas Islam. Sedikit demi sedikit komunitas islam mulai bertambah sehingga muncul ide dari masyarakat yang masuk komunitas Islam untuk membangun tempat Ibadah atau Mesjid, setelah niat untuk membangun tempat suci ini disampaikan kepada para tokoh adat, para tokoh adat kemudian memberikan lokasi tempat untuk beermukim bagi komunitas islam di dusun Mun yang jaraknya dari kampung atas dan kampung bawah sekitar 2 km. hal ini tidak terlepas dari pertimbangan-pertimbangan para tokoh adat tentang suara kumandang masjid yang dapat mengangu jalanya proses ritual dan upacara. Ritual upacara tidak bleh tergangu dengan suara kebisingan dan ini sudah berlangsung turun temurun dari sejak zaman para leluhur</div>
<div></div>
<div><strong>C. Kondisi Masyarakat Hindu Sebelum Adanya Pura Wuar Masbaat di  Desa Tanimbar Kei </strong></div>
<div></div>
<div>Pada masa sebelum berdirinya Pura Wuar Masbaat, masyarakat pada zaman dulu mayoritas beragama Hindu dan masih belum ada komunitas dari agama lain yang masuk di desa Tanimbar Kei. Dari data hasil wawancara yang diperoleh dari beberapa sumber penting dari tokoh adat mengungkapkan bahwa dari zaman dahulu agama Hindu sudah ada di desa Tanimbar Kei ini (data hasil wawancara tokoh adat, Bpk Cau). Dahulu Umat Hindu memiliki kepercayaan lokal kepada benda-benda sakral dan<em> Mitu</em>. Setelah masuknya agama Hindu di desa ini, tokoh adat kemudian menerima agama Hindu sebagai suatu keyakinan. Dalam proses perkembagan kegamaan dan kehidupan sehari-hari berjalan normal, tidak saling bersingungan antar sesama. Proses keagamaan berjalan normal sesuai dengan ritual dan tradisi setempat. Proses upacara  dipercayakan kepada salah satu pemimpin tokoh adat yang mengetuai kepala marga di masing-masing rumah adat, kepala marga inilah  yang membawakan sirih pinang sebagai wujud mewakili seluruh keluarga untuk menyampaikan rasa syukur dan terimah kasih telah melindungi dan menjaga keluarga dan desa Tanimbar Kei.</div>
<div></div>
<div>             Ritual-Ritual yang dijalankan dipimpin oleh tokoh-tokoh adat yang telah dipercayakan oleh masyarakat setempat. Ritual sesajen seperti sirih, kapur pinang, tembakau, kopi dan sopi, tidak lepas dari setiap kegiatan ritual karena merupakan suatu ciri khas desa ini dalam menjalankan proses ritual kapada Sang Hyang Widhi dan para leluhur.</div>
<div>Kehidupan yang sederhana dan harmonis terus berjalan dengan baik dan normal. Dari  hasil wawancara penulis dengan tokoh adat ternyata sudah ada rencana para tokoh adat zaman dulu sekitar tahun 1952 yang berkeinginan untuk membangun tempat suci Pura. Karena pada saat itu tidak ada orang sebagai pendorong dan memotifasi untuk membantu niat baik tokoh adat maka ini belum bisa diwujudkan. Kemudian wacana itu berlalu begitu saja karena umat di desa ini belum mengerti tata cara untuk membangun tempat suci Pura ini. Tetapi pesan yang disampaikan para tokoh adat pada zaman dulu, masih tersimpan di ingatan masyarakat desa Tanimbar Kei. Sehingga semangat untuk membagun tempat suci pura masih tersimpan dihati  masyarakat yang mempunyai kerinduan untuk membangun tempat suci atau Pura.</div>
<div></div>
<div>        Berselang waktu yang cukup lama, masuklah komunitas dari agama lain. Seiring perkembangan zaman yang terus berkembang dan tidak dapat dihindari, sehingga membuat sedikit demi sedikit umat Hindu mulai terpengaruh dengan kehidupan sosial yang moderen. Semakin hari pengaruh dari lingkungan yang datang dari luar membawa dampak yang kurang baik  bagi umat Hindu di desa Tanimbar Kei, baik secara mental dan <em>Sraddha </em>(keyakinan), maka umat di desa ini mulailah berubah keyakinan dengan adanya kecendrungan merosot akibat pengaruh sosial dari luar yaitu seperti masuknya kaum misionaris.</div>
<div></div>
<div>        Melihat perkembangan yang begitu banyak pengaruh dari desa-desa tetangga disekitarnya yang membuat mental dan keyakinan umat semakin merosot, diakibatkan kerena pertanyaan-pertanyaan yang semakin kritis seputar Hindu yang salah satunya seputar pura atau tempat ibadah umat Hindu yaitu pertanyaan kritis seprti ; ‘kenapa umat Hindu yang mayoritas belum mempunyai tempat ibadah, sedangkan umat lain yang minoritas sudah mempunyai sarana tempat ibadah’, pemahaman-pemahaman negatif  ini tanpa disadari bertujuan untuk menyudutkan dan mencari peluang atau mencari celah untuk kemudian merangkul umat Hindu yang ada di desa Tanimbar Kei’. Hal ini membuat timbulnya dilema mental sraddha dan bhakti karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman umat tentang tempat suci atau pura.</div>
<div></div>
<div><strong>D.    </strong><strong>Kondisi Masyarakat Setelah Berdirinya Pura Wuar Masbaat di Desa Tanimbar Kei</strong></div>
<div></div>
<div>Setelah perkembagan waktu sedikit demi sedikit umat Hindu yang ada di desa Tanimbar Kei mulai berkurang dan berpindah ke agama lain, hal ini diakibatkan karena mulai merosotnya mental dan sraddha, dengan melihat keadaan yang ada Tradisi semakin hari semakin berkurang kemampuannya untuk menopang keyakinan umat Hindu yang ada di desa ini, maka melalui PHDI Kab Maluku Tenggara yang di ketuai oleh Bpk. M Yamko selaku ketua memikirkan satu solusi dan diwujudnyatakan dengan di adakannya rapat di kalangan tokoh-tokoh adat dan masyarakat Hindu di desa ini. Dengan adanya rapat sebanyak enam kali dengan tokoh-tokoh adat maka tertuang suatu kesepakatan dan keinginan untuk membuat tempat suci atau Pura dan ini sudah disetujui oleh <em>Mitu</em> (leluluhur), para tokoh adat dan umat Hindu di desa Tanimbar Kei kemudian disepakati bersama dengan memberikan nama Pura Wuar Masbaat. Kemudian pada tgl 27 agustus 2007 dibangunlah Pura yang diberi nama Pura Wuar Masbaat dengan bantuan dana pertama dari pemerintah dalam hal ini melalui Depag RI, kemudian bantuan dari umat sedharma dan dari pemerintah Daerah setempat. Sampai sekarang ini proses pembangunan pura Wuar Masbaat masih dalam proses pembangunan. Proses pembangunan sudah mencapai 90% selesai.</div>
<div>Stelah berdrinya Pura Wuar Masbaat aktifitas keagamaan sudah mulai dilaksanakan didalam lokasi pura. Senyum bahagia tergambar diwajah umat Hindu di desa ini karena sudah berdirinya Pura Wuar Masbaat yang walaupun masih dalam proses pembangunan. Antusias umat baik anak-anak maupun orang dewasa mulai lebih bersemangat melakukan kegiatan keagamaan hal ini terlihat dengan adanya sembahyang bersama yang diaksanakan pada hari-hari biasa maupun hari raya besar.</div>
<div></div>
</div>
<div>Rasa percaya diri dan kekutan spritual mulai bangkit di dalam diri umat Hindu di desa ini. Kalimat-kalimat yang menyindir dan menyudutkan umat Hindu di desa ini tidak terdengar dan tidak terlihat lagi. Proses ritual tradisi berjalan dengan sangat hikmat karena di topang dengan kehadiran pura Wuar Masbaat sebagai semangat spritual keagamaan</div>
<div></div>
<div>sumber: http://wwwhinduadatkei.blogspot.com/2011/10/umat-hindu-adat-kei-maluku-tenggara.html?spref=fb</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iloveblue.com/umat-hindu-adat-kei-maluku-tenggara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hindu dan Islam di Desa Cangkuang</title>
		<link>http://www.iloveblue.com/hindu-dan-islam-di-desa-cangkuang/</link>
		<comments>http://www.iloveblue.com/hindu-dan-islam-di-desa-cangkuang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2013 08:27:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hindu dan Adat Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iloveblue.com/?p=25230</guid>
		<description><![CDATA[Garut terletak di bagian Selatan provinsi Jawa Barat, 3 jam bermobil dari Bandung. Ratu Beatrix dari Belanda pernah ke sana, begitu juga komedian legendaris Charlie Chaplin. Chaplin menyebut Garut “Swiss van Java”. Ia mengacu pada letak kota yang dikelilingi gunung-gunung. Di CAngkuang, candi Hindu berdampingan dengan makam Islam. @bayumaitra Sedikit saja melipir ke luar kota, [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Garut terletak di bagian Selatan provinsi Jawa Barat, 3 jam bermobil dari Bandung. Ratu Beatrix dari Belanda pernah ke sana, begitu juga komedian legendaris Charlie Chaplin. Chaplin menyebut Garut “Swiss van Java”. Ia mengacu pada letak kota yang dikelilingi gunung-gunung.</p>
<div id="attachment_752"><a href="http://bayumaitra.net/wp-content/uploads/2012/06/Candi-Cangkuang2-by-Bayu-Maitra.jpg"><img title="SONY DSC" src="http://bayumaitra.net/wp-content/uploads/2012/06/Candi-Cangkuang2-by-Bayu-Maitra.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Di CAngkuang, candi Hindu berdampingan dengan makam Islam. @bayumaitra</p>
</div>
<p>Sedikit saja melipir ke luar kota, 10 menit ke arah utara, Anda akan menemukan desa bernama Cangkuang. Nama ini diambil dari jenis tanaman yang banyak tumbuh di sana. Desa Cangkuang memiliki objek wisata berupa candi, makam, dan kampung adat. Untuk mengunjungi situs, Anda mesti menyeberangi <em>situ</em> (danau) dengan menyewa rakit bambu seharga Rp4.000. Catatan: jika sedang sepi, operator rakit akan membujuk Anda untuk menyewa secara borongan.</p>
<p>Cagar Budaya Candi Cangkuang tidaklah besar, namun menarik dicermati. Pertama, di sana ada sebuah candi peninggalan Hindu. Ia ditemukan oleh ahli purbakala, Drs. Uka Tjandrasasmita pada 9 Desember 1966. Tjandrasasmita menelusuri informasi dari buku <em>Notulen Bataviach Genoot Schap </em>karya Vorderman, yang ditulis pada 1893. Buku itu menyebutkan adanya sebuah arca di desa Cangkuang.</p>
<blockquote><p>Kampung Pulo hanya boleh terdiri dari enam rumah (melambangkan enam anak perempuan) dan satu mesjid (satu anak laki-laki).</p></blockquote>
<p>Hasil penemuan ini lantas diteliti. Penggalian di sekitar lokasi ternyata memberi kesimpulan lain: apa yang ada di sana bukanlah arca, melainkan candi. Indikasinya berupa pondasi ukuran 4,5 x 4,5 m di bawah tanah, juga batu-batu besar yang berserakan. Pemugaran pun dilakukan pada 1974, dengan menggunakan 40 persen batuan andesit asli yang tersisa, kemudian ditambahkan batu baru. Proses ini selesai pada Desember 1976 dengan menyisakan tanda tanya: sejarah candi. Ketiadaan prasasti dan cerita rakyat membuat sejarah Candi Cangkuang tidak pernah terungkap.</p>
<p>Pada abad XVII, seorang utusan Sultan Agung dari Mataram diperintahkan menyerang Belanda di Batavia. Utusan itu bernama Arif Muhammad. Ia menyerang Belanda yang kala itu di bawah pimpinan JP Coen. Arif gagal dalam serangan itu, dan, karena malu, ia memilih tidak pulang ke Mataram. Dalam perjalanannya, ia singgah di desa Cangkuang, menyebarkan Islam, menetap, dan meninggal di sana. Makamnya berada tepat di samping Candi Cangkuang.</p>
<p>Arif Muhammad memiliki tujuh anak, satu laki-laki dan enam perempuan. Jumlah anak inilah yang kemudian menentukan susunan bangunan di Pulo, sebuah kampung adat yang terletak di dataran rendah dekat candi. Kampung Pulo hanya boleh terdiri dari enam rumah (melambangkan enam anak perempuan) dan satu mesjid (satu anak laki-laki). Formasi ini tidak berubah hingga saat ini. Dan, semua penghuni Kampung Pulo adalah keturunan Arif Muhammad.</p>
<p>Melihat letak makam yang tepat di samping candi sungguh menggelitik pikiran. Bagaimana Candi Cangkuang, yang peninggalan Hindu abad ke VIII, bisa bersanding dengan makam Arif Muhammad, seorang Islam yang datang hampir sepuluh abad setelahnya.</p>
<p>Ini, selain memberi pengertian bahwa Cangkuang pernah didiami manusia dari dua zaman berbeda, juga mengundang pertanyaan konspiratif. Seperti kata Jijih Suparji, penjaga museum di sana, “kita tidak tahu, apakah Candi Cangkuang rusak karena pergeseran alam, atau Arif Muhammad yang menghancurkannya?”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>sumber: http://bayumaitra.net/2012/06/20/hindu-dan-islam-di-desa-cangkuang/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iloveblue.com/hindu-dan-islam-di-desa-cangkuang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jejak Hindu di Pojok Keudah</title>
		<link>http://www.iloveblue.com/jejak-hindu-di-pojok-keudah/</link>
		<comments>http://www.iloveblue.com/jejak-hindu-di-pojok-keudah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2013 08:26:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hindu dan Adat Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iloveblue.com/?p=25228</guid>
		<description><![CDATA[BANDA ACEH &#8211; Kuil Palani Andawer. Bangunan bergaya Hindu dengan warna mencolok ini memang lebih menarik perhatian dibandingkan dengan bangunan lain yang berada di Jalan Teungku Di Anjong, Keudah, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Matahari telah condong ke barat ketika saya sampai di kuil ini. Dari masjid, terdengar azan asar menggema. Seorang lelaki berkulit gelap terlihat [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>BANDA ACEH &#8211; Kuil Palani Andawer. Bangunan bergaya Hindu dengan warna mencolok ini memang lebih menarik perhatian dibandingkan dengan bangunan lain yang berada di Jalan Teungku Di Anjong, Keudah, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh.</p>
<p>Matahari telah condong ke barat ketika saya sampai di kuil ini. Dari masjid, terdengar azan asar menggema. Seorang lelaki berkulit gelap terlihat sedang menyiram halaman kuil yang dilapisi semen berwarna cokelat.</p>
<p>Ia petugas sekaligus panitia inti pembangunan Kuil Palani Andawer itu. Namanya Radha, berusia 50 tahun. Ia seorang Tamil yang bermuasal dari India Selatan. Namun Radha lahir di Aceh.</p>
<p>Kuil Palani dibangun pada masa sebelum kemerdekaan di tahun 1934 oleh para pemeluk Hindu yang ada di Aceh masa itu. Tempat ini menjadi satu-satunya tempat ibadah bagi 600-an umat Hindu yang ada di wilayah Banda Aceh dan sekitarnya.</p>
<p>Ketika tsunami akhir Desember 2004 lalu, bangunan ini ikut hancur. Namun sekarang telah selesai direnovasi kembali setelah tujuh tahun terkendala akibat minimnya biaya.</p>
<p>Kuil Palani berdiri di atas tanah seluas 4,5 x 12 meter. Bisa dikatakan kuil ini telah menjadi bagian dari sejarah peradaban Hindu di Aceh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>sumber: http://atjehpost.com/read/2012/03/01/3222/0/19/Jejak-Hindu-di-Pojok-Keudah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iloveblue.com/jejak-hindu-di-pojok-keudah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fun Bike Beach Party Sanur Bersatu</title>
		<link>http://www.iloveblue.com/fun-bike-beach-party-sanur-bersatu/</link>
		<comments>http://www.iloveblue.com/fun-bike-beach-party-sanur-bersatu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Feb 2013 10:27:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iloveblue.com/?p=25225</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-25226" title="fun-bike" src="http://www.iloveblue.com/wp-content/uploads/2013/02/fun-bike.jpg" alt="Fun Bike Beach Party Sanur Bersatu" width="349" height="464" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iloveblue.com/fun-bike-beach-party-sanur-bersatu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akustika Dharma Puja di Pura Gunung Salak Bogor</title>
		<link>http://www.iloveblue.com/akustika-dharma-puja-di-pura-gunung-salak-bogor/</link>
		<comments>http://www.iloveblue.com/akustika-dharma-puja-di-pura-gunung-salak-bogor/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Feb 2013 10:23:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iloveblue.com/?p=25221</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-25222" title="akustika-dharma-puja" src="http://www.iloveblue.com/wp-content/uploads/2013/02/akustika-dharma-puja.jpg" alt="Akustika Dharma Puja di Pura Gunung Salak Bogor" width="292" height="200" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iloveblue.com/akustika-dharma-puja-di-pura-gunung-salak-bogor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nyanyian Dharma di Taman Ismail Marzuki</title>
		<link>http://www.iloveblue.com/nyanyian-dharma-di-taman-ismail-marzuki/</link>
		<comments>http://www.iloveblue.com/nyanyian-dharma-di-taman-ismail-marzuki/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Feb 2013 10:20:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iloveblue.com/?p=25218</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-25219" title="nyanyian-dharma-taman-ismai" src="http://www.iloveblue.com/wp-content/uploads/2013/02/nyanyian-dharma-taman-ismai.jpg" alt="Nyanyian Dharma di Taman Ismail Marzuki" width="309" height="200" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iloveblue.com/nyanyian-dharma-di-taman-ismail-marzuki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penyembuhan Alternatif Energi Prana &#8211; Kundalini 9 Februari 2013</title>
		<link>http://www.iloveblue.com/penyembuhan-alternatif-energi-prana-kundalini-9-februari-2013/</link>
		<comments>http://www.iloveblue.com/penyembuhan-alternatif-energi-prana-kundalini-9-februari-2013/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Feb 2013 10:18:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iloveblue.com/?p=25215</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-25216" title="penyembuhan-alternatif" src="http://www.iloveblue.com/wp-content/uploads/2013/02/penyembuhan-alternatif.jpg" alt="penyembuhan-alternatif" width="496" height="547" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iloveblue.com/penyembuhan-alternatif-energi-prana-kundalini-9-februari-2013/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Simposium Perempuan Muda Indonesia 14 Februari 2013</title>
		<link>http://www.iloveblue.com/simposium-perempuan-muda-indonesia-14-februari-2013/</link>
		<comments>http://www.iloveblue.com/simposium-perempuan-muda-indonesia-14-februari-2013/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Feb 2013 10:11:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iloveblue.com/?p=25212</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_25213" class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><img class="size-full wp-image-25213" title="mewujudkan-global-peace" src="http://www.iloveblue.com/wp-content/uploads/2013/02/mewujudkan-global-peace.jpg" alt="mewujudkan-global-peace" width="400" height="564" /><p class="wp-caption-text">mewujudkan-global-peace</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iloveblue.com/simposium-perempuan-muda-indonesia-14-februari-2013/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lowongan Kerja Guru Hindu Mengajar</title>
		<link>http://www.iloveblue.com/lowongan-kerja-guru-hindu-mengajar/</link>
		<comments>http://www.iloveblue.com/lowongan-kerja-guru-hindu-mengajar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jan 2013 14:28:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hindu dan Adat Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iloveblue.com/?p=25208</guid>
		<description><![CDATA[Hindu Mengajar memberi kesempatan kepada lulusan terbaik perguruan tinggi di Indonesia untuk menjadi Pengajar Muda di daerah-daerah yang kekurangan guru di berbagai daerah di Indonesia selama 1 tahun. &#160; Syarat-syarat : * Lulusan S1 dari berbagai bidang studi dan jurusan * Diutamakan lulusan pendidikan agama hindu &#38; punya pengalaman mengajar * Fresh graduate, maksimal dua [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Hindu Mengajar memberi kesempatan kepada lulusan terbaik perguruan tinggi di Indonesia untuk menjadi Pengajar Muda di daerah-daerah yang kekurangan guru di berbagai daerah di Indonesia selama 1 tahun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Syarat-syarat :</p>
<p>* Lulusan S1 dari berbagai bidang studi dan jurusan</p>
<p>* Diutamakan lulusan pendidikan agama hindu &amp; punya pengalaman mengajar</p>
<p>* Fresh graduate, maksimal dua tahun setelah lulus jenjang strata satu.</p>
<p>* IPK minimal 3,0 dalam skala 4,0 dari berbagai disiplin ilmu.</p>
<p>* Berprestasi baik di dalam maupun di luar kampus.</p>
<p>* Memiliki jiwa kepemimpinan, kepedulian sosial dan semangat pengabdian.</p>
<p>* Memiliki antusiasme dan passion dalam dunia pendidikan, khususnya untuk kegiatan belajar-mengajar.</p>
<p>* Memiliki semangat juang, kemampuan adaptasi yang tinggi, menyukai tantangan dan kemampuan problem solving).</p>
<p>* Memiliki hobi atau keterampilan non-akademis yang menarik dan bermanfaat.</p>
<p>* Sehat secara fisik dan mental</p>
<p>* Bersedia mengajar di daerah terpencil selama setahun Jurusan :</p>
<p>Sarjana (S-1) semua bidang studi dan jurusan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Informasi Tambahan :</p>
<p>Jumlah posisi : 12 Pengajar Muda</p>
<p>Penempatan : Kabupaten Tana Toraja-Sulsel (2 orang),Kabupaten Lampung Selatan-Lampung (1 orang) Provinsi Kalimantan Tengah (1 Orang) Provinsi Sulawesi Utara (1 orang) Provinsi Jawa Timur (2 orang) Provinsi Jawa Tengah (1 orang) Provinsi DI. Yogyakarta (1 Orang) Provinsi Kepulauan Riau (1 Orang) Maluku Tenggara – Maluku (1 orang) Provinsi Sulawesi Tenggara (1 orang)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Fasilitas : Pelatihan bersertifikat, insentif, asuransi dan fasilitas lain yg memadai untuk menunjang tugas sebagai Pengajar Agama Hindu di daerah</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Keterangan : Daftarkan diri Anda sebagai calon Pengajar Agama Hindu dengan mengirim berkas lamaran lengkap ke email Hindu Mengajar : <a href="mailto:hindumengajar@gmail.com">hindumengajar@gmail.com</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Masa pendaftaran hingga 20 November 2012.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Email : <a href="mailto:hindumengajar@gmail.com">hindumengajar@gmail.com</a></p>
<p>Cp.</p>
<p>1.    Made Miarsana        : 081245243865</p>
<p>2.    Diah                      :081807910419</p>
<p>sumber :HDnet</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iloveblue.com/lowongan-kerja-guru-hindu-mengajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasihat Sang Buddha</title>
		<link>http://www.iloveblue.com/nasihat-sang-buddha/</link>
		<comments>http://www.iloveblue.com/nasihat-sang-buddha/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jan 2013 14:26:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hindu dan Adat Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iloveblue.com/?p=25206</guid>
		<description><![CDATA[1- Kebahagiaan tidak terjadi begitu saja. Itu muncul dari hasil perbuatan kita. 2- Jika Mampu, Tolong &#38; Bantulah Orang Lain. Jika Tidak, Setidaknya jangan mencelakan orang lain. 3- Jika kamu ingin orang lain bahagia, praktekan welas asih. Jika kamu sendiri mau bahagia, praktekan welas asih. 4- Agama saya sangat sederhana. Agama saya adalah Kebajikan. 5- [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>1- Kebahagiaan tidak terjadi begitu saja. Itu muncul dari hasil perbuatan kita.</p>
<p>2- Jika Mampu, Tolong &amp; Bantulah Orang Lain. Jika Tidak, Setidaknya jangan mencelakan orang lain.</p>
<p>3- Jika kamu ingin orang lain bahagia, praktekan welas asih. Jika kamu sendiri mau bahagia, praktekan welas asih.</p>
<p>4- Agama saya sangat sederhana. Agama saya adalah Kebajikan.</p>
<p>5- Ingat !!! Tidak mendapatkan apa yang kamu inginkan, kadang2 adalah sebuah berkah.</p>
<p>6- Kekuasaan utama mesti tidak mengutamakan alasan dan analisa kritis individu itu sendiri saja.</p>
<p>7- Kita bisa hidup tanpa agama dan meditasi, tetapi kita tidak bisa hidup tanpa kasih sayang sesama manusia.</p>
<p>8- Kita tidak akan pernah mendapatkan kedamaian diluar diri kita sendiri sampai kita damai dengan diri kita sendiri.</p>
<p>9- Berbuat baiklah jika memungkinkan. Sebenarnya, Itu selalu mungkin.</p>
<p>10- Jika kamu takut akan rasa sakit atau penderitaan, kamu seharusnya cari cara, apa yang dapat kamu lakukan untuk mengatasinya. Jika kamu bisa, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Jika kamu tidak bisa berbuat banyak, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan juga.</p>
<p>11- Jika kamu tidak mencintai dirimu sendiri, Kamu tidak akan bisa mencintai orang lain. Kamu tidak akan mampu. Jika kamu tidak punya welas asih terhadap dirimu sendiri, maka kamu tidak akan bisa mengembangkan welas asih terhadap orang lain.</p>
<p>12- Potensi seluruh manusia adalah sama. Perasaan kamu yang bilang &#8221; Aku tidak berharga&#8221; adalah salah. Salah sama sekali. Kamu menipu dirimu sendiri. Kita semua memiliki kekuatan dalam batin kita, jadi apa yang kurang ? Jika kamu punya tekad, kamu dapat mengubah apapun. Kamu adalah guru bagi dirimu sendiri.</p>
<p>13- Kita mesti menyadari, Penderitaan satu orang atau satu bangsa adalah Penderitaan bagi seluruh umat manusia. Kebahagiaan satu orang atau satu bangsa adalah Kebahagiaan bagi seluruh umat manusia.</p>
<p>14- Melalui kekerasan, kamu mungkin &#8220;mengatasi&#8221; masalah, Tetapi kamu telah &#8220;menanam&#8221; benih kemunculan masalah-masalah baru.</p>
<p>15- Sebagaimana kita bisa hidup di zaman sekarang, maka kita mesti juga memikirkan generasi mendatang : Sebuah lingkungan yang bersih &amp; sehat adalah layaknya seperti sebuah hak azasi. Merupakan tanggung jawab kita kepada generasi penerus untuk menjaga bumi, melestarikan lingkungan.</p>
<p>16- Menaklukkan diri sendiri adalah lebih baik dari pada menaklukkan ribuan musuh dalam peperangan.</p>
<p>17- Ada sebuah istilah di tibet, &#8220;Musibah seharusnya dimanfaatkan menjadi sumber kekuatan&#8221;. Tidak perduli seberapa kesulitan yang kita alami, betapa menyakitkkan keadaan tersebut, Jika kita sampai kehilangan harapan, maka itu benar-benar merupakan musibah.</p>
<p>18- Makhluk apa pun yang berdiam di bumi, apakah manusia atau hewan, masing-masing memiliki peran, masing-masing dengan jalannya sendiri, untuk memperindah dan memperkaya dunia ini.</p>
<p>19- Sebuah sendok tidak dapat merasakan nikmatnya makanan. Sebagaimana orang bodoh yang tidak mengerti kebijaksanaan seseorang, walapun dia bergaul dengan orang suci.</p>
<p>20- Dalam memperjuangkan kebebasan, Kebenaran adalah satu-satunya senjata/pegangan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>sumber : <a href="http://cintadankebijaksanaan.blogspot.com/2012/11/nasehat-sang-buddha.html">http://cintadankebijaksanaan.blogspot.com/2012/11/nasehat-sang-buddha.html</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iloveblue.com/nasihat-sang-buddha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kualitas lingkungan Bali terbaik se-Indonesia</title>
		<link>http://www.iloveblue.com/kualitas-lingkungan-bali-terbaik-se-indonesia/</link>
		<comments>http://www.iloveblue.com/kualitas-lingkungan-bali-terbaik-se-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jan 2013 14:23:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hindu dan Adat Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iloveblue.com/?p=25203</guid>
		<description><![CDATA[Denpasar (ANTARA News) &#8211; Indeks kualitas lingkungan hidup di Bali kini mencapai 99,65 persen, dan menjadi yang terbaik dibandingkan daerah lainnya di Indonesia, kata Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Bali, I Nyoman Sujaya. &#160; Rata-rata capaian standar pelayanan minimal bidang lingkungan di Pulau Dewata selama 2011 mencapai 92 persen, sehingga melampaui rata-rata sasaran nasional [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Denpasar (ANTARA News) &#8211; Indeks kualitas lingkungan hidup di Bali kini mencapai 99,65 persen, dan menjadi yang terbaik dibandingkan daerah lainnya di Indonesia, kata Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Bali, I Nyoman Sujaya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rata-rata capaian standar pelayanan minimal bidang lingkungan di Pulau Dewata selama 2011 mencapai 92 persen, sehingga melampaui rata-rata sasaran nasional 66 persen, ujarnya di Denpasar, Minggu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Laporan sementara, menurut dia, Bali menunjukkan kisaran merah hingga hijau, yang menggambarkan tingkat ketaatan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup relatif sudah baik, karena tidak ada yang memperoleh peringkat hitam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saat penyusunan status lingkungan hidup daerah pada tahun 2011, menurut dia, Bali meraih peringkat empat tingkat nasional.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>I Nyoman Sujaya menyatakan, berbagai program menyangkut pelestarian lingkungan lebih dimantapkan dan pemerintah daerah setempat mengalokasikan dana yang cukup memadai, serta dukungan dari seluruh peranserta masyarakat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berbagai program berkaitan dengan lingkungan hidup itu, dikatakannya, menitikberatkan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat setempat, disamping pengadaan berbagai jenis bibit untuk penghijauan di kawasan hutan maupun lahan-lahan kosong milik masyarakat serta desa adat di luar kawasan hutan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selain itu, menurut dia, pengadaan tanaman langka, tanaman bambu gerakan kebersihan sampah plastik yang melibatkan peranserta masyarakat dan semua pihak menyasar kawasan danau, sungai dan laut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sujaya menjelaskan, hal yang tidak kalah penting lainnya membangun pengolahan limbah ramah lingkungan di beberapa tempat, dengan harapan bisa menjadi proyek percontohan yang kemudian ditiru oleh masyarakat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seluruh komponen masyarakat dan pelaku usaha di Pulau Dewata diharapkan terlibat secara aktif, terutama dalam lingkungan masing-masing, sebagai upaya mempercepat mewujudkan Bali sebagai provinsi yang bersih dan hijau (Bali Green Province), demikian I Nyoman Sujaya.</p>
<p>(T.I006/T007)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Editor: Priyambodo RH</p>
<p>sumber:</p>
<p><a href="http://www.antaranews.com/berita/342959/kualitas-lingkungan-bali-terbaik-se-indonesia">http://www.antaranews.com/berita/342959/kualitas-lingkungan-bali-terbaik-se-indonesia</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iloveblue.com/kualitas-lingkungan-bali-terbaik-se-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hindu, Aku Kembali Padamu</title>
		<link>http://www.iloveblue.com/hindu-aku-kembali-padamu/</link>
		<comments>http://www.iloveblue.com/hindu-aku-kembali-padamu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jan 2013 14:15:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hindu dan Adat Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iloveblue.com/?p=25200</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Agustin Rike Yuani (https://www.facebook.com/rike.yuani) Om Swastyastu Masih terlintas ketidakpercayaanku akan keyakinan yang aku jalani sekarang ini (hindu). Karena sejak kecil aku sama sekali tidak dibekali ajaran leluhur (hindu) karena semua keluargaku beragama islam. 20 tahun perjalanan hidupku menjadi seorang muslim (Agama pemberian orang tuaku). Sampai memasuki umur 21 tahun akhirnya aku benar-benar mendapat [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a><img src="http://ilovehindu.weebly.com/uploads/1/2/8/6/1286736/7099045.jpg?135" alt="Picture" /></a></p>
<div><span style="color: #000000;">Oleh : Agustin Rike Yuani (<a title="" href="https://www.facebook.com/rike.yuani">https://www.facebook.com/rike.yuani</a>)</p>
<p></span>Om Swastyastu<br />
Masih terlintas ketidakpercayaanku akan keyakinan yang aku jalani sekarang ini (hindu). Karena sejak kecil aku sama sekali tidak dibekali ajaran leluhur (hindu) karena semua keluargaku beragama islam. 20 tahun perjalanan hidupku menjadi seorang muslim (Agama pemberian orang tuaku). Sampai memasuki umur 21 tahun akhirnya aku benar-benar mendapat suatu petunjuk untuk meyakini bahwa hindu adalah jalan hidupku.</div>
<hr />
<div></div>
<p><span style="color: #000000;">Sejak kecil diriku sudah dikenalkan dengan lingkungan yang mayoritas muslim tepatnya di Desa Kandangan Kediri Jatim. Apalagi rumahku tepat bedampingan dengan mushola. Daerahku juga dekat dengan area religius, pondok pesantren aliran NU (Nadhatul Ulama). Jadi tanpa ada rasa janggal ataupun aneh, karena aku sudah terbiasa dengan lingkungan tersebut.</p>
<p>Aku dibesarkan dari 3 bersaudara. Kakakku perempuan sedangkan adikku laki-laki. Aku anak nomor 2 dari 3 bersaudara. Aku dan kakakku selisih 3 tahun sedangkan dengan adikku, aku selisih 4 tahun. Orang tuaku menganggap aku adalah anak yang paling manja dari saudaraku yang lain. Aku terbiasa hidup bersama kedua orang tuaku, memang sejak kecil aku yang paling dapat perhatian lebih di banding saudaraku yang lain. Mungkin bertepatan orang tuaku tidak terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Kakakku lebih dekat dengan nenekku, sedangkan adikku terbiasa dekat dengan budhe ku. Jadi ke-2 saudaraku lebih bisa mandiri dibandingkan aku. Aku begitu sangat dekat dengan orang tuaku. Mungkin dari situlah kepribadianku sedikit demi sedikit terbentuk menjadi anak yang manja. Serasa ingin diperhatikan dan sangat sensitif.</p>
<p>Saat usiaku beranjak umur 8 tahun aku dan saudaraku diajari orang tuaku cara sholat yang baik itu seperti apa. Tapi aku termasuk anak yang paling bandel sendiri diantara saudaraku. Kalau disuruh sholat dan mengaji aku tidak pernah mau. Sampai-sampai dipanggilkan guru ngaji jebolan dari pondok sekitar rumahku agar bisa membentuk keyakinanku. Sebenarnya aku menginginkan orang tuaku yang mengajarkanku membentuk keyakinanku. berhubung memang orang tuaku sangat sibuk dengan pekerjaannya, maka dengan terpaksa aku mengikuti kemauan orang tuaku. Setiap sore guruku mengajari sholat dan mengaji. Aku menurut saja memang aku tak paham apa yang diajarkannya. Yang ku bisa hanya mengikuti apa yang dikatakan guruku saja. Dalam hatiku malas untuk melakukan kegiatan rutin itu sehari-hari , selain itu aku begitu tak semangat karena yang mengajar orang lain bukan orang tuaku sendiri. Kadang kalau disuruh mengaji aku selalu beralasan sakit, kalau mengingat masa kecilku dulu jadi ingin ketawa.hehehehe. alasan yang tak bermutu.hehehehe. Aku merasa belajar sholat dan mengaji setiap sore sangat menyita waktu bermain bersama teman-temanku. Memang sejak kecil ajaran tentang keislamanku sangat kurang. Sehingga aku tak paham apa yang sudah diajarkan guruku saat itu.</p>
<p>Sudah 5 bulan aku mempelajari tentang ajaran¬¬ islam. Sampai memasuki materi tentang takdir, surga, neraka dan pahala yang sebelumnya belum ku ketahui di usia yang belum cukup umur untuk mengenal semua itu. Yang aku rekam dalam pikiranku saat itu adalah Guruku menjelaskan akan indahnya bisa hidup dialam surga. Apapun yang kita mau semuanya akan terkabulkan, jadi kalau ingin masuk surga kita harus selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Sedangkan neraka adalah kebalikan dari surga, semua orang-orang yang tidak menjalankan perintah Allah akan diberi siksaan sepanjang masa serta kebanyakan yang jadi penghuni neraka adalah kaum perempuan dan semua orang-orang kafir dimasukkan neraka. Sejak itu Aku mulai takut dengan semua yang disampaikan guru ngajiku. Dengan polosnya aku berupaya menuruti apa yang dikatakan guru ngajiku. Aku rajin sholat dan rajin mengaji, Padahal sebelumnya aku sangat malas kalau disuruh sholat ataupun mengaji.</p>
<p>Entah seiring berjalannya waktu aku mulai bisa berfikir akan arti adanya Allah dalam kehidupanku. Memasuki SMP aku berusaha menjadi anak yang taat dengan orang tuaku. Apapun yang di sampaikan orang tuaku aku selalu menurut meskipun aku jarang bersama orang tuaku tapi setidaknya komunikasi tetap terjalin. Aku berusaha menjadi anak yang baik untuk semua orang. Karena memang mulai awal SMP aku ikut suatu perkumpulan pengajian rutin di daerahku. Jadi lingkunganku terbentuk menjadi lingkungan para muslimah muda. Aku berusaha selalu ingin disegani oleh semua orang dilingkunganku. Aku selalu taat sholat dan mengaji di mushola samping rumahku. Aku berusaha membentuk keyakinanku tanpa bimbingan dari orang tuaku. Aku sangat menikmati menjadi seorang gadis muslimah, mempercayai semua yang diajarkan dalam keislamanku saat itu. Memang yang aku lakukan itu semata-mata karena aku ingin membuktikan ke orang lain meskipun aku jarang mendapatkan perhatian orang tuaku tapi aku tetap bisa membentuk kepribadianku sendiri, selain itu aku juga ingin menyenangkan hati orang tuaku karena aku sangat menyayangi kedua orang tuaku.</p>
<p>Awal memasuki ajaran baru kelas 3 SMP aku dikenalkan dengan teman sekolah kakak keponakanku yang selisih 2 tahun lebih tua denganku, dia kelas 2 SMA sebut saja dia Poeper. Dia pemuda hindu yang tinggal tidak jauh dari rumahku kurang lebih jarak 4 km. Awalnya aku belum tahu kalau Poeper beragama hindu, aku kira dia seorang muslim. Sebelumnya aku tak pernah sedekat ini dengan orang lain. Aku merasa menemukan teman pengganti orang tuaku yang jauh dariku. Setelah berteman dengan poeper aku merasa nyaman berteman dengan dia karena kepribadiannya sangat supel dan baik padaku. pertemananku dengan poeper mulai sangat dekat sampai akhirnya 22 agustus 2004 sama-sama memutuskan untuk berpacaran, meskipun dia beragama hindu. Bagiku pacaran ini adalah masa-masa puberku, hanya sekedar cinta monyet saja.</p>
<p>Saat berpacaran dengan poeper pertama kali yang menentang hubunganku adalah orang tuaku. Karena alasan keyakinan yang tidak seiman. Tapi aku berusaha memberikan pengertian kepada orang tuaku kalau hubunganku ini adalah masa penjajakan. Aku hanya ingin belajar mengenal dunia orang yang beda keyakinan. Awalnya orang tuaku tetap melarangku kalau tetap berhubungan dengan poeper, sampai aku nekad backstreet(pacaran diam-diam) hanya ingin lebih mengenal poeper lebih jauh. Berjalannya waktu Orang tuaku berusaha memahamiku meskipun dalam hati kedua orang tuaku sangat mengkhawatirkan keputusanku ini (takut aku terpengaruh oleh poeper terutama dalam masalah keyakinan).</p>
<p>Hubunganku dengan poeper berjalan 1 tahun sampai aku memasuki bangku SMA. Aku se SMA dengan poeper. Ketika itu aku masih kelas 1 dan dia kelas 3. Masih masa-masa kasmarannya.hehehehe. aku masih berpegang teguh dengan keyakinanku. Karena memang teman sekelasku boleh dikatakan alim. Sehingga sedikit demi sedikit aku terpengaruh oleh temanku. Aku merasa senang dengan lingkungan yang seperti itu, setidaknya bisa membantuku untuk lebih menguatkan keimananku. Aku masih menjalankan kewajibanku sebagai umat muslim. Aku sangat militan terhadap keislamanku. Meskipun aku dekat dengan poeper yang berbeda agama tetapi dia sangat toleran sekali dengan keislamanku. Setiap waktunya sholat dia selalu mengingatkanku, tanpa ada sedikitpun rasa militan dari seorang poeper. Dia bisa menghargai umat lain. Aku melihat poeper begitu flexibel, dia mampu menerima ajaran dari agama manapun tanpa ada rasa fanatik. Yang buat aku salut padanya , dia sangat berpegang teguh dengan kehinduannya. Memang dia terlahir dilingkungan keluarga hindu militan yang memiliki rasa toleran tinggi. Aku sering bertukar pendapat dengan poeper masalah agama. Aku sangat terheran-heran kenapa poeper sedikit banyak sudah memahami tentang ajaran islam, sedangkan aku sama sekali tidak tahu menahu soal ajaran hindu. Tanpa aku sadari tenyata poeper sudah lama memahami ajaran islam. Hal yang aku tahu, setiap jam istirahat sekolah poeper selalu menyempatkan waktunya di perpustakaan, buku yang dibaca adalah buku tentang agama islam. Aku pernah bilang ke poeper, “ emang boleh ya, orang hindu membaca buku agama islam”, poeper menjawab “tentu saja,boleh. Tak ada yang melarang”. Aku semakin bersemangat sekali menjalin hubungan dengan poeper karena aku kira dia mau belajar agama islam dan mau berpindah agama demi aku. Sedangkan aku sendiri sudah menutup pikiranku ”aku tidak boleh mempelajari buku agama lain karena aku takut berdosa yang hanya boleh aku pelajari adalah tentang ajaranku sendiri” (pikiranku yang masih terselimuti oleh doktrin), kalau bisa poeper harus mau mengikuti jalanku. Tapi semua dugaanku salah, poeper hanya ingin belajar perbandingan agama. Aku sedikit kecewa dengan cara poeper, tapi semua itu tidak mengurangi kerenggangan hubunganku dengan poeper.</p>
<p>Tak terasa hubunganku memasuki tahun ke 2, aku merasa sangat nyaman berada dekatnya. Sedikit demi sedikit aku mulai masuk di kehidupan keluarganya. Memang baru menginjak tahun ke 2 aku memberanikan diriku untuk menunjukkan diriku kepada orang tua poeper. Orang tua poeper menerimaku dengan senang hati tanpa merasa ada rasa militan padaku. Aku merasa nyaman masuk dalam kehidupan keluarga poeper. Tapi aku belum merasakan kedamaian ketika masuk didalam keluarga poeper, ketika itu pemikiranku masih terasa aneh saja masuk di keluarga hindu yang belum pernah aku temui. Aku mulai mengenal kebiasaan keluarganya, kebetulan rumah poeper berdampingan dengan pura. Pura Giri Nata Dusun Putuk-Kandangan Kab.Kediri Jatim, jadi aku sering melihat orang hindu bersembahyang di pura. Ternyata aku begitu awam melihat cara orang hindu bersembahyang. bagiku sangat aneh dan diluar pemahamanku. Rasa fanatikku mulai muncul ketika mengetahui cara orang hindu berdoa dan bersembahyang. Dalam pikiranku “ patung kok disembah, sembahyang pakai dupa dan bunga haduh benar-benar memuja setan” tapi aku masih sedikit memiliki rasa toleran meskipun dalam hati merasa aneh. Aku merasa menutup pemahamanku tentang hindu, karena aku tetap takut dosa kalau memiliki rasa ingin tahu akan hindu. Aku tetap meyakini islam adalah ajaran yang paling benar. Aku sempat bertanya pada poeper apa hukumannya buat orang hindu kalau keluar dari keyakinannya, poeper menjawab” Tuhan di hindu tidak menghukum umatnya, semua dari perbuatan manusia itu sendiri”.</p>
<p>Aku menyimpulkan sendiri, “jadi hindu percaya akan hukum karma?? “ poeper menjawab “ iya”. Poeper juga kembali memberi pertanyaan padaku “ apakah di islam juga percaya akan adanya hukum karma?? Aku jawab “tidak” , poeper “kenapa”??? karena Tuhan menciptakan manusia hanya sekali, jadi kalau manusia ingin memperbaiki perbuatannya harus di kehidupan sekarang, karena Allah tidak akan menciptakan kehidupan mendatang. Yang ada kehidupan sesudah mati yaitu alam barzah, manusia yang ada dialam kubur akan dibangkitkan dan diadili karena perbuatan dikehidupan semasa masih hidup. Semua itu akan bertepatan dengan datangnya hari kiamat. Kelihatannya poeper melihatku tampak gugup, jujur saja aku memang merasa gugup, takut kalau ditanya lagi aku tidak bisa menjawabnya. Poeper mungkin tahu kalau aku tak bisa menjawab lagi kalau akan diberi pertanyaan lagi, poeper hanya berkata padaku, “ karma akan melekat pada jiwa manusia meskipun raga setiap manusia tidak mempercayai akan adanya hukum karma”. Aku merasa kebingungan menjawab karena memang pengetahuanku masih sangat kurang. Yang aku tahu hanyalah dogma yang sudah melekat sejak kecil, takut akan kemurkaan Allah. Aku sangat ragu dengan jawaban yang aku berikan pada poeper. Akhirnya aku mencari informasi di buku-buku agama islam yang aku punya. Aku sama sekali tidak menemukan hukum karma dalam ajaranku. Tapi aku berfikir secara logika, “kalau di ajaranku tak mempercayai adanya hukum karma, tapi kenapa banyak umat muslim masih mempercayai hukum karma”. Aku semakin tak yakin saja melihat fenomena ini.</p>
<p>Saat aku memasuki ajaran baru kelas 3 SMA keimananku sedikit berkurang. Selalu saja ada masalah dalam kehidupanku. Terutama masalah keluarga. Padahal sebelumnya aku begitu sangat taat dengan ibadahku. Ketika aku mendapatkan masalah memang aku selalu begitu. Tak pernah ada kedamaian hati dan pikiranku ketika sholat ataupun membaca Al-Qur’an. Entahlah aku begitu capek dengan keadaanku saat itu. Aku berusaha taat beribadah tapi semuanya terasa percuma. Aku tak pernah sekalipun mendapat kedamaian dalam ibadahku. Rasa hambar menyelimuti sholatku. Aku merasa terpaksa untuk melakukan sholat serta membaca Al-Qur’an pun sudah tak pernah aku lakukan. Aku melihat teman-temanku selalu mengajakku sholat disekolah setiap istirahat ke 2 dan selalu mengajakku berdiskusi tentang ajaran islam. Bagiku merasa membuang waktu ku saja. Kadang kalau aku merasa bosan, aku sering absen dari ibadahku. Tapi rasa takut tetap menyelimuti pikiranku kalau aku meninggalkan ibadahku untuk sementara waktu. Rasa ini semakin hari semakin membuat aku bertanya-tanya, kenapa harus selalu beribadah padahal belum tentu ibadahku diterima oleh Allah. Rasanya Allah tidak pernah mendengarkan doaku. Aku bertanya pada diriku sendiri “ apakah ini memang takdirku diciptakan oleh Allah seperti ini??? rasa bertanya-tanya dan penasaran menyelimuti pikiranku. Entahlah aku capek sekali kalau memikirkan takdir ataupun cobaan dari Allah yang sudah diberikan kepadaku. Selang beberapa lama , dipikiranku masih merasa takut akan dosa. Aku tetap menjalankan sholat meskipun dalam hati tak ada niatan untuk sholat. Aku Sangat terasa terpaksa sekali apa yang aku lakukan ini. Poeper juga tak pernah bosan mengingatkanku untuk sholat tepat waktu, tapi aku jarang meresponnya.</p>
<p>Sejak saat itu aku mulai merasakan pergolakan batin dengan kehidupan yang aku jalani. mulai dari aku mengalami masalah keluarga yang tak kunjung selesai, dan itu benar-benar sulit untuk aku terima sampai aku sakit keras masuk rumah sakit selama 3 minggu. Sementara waktu aku ijin tidak masuk sekolah. Aku ingin menenangkan pikiranku. Aku merasa sangat putus asa , aku berfikir Allah memang tak menyayangiku, Allah tidak adil padaku. “ takdir apa yang direncanakan Allah untukku, sampai-sampai engkau begitu mengujiku”. Sejak saat itu Aku sedikit ada penolakan jalan yang sudah diberikan Allah padaku. Aku kembali mengingat apa yang dikatakan poeper, karma akan selalu melekat dalam diri manusia, meskipun manusia tersebut tidak mempercayai akan adanya hukum karma. Aku berfikir kembali menggunakan logika ku, kalau memang Allah sudah menciptakan takdir manusia berbeda-beda, tapi kenapa Allah masih seenaknya sendiri menghakimi semua perbuatan manusia kelak dialam barzah??? Padahal sudah jelas-jelas manusia diciptakan sesuai dengan takdir yang diberikan oleh Allah. Misalnya saja sejak dalam kandungan ada seseorang sudah ditakdirkan oleh Allah sangat miskin, sedangkan orang lain mendapatkan takdir yang sangat kaya raya.</p>
<p>Si miskin binggung mencari nafkah untuk melangsungkan kehidupannya sampai-sampai nekad mencuri, sebenarnya bukan salah si miskin dia mencuri karena si miskin merasa memang ini sudah takdir Allah sedangkan si kaya hidup serba bermewah-mewah dengan takdir yang diberikan oleh Allah. Bukankah ini sangat tidak adil???? Aku semakin ragu akan hakikat Tuhan dalam keislamanku. Mulai saat kejadian itu aku jarang sholat. Aku mulai mempercayai akan adanya hukum karma. Apa yang dilakukan manusia kelak, itulah yang akan dipetik dikehidupan masa yang akan datang. Tapi aku tetap bimbang dengan rasa percayaku ini, tanpa mempercayai semua itu aku tetap menjalankan aktifitasku seperti biasa tanpa beribadah. Aku merasa sangat nyaman karena pikiranku tak terbebani oleh kewajiban untuk selalu beribadah, biarlah aku dosa karena meninggalkan ibadahku sementara waktu. Aku ingin menenangkan pikiranku. Karena bagiku semuanya serasa seperti mainan. Pemikiran itu muncul secara tiba-tiba ketika perasaanku merasa sedih dengan pergolakan batin ini.</p>
<p>Tak terasa waktu berjalan begitu cepat sedangkan UAN (Ujian Akhir Nasional) akan berlangsung 1 bulan lagi. Hatiku terasa hampa ketika aku kehilangan rasa spiritualku, aku mulai kebingungan, aku merasa perlu perlindungan batin, perlu tempat mengadu. Aku merasa sudah melupakan Allah dalam waktu lama. Akhirnya aku kembali memutuskan untuk mau beribadah lagi, meskipun hati ini tak bisa menerimanya. Tapi berusaha iklas semata-mata untuk kelulusan ujianku. Tepat UAN berlangsung di bulan April, aku menyiapkan mental dan tenagaku untuk berusaha yang terbaik agar mendapatkan hasil sesuai harapanku. 1 minggu berlalu ujian nasionalku selesai, tinggal menunggu pengumuman 2 bulan lagi. Bagiku waktunya begitu lama.</p>
<p>Kembali ke hubuganku dengan poeper. Tak terasa hubunganku dengan poeper sudah berjalan 4 tahun. Sebelum pengumuman ujian nasional poeper meminta izin orang tuaku untuk mengajakku bertunangan. Aku merasa sudah siap untuk menjalani ikatan dengan poeper. Aku merasa poeper adalah orang yang tepat untuk menemani hidupku. Orang tuaku menyetujuinya mengingat hubunganku dengan poeper sudah berjalan lama, bagi orang tuaku tidak etis kalau hubungan ku dibiarkan terlalu lama kalau antara 2 belah pihak belum ada ikatan. Tapi dilain sisi aku bisa merasakan keterpaksaan orang tuaku menerima poeper. Karena calon pasanganku kelak adalah non muslim. Harapan orang tuaku kalau bisa aku harus bisa membawa poeper menjadi umat muslim. Jujur aku sangat terbebani akan semua itu. Tapi aku berusaha sedikit melupakan apa yang dikatakan orang tuaku. Tepatnya 20 mei 2008 poeper mengajak orang tuanya untuk bertemu dengan orang tuaku. Hari itu aku sangat senang bercampur sedih. Tapi semua itu tak mengurangi kebahagiaanku dengan poeper.</p>
<p>Pengumuman UAN semakin dekat, semakin membuatku gelisah. Aku berusaha meningkatkan sholatku lebih giat lagi. Setiap malam aku sholat tahajud agar aku bisa lulus ujian nasional. Tapi entah apa yang aku lakukan sepertinya tidak mendapatkan kedamaian ataupun mendapatkan hidayah dari Allah. Semua ibadahku serasa hambar. Memasuki bulan ke 6 tepatnya 16 Juni 2008 hasil UAN ku di umumkan, aku melihat namaku terpampang di papan pengumuman. Namaku dinyatakan “LULUS”. Aku sangat bersyukur sekali, hatiku begitu gembira. Tapi aku merasa apa yang kulakukan ini salah. Dalam hatiku “apakah ketika aku mendapatkan suatu cobaan, aku baru ingat dengan Allah”, “ketika aku merasakan kebahagiaan aku melupakan Allah”. Rasa bersalah menyelimuti perasaanku. Tapi semua ini tak bisa kupikir secara logika, semuanya terasa janggal.</p>
<p>Aku mulai memasuki perguruan tinggi swasta di Kediri dengan statusku yang sudah bertunangan. Aku tetap merasa percaya diri dengan statusku ini. Aku menutup diriku untuk setiap cowok di kampusku, karena aku sudah berkomitmen. Aku hanya ingin berteman saja tak lebih dari itu. Kebanyakan teman-temanku banyak yang berjilbab. Karena memang didalam kelasku hampir semua perempuan, laki-lakinya hanya ada 6 orang. Selain itu semua juga islam.</p>
<p>Aku sudah terbiasa dengan lingkungan itu. Tapi aku tetap tak pernah melaksanakan ibadah sekalipun. Aku sering jadi bahan omongan teman-temanku karena jarang melaksanakan ibadah, tapi aku tipe orang yang cuek dengan omongan orang. Bagiku biarlah orang berkata apa tentang aku, yang penting aku enjoy dengan apa yang aku jalani saat itu. Sampai aku dinasehati teman dekatku sendiri agar selalu ingat sholat. Kata-kata meraka pun aku terima saja tapi aku tidak pernah meresponnya seperti apa yang dikatakan poeper kepadaku. Dalam hatiku “ poeper saja sering ngingetin aku untuk sholat nggak aku respon , apalagi kalian. Boro-boro aku respon”.heheheheehehe. Aku merasa malas melakukan ibadah, memang sejak saat itu aku sudah melupakan kewajibanku kepada Allah. Sampai aku sering diomelin orang tua gara-gara tidak pernah menjalankan sholat. Tapi tetap tidak kujalankan sampai-sampai sering berbohong hanya gara-gara disuruh sholat. Entah apa yang ada dalam pikiranku saat itu. Aku hanya ingin pikiranku terbebas tanpa merasa tertekan. Berusaha membuang beban yang begitu mengikat pikiranku. Aku nyaman dengan yang kujalani saat itu.</p>
<p>Bulan suci ramadhan Agustus 2008 pun telah tiba, aku bimbang dengan perasaanku ini. Tapi aku tetap menjalankan puasa meskipun batin ini begitu tertekan dengan kewajiban ini. Aku serasa makin bertanya-tanya. Apakah yang aku lakukan ini semata-mata karena hanya mengejar suatu pahala??? Sedangkan aku berfikir apa gunanya pahala kalau aku hanya menjalankan puasa tanpa sholat. Jelas Allah tidak menerima puasaku, sama saja puasaku sia-sia. Jadi, aku memutuskan untuk tidak berpuasa saja. Aku pura-pura berpuasa ditengah-tengah keluargaku dan teman-teman kuliahku. Kalau waktunya sahur bersama aku ikut, kalau waktunya buka puasa bersama aku juga ikut-ikutan.hehehehehehehe, karena takut ditanya macam-macam. Selain itu aku juga merasa malu dengan keluargaku dan teman-temanku, masak udah dewasa kok tidak puasa. Hehehehehehe. Saat itu semua yang aku lakukan memang penuh kemunafikan. Tapi ya sudahlah, aku jalani saja selama aku tak membuat masalah dengan siapapun.</p>
<p>Aku mulai masuk semester III sampai semester V saat dimana masih senang merasakan kenikmatan dibangku kuliah.</p>
<p>Tapi entahlah sampai aku duduk dibangku sekolah sampai perguruan tinggi yang selalu membuat aku putus asa adalah masalah keluarga. Aku selalu terbebani dengan keadaan itu, kuliahku menjadi terbengkalai dan hanya poeper yang selalu ada saat hidupku merasakan keterpurukan. Aku melupakan segala kewajibanku sebagai umat muslim, melupakan ketakutanku dan kewajibanku pada Allah. Dalam pikiranku “percuma aku beribadah tapi selalu saja Allah memberiku cobaan tanpa henti”. Bukannya dengan sholat Allah akan mengurangi cobaannya padaku, ini justru serasa makin hari makin di berikan cobaan oleh Allah. Aku merasa sudah jenuh dengan keadaan itu.</p>
<p>Memasuki akhir semester V aku memutuskan untuk menempati kostku, karena sebelumnya aku kost tapi jarang aku tempati. Karena orang tuaku jarang dirumah, sering berpergian keluar kota. Selain itu poeper jg memutuskan transfer kuliah ke Jawa Tengah.</p>
<p>Aku merasa putus asa tak punya siapa-siapa lagi yang bisa mengisi hari-hariku karena ditinggal jauh oleh kedua orang yang sangat berarti dalam hidupku. Aku merasa sendirian. Sejak saat itu Aku berusaha belajar mandiri, berusaha menyikapi semuanya dengan kepasrahan. Lingkungan kostku semua hampir memeluk agama islam dan ibu kostku beragama kristen. Sejak saat itu aku mengaku agamaku hindu pada semua teman-temanku kost. Karena memang sebelumnya teman-teman kostku tak tahu agama asliku, yang tahu hanya satu orang teman kostku yang kebetulan sekelas denganku. Entah apa yang ada dalam pikiranku saat itu sampai aku mengakui kalau aku beragama hindu. Bagiku ini hanya buat senjata biar tidak digurui oleh teman-teman kostku yang sebagaian besar alim-alim dan rajin dalam beribadah. Ibu kostku juga tahu nya aku beragama hindu. Soalnya pada saat kost dulu aku tidak menunjukkan KTPku karena yang bawa aku adalah temanku satu kelas. Jadi ibu kost sudah percaya sama temanku itu. Untungnya dalam lingkungan kostku teman-temanku tidak merasa fanatik terhadapku. Tapi mungkin rasa fanatiknya tidak berani di tunjukkan padaku. Hanya saja temanku yang membawaku sangat heran padaku, dan bertanya kepadaku “sebenarnya agamamu apa sih???” , aku jawab dengan tampang cengar-cengir “ ada deh, mau tau aja”. Mungkin temenku penasaran sekali dengan agamaku, tapi aku biarkan saja daripada ditanya yang macem-macem.hehehehhe. Aku serasa tenang dengan mengaku hindu. Serasa tak ada tuntutan ketika aku beragama islam. Aku juga belum pernah mempelajari ajaran hindu. Biarpun poeper kelak akan menjadi pelabuhan terakhirku tapi sejak pacaran sampai bertunangan dia sama sekali tidak pernah mengajarkanku akan ajaran hindu.</p>
<p>Hanya sedikit demi sedikit membantu membuka pikiranku yang sempit ini.</p>
<p>Sejak poeper jarang dirumah, aku merasa tak punya teman. Akhirnya aku berusaha mencari hiburan untuk diriku sendiri. Aku berusaha lebih dekat dengan keluarga poeper. Bagiku keluarga poeper adalah pengganti poeper saat jauh dariku. Setelah pulang dari kuliah aku sering berkunjung kerumah poeper. Aku belajar memahami kehidupan keluarga poeper. Aku merasa nyaman ketika aku masuk di lingkungan keluarga hindu, seperti keluarga poeper. Aku merasa suasana seperti inilah yang aku cari sejak dahulu, merasakan kedamaian yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku ingin merasakan kedamaian ini seterusnya. Akhirnya Aku memberanikan diri meminta poeper untuk mau mngajarkanku ajaran hindu meskipun dalam hatiku ada sedikit pemberontakan antara boleh atau tidak, dosa atau tidak tapi aku tetap merasa ingin belajar agama hindu. Aku tidak mempedulikan semua itu, karena aku ingin belajar dari kedamaian yang diperoleh poeper dan keluarganya. Pertama kali poeper meminjami aku buku berjudul UPADESA. Aku mempelajari satu persatu materi buku tersebut, aku masih merasa awam dengan kalimatnya. Aku meminta poeper untuk mau membimbingku agar aku bisa belajar step by step. Dan akhirnya aku paham dengan isi buku upadesa.</p>
<p>Poeper juga mengajarkan ku cara sembahyang, Aku senang sekali meskipun aku awam dengan cara sembahyangnya. Setelah mempelajarinya aku di kenalkan poeper sebuah video berserta teksnya, yaitu “MANTRAM GAYATRI”. Aku diberitahu poeper, mantram gayatri ini adalah doa untuk sembahyang. Aku putar video itu berulang-ulang dan aku benar-benar merasakan kedamaian, aku merasakan beban yang aku rasakan menghilang ketika mantram gayatri aku dengar berulang-ulang. Aku berusaha menghafal kalimat mantram gayatri per bait sampai akhirnya aku menghafalnya. Dengan berjalannya waktu sedikit demi sedikit aku bisa mengetahui dan memahami ajaran hindu. Tuhan di hindu selalu ada dalam jiwa(atman) setiap manusia. Pikiranku mulai terbuka pelan-pelan. Dari yang pemahamanku hanya islam lah agama yang paling benar sekarang aku sedikit paham kalau hindu tidak lain juga mengajarkan kebenaran. Agama yang mengajarkan toleran sangat tinggi, agama penuh cinta kasih tanpa membedakan siapapun itu, dari mana asalnya, tidak membenci sesama mahkluk (tat twam asi).</p>
<p>Aku membaca Bagawad gita sampai akhirnya Aku menemukan sesuatu yang membuat hatiku sangat gembira dan terharu yaitu dari sloka Bhagawad Gita (4:11) berkata “ Jalan manapun yang ditempuh manusia untuk mendekati aku, dengan jalan itu aku terima mereka;jalan manapun yang mereka pilih pada akhirnya mereka akan mencapai aku”. Dalam hatiku, “ inilah yang aku cari” Aku sangat yakin dengan sloka bhagawad gita ini. aku menyimpulkan bahwa Tuhan hindu menerima semua ajaran selain hindu. Tuhan hindu tidak membedakan dengan umat lain seperti “wahai umat hindu” , semuanya disebutkan untuk semua mahkluk , tuhan hindu sangat adil tanpa membedakan dengan mahkluk lainnya, Ajaran hindu tertuju untuk siapa saja karena hindu agama universal, ajaran hindu juga mengajarkan toleransi yang sangat tinggi. berbeda dengan ajaran islam, Tuhan dalam islam menyebutkan semua manusia hanya umatnya saja seperti “wahai orang-orang yang beriman”, selain menyembah Allah dikatakan kafir, selain umat islam halal darahnya, tak ada toleransi dalam keimanan dan peribadatan. Disebutkan dalam surat Al-Taubah ayat 13 dan Surat Al-Kafirun orang kafir patut diperangi, dan masih banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang selalu disebutkan tentang orang kafir.</p>
<p>Seolah-olah ada pembeda antara umat islam dengan umat lain. Aku semakin ragu kenapa aku baru tahu kalau islam banyak mengajarkan kekerasan?????? Kalau memang benar itu Tuhan yang berbicara, kenapa mesti melakukan provokasi??? Sejak saat itu pula aku memikirkan banyak kejanggalan dalam ajaran islam. Aku lebih teringat sloka bhagawad gita(4:11) yang aku baca, sebenarnya aku sangat yakin dengan sloka tersebut, tapi banyak keanehan yang membuat aku bertanya-tanya dari kebiasaan orang hindu. Cara sembahyang orang hindu memakai dupa dan bunga, setiap sembahyang selalu bertepatan dengan hari jawa yaitu kliwon terasa sangat mistis sekali. Ketika itu pikiranku kembali sempit, doktrin itu muncul lagi aku merasakan keanehan. Bagiku dupa dan bunga kan untuk memanggil mahkluk halus (pemikiran yang sempit). Melihat ada gambar-gambar dewa dewi, aku merasakan keanehan itu. Kenapa tuhannya banyak sekali. Mana yang harus disembah dahulu, dan bla bla bla&#8230;..Terasa ada keanehan dari ajaran ini. Akhirnya aku kembali meminta poeper untuk menjelaskan makna-makna pertanyaanku itu. Aku banyak bertanya kepada poeper tentang sarana yang digunakan dalam bersembahyang, tentang dewa dewi , tentang hakikat tuhan dalam hindu. Poeper menjelaskan semua apa yang aku tanyakan, Aku tersenyum lebar ketika poeper menjelaskan semua itu, aku mendapat jawaban yang bisa dinalar oleh pikiranku. Aku yakinkan diriku dengan penuh kesadaran.</p>
<p>20 Februari 2011 suasana menyongsong hari raya nyepi sudah tampak terlihat. Umat hindu di daerah poeper bekerja bakti membersihkan pura. Ketika itu aku hanya melihatnya saja, sebenarnya ingin membantu tapi aku minder berbaur dengan lingkungan sekitar. Aku diberitahu poeper kurang lebih satu minggu lagi akan mengikuti upacara melasti di bendungan siman yang jaraknya (kurang lebih 10km) dari rumahku, merupakan rangkaian proses upacara hari raya Nyepi. Aku belum tahu melasti itu apa, tapi pemahamanku adalah dimana semua umat hindu yang tinggal di kabupaten Kediri berkumpul di bendungan siman untuk melangsungkan acara persembahyangan. aku bilang ke calon mertuaku , “aku ingin ikut melasti buk”. Dan Ibu camerku langsung mengajakku untuk membeli baju kebaya, dan pertama kali itulah aku memiliki pakaian adat (sembahyang). Senang sekali aku memilikinya. Kucoba kebaya itu dan berkaca berulang-ulang selayaknya anak kecil yang baru dibelikan baju baru oleh ibunya.hehehehehe, Aku merasa percaya diri memakai nya.</p>
<p>Dalam benakku berkata “ternyata perempuan kalau memakai kebaya sangat anggun sekali dan terlihat cantik”. Beda ketika aku masih sering beribadah dengan keislamanku. Aku harus menutup auratku, tak boleh ada satupun aurat yang terlihat. Saat wudhu semua harus terhindar dari sisa-sisa bedak dan najis Sampai aku berfikir sangat konyol “masak mau menghadap kepada Tuhan harus serba tertutup dan tak kelihatan cantiknya karena merias wajah sedikitpun nggak boleh.heheheheehehehe ” padahal menurutku kalau mau menghadap Tuhan kita harus menunjukkan anugrah yang diberikan Tuhan kepada kita, seperti berias saat mau sembahyang kan pasti kelihatan segar dan cantik. Masak kalau mau berias hanya untuk kekasihnya aja.hehehehehe.</p>
<p>Itu pemikiran yang konyol menurutku, tapi masuk akal juga sih.hehehehe.</p>
<p>Pada tanggal 02 Maret 2011 telah sampailah acara melasti tersebut, dan aku mengikuti melasti di bendungan siman bersama poeper dan keluarganya, aku senang bercampur sedikit merasakan keanehan karena baru pertama kali itu juga aku mengikuti melasti dan sembahyang. Aku masih ragu karena minder takut salah dalam bersembahyang. Apalagi cara duduk sembahyang laki-laki dan perempuan itu beda. Kalau laki-laki hanya duduk bersila (Padmasana) sedangkan perempuan duduk bersimpuh (Bajrasana). Aku masih belum terbiasa duduk bersimpuh karena bersimpuh terlalu lama membuat kakiku terasa sakit sekali, sehingga mengganggu konsentrasiku dalam bersembahyang.</p>
<p>Tepat 4 Maret 2011 malam perayaan tawur agung pun berlangsung didaerah tempat poeper.</p>
<p>Aku masih belum yakin untuk mengikuti persembahyangan di pura dekat rumah poeper, karena aku masih minder untuk bersosialisasi dengan lingkungan umat hindu dan ingin lebih memantapkan pilihanku ini. Aku tidak ikut persembahyangan, sebenarnya ingin sekali mengikutinya tapi tertutup dengan keminderan dan kebimbanganku aku memutuskan untuk tidak ikut.</p>
<p>Tapi aku mulai sangat menyesal, dalam hatiku aku merasa tersiksa ketika melihat kekompakkan umat hindu itu, mereka bersemangat sekali meskipun dalam keadaan cuaca yang hujan tapi semangatnya sangat luar biasa, aku iri melihatnya. Aku ingin sekali merasakannya masuk dilingkungan itu. Rasa keinginanku tak terbendung melihat semua itu aku menangis tak tertahan, begitu menyiksa hatiku karena belum pernah merasakan pergolakan batin yang seperti ini. Aku hanya bisa melihat, dan merasakan penyesalan yang sangat dalam. Aku berkata pada diriku sendiri, “aku terlalu bodoh, kenapa aku mengikuti rasa egoku yang membuatku menyesal tak bisa mengikuti arak-arakan itu”. Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB , arak-arakan mulai kembali didepan pura Giri Nata, saatnya untuk mengkremasi patung buta kala yang sebelumnya diarak keliling desa. Aku mendekat dari karamaian itu, aku didampingi poeper yang setelah mengikuti arak-arakan tersebut. Tepat jam 22.00 WIB acara arak-arakan selesai, dan suasana tempat poeper berubah menjadi hening sekali. Aku diantarkan pulang oleh poeper.</p>
<p>Keesokkan harinya 5 Maret 2011 tepat jam 06.00 WIB poeper mengirimkan pesan singkat padaku “ Doakan Catur Brata ku berjalan lancar ya”. Aku menjawab “iya, semoga semuanya berjalan lancar”, tapi pesanku tidak terkirim karena memang hp nya sudah di off. Aku bertanya-tanya kembali, ketika Catur Brata hal apa saja yang dilakukan, mengingat poeper juga pernah bercerita kalau saat melaksanakan catur brata semua aktivitas harus di hindari dan berpuasa 24 jam. Aku penasaran sekali, apa yang dia kerjakan saat itu. Aku berangan-angan seandainya aku bisa mengikutinya, apa yang aku lakukan saat itu. Saat poeper menjalankan Catur Brata, aku berusaha mempelajari buku-buku yang dipinjaminya. Mulai dari buku berjudul “Apakah Saya Beragama Hindu” ,”Panca Sradha” lainnya tak bisa kusebutkan satu per satu. Karena memang Ayah poeper seorang Guru agama Hindu, jadi tidak heran kalau poeper memiliki banyak buku tentang agama hindu. Pengetahuanku semakin luas tentang ajaran Hindu.</p>
<p>Aku berusaha memantapkan pikiranku , mungkinkah aku beragama hindu???? Aku takut dengan perasaanku ini, takut ada pertentangan dari orang tuaku, sahabatku dan orang-orang disekitarku. sampai doktrin itu kembali muncul, “ apakah aku berdosa???? aku tak pernah beribadah. Memang saat itu sangat sulit membuang doktrin yang menylimuti pikiranku sejak kecil.</p>
<p>Bagaikan menghapus coretan hitam diatas kertas putih. Aku menangis merasakan hal ini. Aku merasa tak berguna, kepada siapa aku mengadu??? Terlepas dari semua itu aku menjalankan kehidupanku tanpa berkeyakinan. Aku masih merasa simalakama. Tak ada yang perlu aku pertahankan saat itu. Dalam keislamanku aku merasa tertekan dan ragu akan ajarannya, sedangkan dikeyakinanku terhadap hindu aku merasa takut jika orang tuaku tak akan menerimaku lagi. Sementara itu aku berusaha tak memepedulikan kedua ajaran itu. Aku merasa agnoistik (kadang tidak percaya adanya tuhan kadang pula percaya tuhan itu ada).</p>
<p>Awal juli 2011 poeper memberitahuku sebentar lagi hari raya galungan dan kuningan. Perasaanku masih bimbang ikut apa tidak ya??? Tapi aku sudah ada niatan untuk membeli kebaya lagi meskipun entah nantinya akan aku buat apa, karena memang saat itu aku belum yakin sepenuhnya memilih hindu sebagai jalanku. Tepat tanggal 16 juli 2011, hari raya kuningan berlangsung. sebenarnya sebelumya sudah merayakan hari raya galungan 10 hari sebelum kuningan. Tapi aku berhalangan hadir. Ini pertama kali aku mengikuti persembahyangan di pura giri nata dengan memakai kebaya yang aku beli sebelum hari raya galungan dan kuningan. Aku merasa percaya diri dengan kebaya yang aku pakai. Tapi jujur aku masih merasa bingung juga karena masih merasa belum terbiasa. Dan aku juga belum mendapat kepastian dari pilihanku.</p>
<p>Selang lima bulan kemudian, aku serasa benar-benar merasa Tuhan menyayangiku.</p>
<p>Aku serasa mendapat jawaban atas pencarianku selama ini, mungkin ini petunjuk bagiku agar aku bisa memantapkan hati untuk memilih keyakinanku. Tepat tanggal 08 oktober 2011 aku bermimpi, didalam mimpi tersebut aku serasa hendak masuk ke suatu pura seperti pura besakih karena puranya hampir menyerupai besakih. Aku berjalan menuju tempat di depan pintu pura , tiba-tiba ada ibu-ibu yang bertanya padaku “ dek mau sembahyang ya??? Aku menjawab “ sebenarnya saya ingin sembahyang bu tapi lupa tidak membawa pakaian adat” , karena dalam mimpiku aku masih mengenakan kaos warna putih dan jeans panjang.</p>
<p>Saya turun dari tangga untuk kembali pulang mengambil pakaian adat. Tiba-tiba arah yang aku tuju bukan kearah rumahku, tapi aku masuk di suatu tempat yang sedikit agak petang. Ternyata aku masuk di suatu rumah yang tak sengaja aku melihat ada lukisan dibingkai warna emas dengan gambar tokoh pewayangan “SEMAR”(disebut sebagai Sang Hyang Ismaya, tokoh filosofi Jawa) yang background gambarnya berwarna merah. Aku lihat terus gambar semar itu, sampai aku merasa ada keanehan dengan gambar itu. Merasakan semar itu mau berbicara padaku, serasa ada sesuatu yang ingin disampaikan. Tapi aku terkejut dengan adanya bapak-bapak yang menghampiriku dan bertanya secara langsung kepadaku “Nduk kamu agamanya apa?? Saya jawab “ saya beragama hindu pak”, bapak-bapak itu kembali bertanya padaku “ kamu baru ya jadi hindu???” saya kaget dengan perasaan bingung, tapi saya menjawab “iya” dengan sedikit malu dan takut, bapak itu bertanya lagi “ kenapa kamu memilih beragama hindu???? saya menjawab dengan tegas “ karena saya mencari Tuhan yang mencintai semua mahkluk, tidak seperti ajaran saya terdahulu yang selalu mengisi pikiran saya dengan doktrin yang semakin hari membuatku takut”. tepat jam 08.05 WIB aku terbangun dengan perasaan yang sangat terharu dan sedikit takut.</p>
<p>Memang saat itu bangunku kesiangan, aku terlalu menikmati mimpi itu. Kenapa aku bermimpi seperti itu, aku berfikir apakah semua ini petunjuk untukku??? Aku menyimpulkan makna mimpiku itu, aku akan diberi petunjuk kalau aku memang akan sembahyang dipura, dipikiranku petunjuk apakah itu?? apakah aku harus pergi ke besakih?? Karena yang terlihat pura itu menyerupai besakih. Dan Sesosok Tokoh pewayangan Semar, tokoh yang sangat arif dan bijaksana. Apakah aku harus bisa memilih pilihanku secara bijaksana seperti halnya sifat yang dimiliki oleh tokoh Semar ????.</p>
<p>Aku bertanya-tanya kembali, Apakah mungkin makna mimpiku seperti itu??? serta bapak-bapak yang bertanya tentang keyakinanku itu, apa menunjukkan kalau aku memang yakin dengan pilihanku itu. Apakah ini jawaban dari semua perjalanku selama ini. Aku teringat kembali sloka bagawad gita (4:11). Aku merasa ada semangat, merasakan ada keajaiban yang membuatku sangat yakin dengan jalan yang aku pilih ini. Pertama kali aku mendapatkan mimpi yang bagiku adalah suatu anugrah dari Sang hyang Widhi. Aku menangis terharu, dalam hatiku “Sang Hyang Widhi terimakasih atas jawaban yang engkau berikan kepadaku” Aku tak banyak bertanya-tanya lagi akan makna dari mimpi itu, karena bagiku memang semua sudah jelas itu petunjuk Sang Hyang Widhi untuk memantapkan pilihanku.Tanpa ragu aku benar-benar memutuskan untuk meyakini kalau agamaku sekarang hindu. Aku berfikir ini adalah awal dimana aku memulai menuju jalan hidupku. Jadi apapun yang akan terjadi aku akan tetap mempertahankan demi keyakinanku. Aku siap apapun konsekuensinya.</p>
<p>Saat itu aku tak berani bercerita kepada kedua orang tuaku. Hanya poeperlah yang aku ajak sharing tentang mimpi indahku itu. Perasaan bahagia bercampur terharu, aku berfikir “Sang Hyang Widhi memang sangat menyayangiku”. Aku mencoba membuka FBku dan update status, karena ingin berbagi apa yang aku rasakan saat itu. Tapi tanpa diduga banyak sekali yang koment tentang apa yg aku rasakan saat itu. Tak sedikitpun dapat tanggapan bagus, banyak pro dan kontra. Terutama sahabat-sahabatku semasa SMA, mereka menentangku mentah-mentah kalau aku dilarang untuk masuk hindu. Sampai-sampai aku mendapat cacian dan sikap yang tidak mengenakkan. Sempat juga aku diajak debat oleh salah satu temanku yang beragama islam dia begitu fanatik terhadap agama lain.</p>
<p>Sebut saja dia “Mr. A”. Dia mengejekku aku kafir, karena keluar dari agama islam. Dia berusaha ngajak ngobrol aku, “Mr.A” sedang berusaha mempengaruhiku untuk bisa kembali ke agama islam. Dia bilang kepadaku “Allah tidak akan memaafkanmu karena kamu sekarang kafir jadi cepatlah kembali keislam, aku jawab “kenapa kamu bisa berkata seperti itu padaku???? Emang kamu tahu hakikat Tuhan dalam agamamu??? “Mr.A balik menjawab ”jelas tahu”. Kamu sudah menjadi kafir, jadi Allah akan menghukummu dineraka kelak, aku menjawab “Bagiku yang hanya bisa menghukum aku adalah perbuatanku sendiri yang aku lakukan dikehidupan terdahulu, sekarang dan dikehidupan mendatang. “Mr.A” malah gak bisa jawab, malah kembali menjugde “hindu menyembah berhala dan selalu menggunakan dupa dan bunga untuk sembahyang, benar-benar memuja setan ” aku teringat pernyataan ini, karena aku dulu juga sempat berfikir seperti itu, aku kembali menjawab “Bagiku hindu tidak menyembah patung, karena Tuhan selalu ada dalam setiap jiwa manusia itu sendiri. Kalau memang kamu menganggap hindu menyembah patung apakah di islam juga sama halnya dengan anggapan kamu menyembah berhala??? Lihat saja ka’bah yang berdiri kokoh di mekkah itu juga terbuat dari batu.</p>
<p>Umat muslim begitu memujanya, menciumi batu hajar aswat, apakah itu bukan dianggap berhala. si Mr.A hanya diam, aku menjawab kembali Sedangkan dupa dan bunga digunakan untuk sembahyang itu adalah sebagai simbol upasaksi, atau sang penyaksi dari sembahyang yang umat hindu lakukan meyakini simbol dari sinar sucinya Tuhan, eh jangan salah nanti para penghuni surgamu juga akan mempunyai pedupaan yang dibuat dari kayu gahara (keterangan dari Abu Hurairah r.a). Aku menjawab lagi ketika dia tak bisa jawab” aku asalnya islam friend , jadi aku sudah bisa bandingkan mana yang baik untuk diriku mana yang buruk pula untuk diriku, jadi tak perlu kamu menjudge aku seperti itu. belum tentu apa yang kamu lakukan baik di mata Tuhan. Akhirnya si Mr.A tak bisa menjawab lagi. Dan pergi dengan nada kasar. Batinku “ sukurin lu, niat ngajak debat malah gak bisa jawab”. Hehhehehe&#8230;.</p>
<p>Keesokkan harinya tepat minggu kliwon, aku ingin sekali mengikuti persembahyangan kliwon. Akhrinya poeper mengajakku ke pura giri nata untuk kedua kalinya. Tapi dalam kesempatan ini aku masuk pura merasakan ada sesuatu yang sangat berbeda. Aku merasakan kedamaian dan ketenangan dalam hatiku. Serasa masuk dirumahku sendiri, serasa iklas dengan penuh kesadaran. Berbeda ketika aku mengikuti hari raya kuningan 16 juli 2011 yang lalu, ketika belum memahami arti menjadi hindu. Bagiku ini benar-benar anugerah dari Sang Hyang Widhi.</p>
<p>Sejak saat itu aku mulai membentuk keyakinanku dengan penuh bhakti kepada Sang Hyang Widhi. Aku semakin membentuk pribadiku semakin religius. Aku merasa semakin hari semakin dekat dengan Tuhan. serasa sudah menemukan jati diriku. Setiap masuk hari kliwon dan purnama aku selalu ikut persembahyangan, rasanya sangat bersemangat sekali untuk mengikutinya. Rasa minder ku sedikit demi sedikit mulai menghilang. Aku memberanikan diri untuk sembahyang sendiri dipura tanpa ada poeper ataupun orang tua poeper. Aku sudah berprinsip “masak mau sembahyang harus ada yang menemani”. Meskipun tidak ada yang menemani, Sang Hyang Widhi selalu menemani dimanapun aku berada.</p>
<p>Berjalannya waktu, aku menyampaikan keinginanku pada poeper kalau aku ingin segera di “Sudhi Wadani”. Poeper pun menyampaikan ke orang tuanya, tapi katanya menunggu kalau pas “Pawiwahan” saja. Sebenarnya keinginanku sudah menggebu-gebu. Karena aku sudah memiliki jiwa militan terhadap hindu. Berhubung sudhi wadani butuh biaya banyak, aku berusaha bersabar. Merasakan kedamaian itu sudah merasa cukup.</p>
<p>Sejak itu orang tuaku tidak tahu jalan pilihanku ini, aku merahasiakannya didepan orang tuaku. Karena dengan aku diam orang tuaku tidak akan marah padaku. Aku berusaha selalu bersikap biasa di depan orang tuaku, dan orang tuaku juga tak merasa ada perbedaan padaku. Aku juga berusaha menjaga ini semua. Karena bagiku ini bukan waktu yang tepat untuk aku sampaikan ke orang tuaku.</p>
<p>Tepat memasuki pertengahan oktober gempa menimpa pulau Bali. Bertepatan kedua orang tuaku mendapatkan pekerjaan di Bali. Aku sangat mengkhawatirkan keadaan kedua orang tuaku. Aku sangat bersyukur orang tuaku masih dilindungi oleh Tuhan. Tapi entah dapat cobaan apalagi menimpa keluargaku tanggal 19 oktober 2011 tepatnya pukul 18.30 WITA, aku mendapat berita yang membuat aku terpukul sekali. Aku diberitahu Ibuku kalau ayahku mengalami kecelakaan di Denpasar, tapi tempat kejadian kecelakaan ayahku jauh dengan tempat kerjanya. Ayahku ditabrak oleh penduduk asli bali.</p>
<p>Aku tak bisa menahan kegelisahan memikirkan ayahku. Ayahku dirawat di RS Sanglah Denpasar. Ketika dirawat di RS tersebut dalam waktu tiga hari ayahku sudah dipulangkan oleh dokter. Aku heran kenapa dalam waktu secepat itu ayahku sudah dipulangkan. Dilihat dari hasil rontgen dan cityscan tak ada tanda-tanda apapun. Tapi keadaan ayahku melemah. Entah apa yang dikeluhkan ayahku. Serasa ada kekuatan magis yang mempengaruhi keadaan ayahku. Konsentrasiku terhadap kuliah mulai terbengkalai lagi. Serasa aku ingin menyusul ayahku di Bali, tapi serasa tidak mungkin karena bertepatan dengan waktu PPL (Praktek Pengalaman Lapangan) ku. Memasuki awal november keadaan ayahku bukannya tambah membaik, tapi semakin memburuk saja.</p>
<p>Akhirnya ayahku meminta paksa pulang ke Jawa. Didalam perjalanan keadaan ayahku semakin drop. Ibuku merasa tak kuat melihat keadaan ayahku, sampai akhirnya dimasukkan di RS swasta. Untungnya RS tersebut tidaak terlalu jauh dari rumahku. Jadi aku bisa jenguk ayahku secepatnya. Sudah satu minggu ayahku di rawat di RS tersebut tapi keadaan ayahku semakin parah saja. Aku pasrahkan kepada Sang Hyang Widhi, jika memang saat ini ayahku akan di ambil , ambilah. Jangan siksa ayah ku seperti ini. Ayahku merasakan kesakitan hebat di bagian kepala dan pinggangnya. Sampai akhirnya ayahku di rujuk Di RS. Kristen Surabaya, kebetulan kakak tiriku bekerja di RS tersebut. Setelah di cek ternyata ayahku mengalami keretakan pada tengkorak kepala dan pendarahan ginjal yang sampai membuat ginjal kirinya rusak. Aku tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya. Tapi aku berusaha berdoa sebisaku.</p>
<p>Aku duduk di samping ayahku ,aku tenangkan ayahku dengan aku usap pelan-pelan pinggang ayahku dengan doa “mantram gayatri” aku ucap pelan-pelan dengan penuh keyakinan sampai ayahku berhenti merasakan kesakitan itu. dengan pelan-pelan pula ayahku tertidur. Aku menangis terharu didekat ayahku Aku bersyukur “Astungkara” terimakasih Sang Hyang Widhi atas kuasamu, ini keajaiban yang sangat berharga untukku dan nyawa ayahku. Memasuki waktu hampir satu minggu aku tidak mengunjungi ayahku karena memang aku harus membagi waktuku dengan kuliah dan PKL ku. Keadaan ayahku semakin membaik dibanding dengan keadaan sebelumnya, tapi masih belum diperbolehkan untuk pulang. Semenjak aku berada dirumah aku bersembahyang sebisaku.</p>
<p>Setiap malam tepat jam 00.00 WIB aku mulai menyalakan dupa bergegas sembahyang. Aku memohon maaf atas setiap apa yang aku lakukan, mendoakan agar ayahku agar diberi kesembuhan. Aku duduk didepan dupa yang aku nyalakan, aku mulai merenungi kejadian demi kejadian yang menimpa keluargaku. Aku berfikir semua ini memang karma masa lalu yang menimpa keluargaku. Tapi aku mulai befikir, memang benar keajaiban terletak pada keyakinanku “mantram gayatri” adalah penuntun segalanya. Aku menangis tak tertahan. Aku terharu “betapa indahnya karuniamu Sang Hyang widhi atas keyakinan yang aku peroleh saat ini” ucapan syukur aku ucapkan berkali-kali dengan sedikit terisak-isak. Hampir dua jam aku duduk di depan dupa , waktu beranjak pukul 02.00 WIB , aku beranjak tidur karena harus bangun pagi.</p>
<p>Genap tiga minggu ayahku sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, karena keadaan ayahku sudah cukup baik. Satu yang aku ingat saat itu yang keadaan ayahku masih tak memungkinkan untuk bisa bertahan hidup tapi ini benar-benar suatu keajaiban. Aku hampir tak percaya , dalam hatiku adalah ini anugrah Sang hyang Widhi yang sudah mengabulkan doaku melalui “gayatri mantram”.</p>
<p>Sejak saat itu pula ayahku berhenti kerja sampai sekarang. Tapi aku sangat bersyukur masih bisa melihat ayahku dan ibuku. Aku melihat ada kedamaian dalam keluargaku yang sebelumnya belum pernah aku dapatkan langsung dilingkungan keluargaku. Aku mulai senang bisa berkumpul lagi bersama orang tuaku. Orang tuaku memutuskan dirumah saja menemani aku dan saudaraku.</p>
<p>Aku tetap menjalankan prinsipku dengan kehinduanku. Aku tetap menjalankan sembahyang seiklas aku menjalaninya, tanpa merasa ada paksaan dalam hatiku. Awalnya aku sembahyang di rumahku sendiri tidak berani memakai dupa, karena aku masih menghargai keluargaku dan orang disekitar rumahku. Takutnya punya pikiran macam-macam. Tapi sebulan kemudian aku memberanikan diri untuk sembahyang memakai dupa, setelah sembahyang dupa aku matikan. Dan tak ada yang komplain ketika itu. keluargaku tak ada rasa curiga apapun padaku terutama orang tuaku. Mungkin orang tuaku sudah tahu apa yang aku lakukan mereka diam saja, dan berusaha menerima apa yang aku lakukan. Orang tuaku juga tidak pernah mengingatkan aku sholat seperti halnya yang pernah dilakukannya padaku. Aku sedikit lega ketika orang tuaku bersikap seperti itu. Mungkin dalam benak orang tuaku ,”sudah tak patut jika aku memaksakan kehendak anakku”. Tapi orang tuaku tak pernah mengajakku berbicara masalah keyakinaku. Serasa semua ini tak di permasalahkan. Aku merasa semuanya memang rencana Tuhan, tak lupa aku ucap syukur kepada Sang Hyang Widhi.</p>
<p>Menjelang hari natal tiba, bertepatan kuliahku libur tanggal 22 Desember 2011 aku minta izin orang tuaku untuk berlibur ke klaten jateng, tempat poeper kuliah. Rencana nya poeper mengajakku tirta yatra ke Candi Cetho yang terletak di dusun Ceto Desa Gumeng Kecamatan Jenawi Kabupaten Karanganyar jawa tengah. Aku begitu sangat antusias sekali karena baru pertama kali juga aku berwisata religi. Keesokkan harinya tepat Jam 07.00 WIB Aku bergegas siap-siap menuju lokasi tirta yatra. Cuaca saat itu begitu sangat cerah menggambarkan situasi hatiku. Kurang lebih 2,5 jam perjalanan akhirnya aku dan poeper sampai candi cetho. Di daerah candi cetho aku merasakan suasana pedesaan yang sangat alami, benar-benar melihat kuasa Sang Hyang Widhi.</p>
<p>Aku terheran-heran bagaimana para leluhurku ini bisa membuat candi cetho ini, hampir pada ketinggian 1400m diatas permukaan laut. Benar-benar luar biasa. Aku terkagum-kagum dengan suasana itu. Sebenarnya aku ingin sembahyang di candi cetho tersebut, tapi berhubung aku sedang cuntaka aku berusaha minta izin pada para leluhur kalau tujuanku baik, hanya ingin melihat keindahan yang sudah di buat oleh para leluhur. Aku berfoto-foto mengahabiskan waktuku disana. Aku merasakan kedamaian berada disana. Rasanya aku tak ingin pulang. Aku merasa sudah betah tinggal disana. Tak ada halangan apapun ketika aku berada disana, karena aku berfikir” aku sudah izin kepada leluhurku, dan berdoa kepada sang hyang widhi.</p>
<p>semua ini aku lakukan karena semata-mata aku ingin berbhakti kepada leluhurku”. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB, aku dan poeper memutuskan untuk lanjut ke perjalananku selanjutnya, ke situs Menggung. Situs ini adalah tempat moksa-nya Raja Majapahit terakhir – Prabu Brawijaya V. Didalam perjalananku menuju situs menggung ada keajaiban. Mendung sangat tebal menyelimuti perjalananku dan poeper. Aku serasa tampak panik, dalam hatiku “sebentar lagi hujan akan turun”, poeper berkata padaku “ kita lanjut perjalanan atau pulang saja”, aku bingung. Tapi aku merasa tetap ingin ke sana (situs menggung). Gerimis sudah mulai turun, perjalanan tetap aku lanjutkan dengan poeper sembari berfikir. Akhirnya aku bilang ke poeper,”kita lanjut perjalanan saja”. Didalam perjalanan aku berdoa, aku memohon izin kepada Sang Hyang Widhi agar merestui tujuan spiritualku ini”.</p>
<p>Aku mengucap gayatri mantram tanpa henti, sampai ditengah-tengah perjalanan aku merasakan ada keajaiban datang menghampiriku. Beberapa menit yang lalu mendung begitu serasa mau jatuh, hanya tinggal meneteskan titik air hujan yang sangat deras. Tapi apa yang aku dapat, tenyata cuaca pun berubah berganti cerah seakan tak ada mendung sedikitpun. Aku sangat bersyukur sekali kepada Sang Hyang Widhi atas izinnya. Dengan penuh semangat akhirnya akupun tiba ditempat tujuan. Rasa mistisnya pun terasa, aku tak berani masuk di situs menggung karena aku sedang cuntaka. Akhirnya poeper memutuskan untuk masuk sendiri dan sembahyang disana. Selang beberapa menit poeper keluar dan mengajakku untuk masuk meskipun aku sedang cuntaka.</p>
<p>Aku tetap tak mau karena aku takut terjadi hal yang tidak-tidak. Dengan perasaan tak menentu akhirnya aku menuruti apa yang di minta poeper, tapi sebelum masuk poeper mengingatkan aku kalau harus izin dahulu. Tepat diatas tangga situs menggung dalam hati aku berkata, “ om swastyastu, aku pasrahkan semua ini kepada mu Sang Hyang Widhi. Aku tak ada niatan apa-apa selain mengingat akan kuasamu. Semoga tidak terjadi apa-apa. Dan mohon maaf untuk leluhurku, mohon izinkan aku dengan keadaan tidak sucianku ini masuk untuk melihat peninggalanmu. Astungkara. Dengan keadaan pasrah dan yakin aku mulai memasukinya. Aku benar-benar merasakan rasa mistis yang begitu sangat kental. Dalam waktu 5 menit aku memutuskan untuk keluar dari area, aku merasa tidak kuat. Aku merasa ini sudah cukup, terpenting aku sudah bisa melihat peninggalan leluhurku. Waktu menunjukkan pukul 14.00 WIB aku dan poeper memutuskan untuk pulang ke Kediri Jawa timur. Dengan perasaan senang dan ucapan syukur “Awignam astu” akhirnya rasa capek ku terbayar sudah dengan kegembiraanku bisa mengunjungi peninggalan leluhur di Jawa tengah.</p>
<p>Aku sangat bersyukur dengan kedamaian yang aku peroleh saat itu. Aku benar-benar berterimakasih kepada Sang Hyang Widhi atas karma yang aku terima dikehidupanku ini. Aku bersyukur bisa kembali ke jalan dharma. Aku sempat berbicara dengan poeper “Apapun yang terjadi aku akan tetap mempertahankan kehinduanku. Karena Sang Hyang Widhi sudah memberikan jawaban untukku yang belum tentu orang lain dapatkan”. Aku berdesir ketika mengatakan itu. aku merasa ada semangat baru dalam diriku.</p>
<p>Memasuki awal tahun 2012 aku merasakan menjadi manusia baru. Merasakan penuh semangat untuk menjalani hindupku menuju jalan dharma. Aku berdoa kepada Sang Hyang Widhi agar selalu memberikan waranugraha kepadaku.</p>
<p>Aku sudah mulai masuk semester VIII (semester akhir) dimana aku harus memperjuangkan masa depanku. Aku merasa disibukkan dengan tugas akhirku. Semua ini juga kadang membuat aku sempat putus asa, tapi aku berusaha bangkit dari semua ini. Aku merasa harus lebih bersyukur dengan semua ini. Bagiku Sang Hyang Widhi akan selalu bersamaku. Keluargaku, keluarga poeper dan poeper selalu memberiku semangat untuk bisa menyelesaikan ini semua. Aku sangat bersyukur dengan kehidupan yang sekarang ini. Aku merasa menemukan rumah baruku, memang inilah jalanku.</p>
<p>Memasuki bulan ke 3 , maret 2012 bulan yang begitu aku nantikan. Aku benar-benar menunggu moment seperti tahun kemarin. Karena mengingat bulan maret adalah bulan menyambut hari raya nyepi tahun baru caka 1934. Bertepatan dengan banyaknya kegiatan kampusku. Jadwal sudah terlihat jelas semuanya berbenturan dengan acara melasti dan perayaan nyepi. Aku berharap ada keajaiban dibulan maret ini untukku, mengingat aku belum pernah merayakan nyepi secara langsung di pura bersama poeper dan keluarganya. Aku berdoa semoga Sang Hyang Widhi benar-benar mengabulkan keinginanku.</p>
<p>Bulan maret bagiku sangat istimewa, tanpa aku sadari awal maret adalah awal aku dapat keajaiban itu. tepat tanggal 03 Maret 2012 ibuku berbicara padaku masalah keyakinanku. Ibuku berkata padaku “ Ibu sudah tahu keyakinan yang kamu pilih, ayah dan ibu tidak mempermasalahkan semua itu, terpenting kamu bisa bertanggung jawab dengan pilihanmu itu”. Hatiku benar-benar bedesir mendapatkan lampu hijau dari orang tuaku. aku sangat senang sekali.</p>
<p>Kembali ke kegiatan kampusku, aku berharap dibulan maret adalah hari yang membahagiakan untukku. Mungkin ini sudah menjadi bagian dari rencana ku awal, dan Sang Hyang Widhi mengabulkan doaku sedikit demi sedikit. Jadwal kampus yang awalnya berbenturan dengan perayaan nyepi. Awalnya tanggal 18 , 24 dan 25 maret 2012 adalah jadwal yang ditentukan kampus yang wajib diikuti mahasiswa semester VIII, karena memang tanggal 18 maret adalah acara untuk melasti di bendungan siman, sedangkan tanggal 24 dan 25 maret masih menikmati ramainya hari raya nyepi. Tapi aku berdoa semoga Sang Hyang Widhi mengabulkan doaku, akhirnya tanggal yang disesuaikan kampus benar-benar tidak terjadi dan diundur tanggal berikutnya. Aku sangat bersyukur sekali bisa mengikuti prosesi rangkaian nyepi tanpa ada halangan. Tepat tanggal 18 maret 2012 acara melasti di bendungan siman berlangsung. Aku sangat menanti itu semua. Aku bersemangat sekali, bergegas siap-siap mempercantik diri , mengenakan kebaya yang sudah aku persiapkan sebelumnya. Aku merasa menjadi manusia yang paling bahagia. Aku merasa bersyukur bisa mengikuti acara melasti tanpa ada halangan sedikit pun. Tak lupa aku ucapakan rasa syukurku pada Sang Hyang Widhi. “Awignamastu”.</p>
<p>Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Tepat tanggal 22 maret 2012 Tawur kasanga berlangsung. Aku menantinya dengan penuh suka cita. Tepat pukul 17.30 WIB aku siap-siap berangkat ke pura bersama poeper dan keluarganya. Aku tak pernah merasakan rasa berdebar-debar bahagaia seperti ini. jantungku berdebar semakin kencang, sampai aku tiba di depan pura. Aku memohon waranugraha dari sang hyang widhi sembelum memulai persembahyangan , agar tawur kasanga yang aku ikuti pertama kali ini berjalan lancar. Persembahyangan dimulai, kedamaian dan kebahagiaan menyelimuti perasaanku.</p>
<p>Aku merasa menangis bahagia. Selesai acara persembahyangan siap-siap mulai berkeliling desa memulai arak-arakan ogoh-ogoh. Rasa capekku tak terasa dan terbayarkan oleh kegembiraanku dan Aku sangat bahagia bisa diberi kesempatan dapat mengikuti prosesi tawur kasanga. Tepat jam 23.00 WIB daerah pura giri nata sudah mulai hening. Aku bergegas pulang kerumah poeper untuk istirahat sebentar, Aku tak sempat memikirkan sehabis prosesi tawur kasanga ini apa yang harus aku lakukan.Tapi aku memutuskan untuk tidur di tempat poeper dan ingin mengikuti pawasa selama 24 jam. Dalam hatiku berkata “bisa nggak ya aku melakukan catur brata dan upawasa selama 24 jam”???? aku masih ragu karena belum pernah menjalani catur brata penyepian tanpa boleh keluar rumah dan melalukan apa-apa. Tapi aku yakinkan diriku kalau aku pasti bisa melakukan catur brata penyepian. Tepat pukul 00.00 WIB aku sembahyang agar keyakinanku untuk melakukan catur brata berjalan lancar.</p>
<p>23 Maret 2012 , aku memulai catur brata penyepian dimulai dari pukul 06.00 –06.00 WIB keesokkan harinya. Waktu terus berjalan aku merasa terbiasa melakukannya, sampai waktu menunjukkan pukul 15.00 WIB. Aku heran sekali kenapa aku tidak merasakan lapar ataupun lemas padahal aku sama sekali tidak melakukan aktifitas apa-apa, sedangkan puasa kalau di jalani dengan berdiam diri itu lapar dan lemasnya pasti terasa. Padahal sebelumnya aku menjalani puasa secara islam dahulu jam 15.00 WIB perut selalu merasakan lapar. Aku berfikir semuanya terletak pada keyakinanku. Aku merasa sangat bersyukur atas kekuatan yang sudah diberikan Sang Hyang Widhi kepadaku.</p>
<p>Keesokkan harinya ngembak geni berlangsung, aku merasakan kebahagiaan yang tak ternilai bisa dharma shanti dengan umat hindu di dalam pura giri nata. Kedamaian yang sangat berharga untuk aku peroleh.</p>
<p>Dari apa yang aku sampaikan ini semua tersusun rapi sesuai harapanku.Sang Hyang Widhi memberikan waranugraha yang bagiku sangat berharga. Setiap kejadian demi kejadian yang aku rasakan semua tak lepas dari keyakinanku untuk memeluk hindu. aku setiap saat bisa merasakan kedamaian. Bisa menjadi manusia baru yang menemukan jati diri sesungguhnya. Aku bersyukur bisa diberikan karma yang indah di kehidupan sekarang. Semua ini tak lepas dari orang-orang disekalilingku yang mendukung aku bisa sampai seperti ini. Semua harapanku sudah tercapai dan masih 1 hal yang aku inginkan saat ini yakni ingin segera di “SUDHI WADANI” . Tapi aku berusaha bersabar menanti waktu yang tepat. Tanpa rasa bosan kuucapakan rasa syukurku kepada Sang Hyang Widhi.</p>
<p>Tulisan ini aku persembahkan untuk Papa Mama dan poeper yang selalu menerangi hari-hariku. Terimakasih untuk Papa dan mama yang sangat aku sayangi. Terimakasih untuk poeper yang tak pernah bosan mendampingiku. Serta tak lupa untuk Bapak dan Ibu camerku yang selalu membimbingku selama ini.</p>
<p>OM Shanti, Shanti, Shanti OM</span></p>
<p>sumber : http://ilovehindu.weebly.com/19/post/2012/10/hindu-aku-kembali-padamu.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iloveblue.com/hindu-aku-kembali-padamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Organisasi JAPHA (Jaringan Pengusaha Hindu Indonesia)</title>
		<link>http://www.iloveblue.com/organisasi-japha-jaringan-pengusaha-hindu-indonesia/</link>
		<comments>http://www.iloveblue.com/organisasi-japha-jaringan-pengusaha-hindu-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jan 2013 14:11:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hindu dan Adat Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iloveblue.com/?p=25197</guid>
		<description><![CDATA[Telah terbentuk organisasi JAPHA (Jaringan Pengusaha Hindu Indonesia), dan Launching akan diadakan bersamaan dgn acara : Indonesia Hindu Preneur Annual Conference 2012,  Rabu, tgl 12-12-12 jam 9 pagi di Matahari Room Hotel Nikki jl Gatot Subroto Denpasar.  Agenda: Japha member Gathering, Expo, Konferensi dgn menghadirkan 5 tokoh  Bali/Indonesia, launching Koperasi Japha Jaya. Akan dibuka oleh [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Telah terbentuk organisasi JAPHA (Jaringan Pengusaha Hindu Indonesia), dan Launching akan diadakan bersamaan dgn acara : Indonesia Hindu Preneur Annual Conference 2012,  Rabu, tgl 12-12-12 jam 9 pagi di Matahari Room Hotel Nikki jl Gatot Subroto Denpasar.  Agenda: Japha member Gathering, Expo, Konferensi dgn menghadirkan 5 tokoh  Bali/Indonesia, launching Koperasi Japha Jaya. Akan dibuka oleh Kementrian Koperasi RI, Dana Punia konferensi rp 200.000/orang. Expo rp 500.000/booth.</p>
<p>Pendaftaran via sms :</p>
<p>CONF_nama peserta ; EXPO_nama usaha, kirim ke 085714999014 atau 089678075522, first come first serve. Pembayaran via transfer BCA 0401694586 an Sayu Ketut Sutrisna Dewi. Bukti transfer serahkan saat registrasi ( bisa berupa slip atau perlihatkan sms banking).</p>
<p>Ayo teman2  hadirlah atau sebarkanlah info ini ke seantero jagat, ndak harus stay di Bali kok, kita bangkitkan ke wirausahaan semeton semua, perluas jaringan. Bagi yg ingin ada MoU dg Japha juga dipersilakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Om Shanti Shanti Shanti,</p>
<p>Rai Mahajony</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iloveblue.com/organisasi-japha-jaringan-pengusaha-hindu-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendebat Agama Langit : Membunuh Arogansi Dikotomi Ngawur Agama Langit – Agama Bumi</title>
		<link>http://www.iloveblue.com/mendebat-agama-langit-membunuh-arogansi-dikotomi-ngawur-agama-langit-agama-bumi/</link>
		<comments>http://www.iloveblue.com/mendebat-agama-langit-membunuh-arogansi-dikotomi-ngawur-agama-langit-agama-bumi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jan 2013 14:05:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hindu dan Adat Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iloveblue.com/?p=25194</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya sudah banyak tulisan yang mengkritisi ajaran agama, baik dari para teolog Agama Abrahamik maupun para filsuf Agama Timur. Hanya saja, buku yang berbahasa Indonesia sepertinya masih perlu ditambah, mengingat hingga saat ini buku yang berani mengkritisi dan membandingkan ajaran Agama Abrahamik yang mengklaim diri sebagai Agama Langit dengan ajaran Hindu sebagai salah satu ajaran [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya sudah banyak tulisan yang mengkritisi ajaran agama, baik dari para teolog Agama Abrahamik maupun para filsuf Agama Timur. Hanya saja, buku yang berbahasa Indonesia sepertinya masih perlu ditambah, mengingat hingga saat ini buku yang berani mengkritisi dan membandingkan ajaran Agama Abrahamik yang mengklaim diri sebagai Agama Langit dengan ajaran Hindu sebagai salah satu ajaran Agama Timur atau sering diidentikkan sebagai Agama Bumi masih sangat jarang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebagaimana sudah umum diketahui, rumpun Agama Abrahamik, yakni agama-agama yang bermula dari Abraham atau juga dikenal sebagai Ibrahim dikatakan sebagai Agama Langit (Agama Samawi) karena ajarannya dianggap diturunkan oleh Tuhan dari Langit. Sedangkan agama-agama selain itu oleh para tokoh teologi Abrahamik dikatakan sebagai Agama Bumi, yakni agama yang muncul karena budaya manusia di Bumi, bukan dari wahyu yang diturunkan oleh Tuhan. Dan karenanya Agama Bumi juga sering diistilahkan sebagai Agama Budaya. Benarkah Agama Hindu, Buddha, Sikh, Sinto dan banyak agama-agama kecil lainnya yang tergolong Agama Timur bukan wahyu dari Tuhan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rumpun Agama Abrahamik terdiri dari Agama Islam, Kristen dan Yahudi. Agama Yahudi adalah Agama non-mission yang hanya dikhususkan untuk bangsa Israel. Sedangkan Agama Islam dan Kristen adalah agama misi yang sangat aktif dan saling berlomba-lomba mencari pengikut. Agama Islam menggaet pengikut melalui kaum dakwahnya dan Kristen dengan para misionarisnya. Objek misi yang menjadi sasaran kedua agama ini umumnya adalah mereka yang dikatakan menganut Agama Bumi. Hal ini terutama karena agama yang mereka golongkan sebagai Agama Bumi digambarkan sebagai penganut ajaran sesat dan keliru yang patut diluruskan dan diselamatkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Baik Islam maupun Kristen dengan gencarnya melakukan promosi dan iklan membangun citra demi menyelamatkan orang-orang beragama lain sebanyak-banyaknya. Kedua agama ini mengatakan kalau kebenaran hanya ada dalam ajaran mereka. Kebenaran dan keselamatan tidak terdapat pada ajaran agama yang lain. Semua keyakinan di luar keyakinan mereka adalah keliru. Lalu, benarkah ajaran Agama Timur keliru dan tidak terdapat kebenaran di dalamnya?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Buku ini mencoba menyajikan kritik dan perbandingan Agama Abrahamik dengan ajaran Agama Hindu sebagai wakil dari Agama Timur. Buku ini tidak dimaksudkan untuk menyudutkan dan menyinggung salah satu keyakinan dan meremukkan semangat kerukunan antar umat beragama, tapi hanya merupakan pembelaan atas berbagai macam tuduhan oleh oknum-oknum yang selama ini ditujukan kepada Agama Timur. Buku ini juga akan memberikan solusi alternatif dalam pengelompokan keyakinan sehingga terhindar dari konflik merendahkan dan meninggikan suatu ajaran agama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Buku ini tersusun dari 10 Bab dengan 149 halaman. Masing-masing topik disajikan secara ringkas dan padat dan dengan topik bahasan yang cukup ringan untuk dibaca.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bab pertama dimulai dengan tema bagaimana cara menilai kebenaran suatu ajaran agama. Pada bab ini penulis mencoba memaparkan pemahaman bahwasanya suatu ajaran agama tersusun dari dua jenis ajaran. Yaitu ajaran yang memang di luar jangkauan panca indria dan pemikiran manusia sehingga validasinya bisa dikatakan hampir tidak mungkin. Dan yang kedua setiap agama selalu memiliki irisan ajaran yang bersinggungan dengan hal-hal yang dapat ditangkap secara indriawi dan dapat dilogikakan. Di bab ini juga disinggung masalah filsafat Sankya yang identik dengan metode ilmiah yang dikembangkan pada sains modern dalam mengungkap suatu kebenaran. Sehingga dengan satu pandangan yang sama, diharapkan akan lebih mudah mendapatkan kesamaan pemahaman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sedangkan pada bab kedua, penulis memaparkan sejarah adanya dikotomi Agama Langit dan Agama Bumi yang dikatakan pertama kali didengungkan oleh Dr. H. M. Rasjidi, dalam bukunya yang berjudul “Empat Kuliah Agama Islam untuk Perguruan Tinggi” yang tujuannya sudah barang tentu merendahkan dan meremukkan psikologi penganut ajaran “Agama Bumi” sehingga lebih mudah dikonversi. Pada bab ini penulis juga memaparkan beberapa jenis pembagian-pembagian kelompok agama lainnya oleh beberapa tokoh teolog baik yang berasal dari kalangan agama Islam dan Kristen, maupun dari kalangan Hindu. Bab ini juga menjadi pijakan awal kenapa buku ini ditulis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada bab tiga, dilanjutkan dengan kisah bagaimana sulitnya Hindu diakui sebagai agama di Indonesia. Hal ini salah satunya karena tuduhan bahwa Hindu sebenarnya bukan agama, tetapi hanyalah budaya yang dibalut keyakinan sebagaimana disampaikan oleh Dr. Harun Hadiwiyono. Yang unik dari bab ini adalah cara penulis membalikkan tuduhan tersebut dengan mengungkapkan fakta bahwa istilah agama ternyata hanya terdapat dalam kitab suci Hindu, Buddha dan Jaina yang berbasis pada bahasa Sansekerta. Sehingga dengan dibumbui arti dasar dari agama, penulis secara telak telah membantahkan klaim bahwa yang layak disebut sebagai agama hanyalah Islam, Kristen dan Yahudi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selanjutnya pada bab empat, penulis memberi judul “Allah Beragama Islam dan Yesus Beragama Kristen”. Topik ini penulis angkat dari kisah pribadinya saat berdiskusi dengan rekan-rekannya. Pada bab ini dikatakan bahwa beberapa rekan penulis ngotot mengatakan Tuhan itu beragama, tetapi di satu pihak penulis mengatakan Tuhan itu adalah Atheis paling besar di alam semesta. Bab ini juga membahas mengenai siapa itu Tuhan dan siapa namaNya? Apakah Tuhan bernama Allah, Jehovah, Yesus atau Hyang Widhi? Dengan membaca bab ini, anda akan dihadapkan pada sudut pandang yang sangat jauh berbeda dari sudut pandang kita selama ini, terutama bagi anda penganut agama Islam dan Kristen.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bab kelima lagi-lagi disuguhi dengan cara menepis tuduhan yang agak kocak, yaitu mengenai pengalaman penulis pada waktu dihadapkan pada ajakan seorang oknum muslim berpuasa dan mengucapkan kalimat syahadat dengan menjanjikan Sorga dan 72 bidadari kepada penulis. Dengan argumen yang tidak terbantahkan, penulis dapat menjelaskan bahwasanya istilah Sorga hanya terdapat dalam kitab suci – kitab suci berbahasa Sansekerta, sehingga sudah pasti “Sorga yang original” adalah milik para penganut Hindu, Buddha dan Agama Timur lainnya. Kitab Al-Qur’an dan Injil sendiri ternyata sama sekali tidak mencantumkan kata Sorga dalam kitab sucinya, sehingga dengan fakta ini tentu saja klaim Sorga mereka dapat dikatakan sebagai klaim imajinatif. Sebagai penambah wawasan dalam bab ini, penulis juga memaparkan sloka-sloka dalam Veda yang menjelaskan bagaimana kedudukan dan susunan planet-planet Sorga dan juga neraka di alam semesta ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sedangkan bab keenam menceritakan bagaimana sekelompok pemeluk agama tertentu yang sibuk membela Tuhannya. Padahal menurut penulis Tuhan yang ia sembah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa dan sama sekali tidak perlu dibela. Penulis juga menceritakan tentang sejarah mengenai bagaimana kejahatan kemanusiaan, pembantaian, pemerkosaan dan penjerahan dilakukan atas nama Tuhan yang mereka bela. Semua kisah sejarah ini didasarkan pada data-data otentik dari berbagai sumber referensi. Menurut penulis, hal seperti ini seharusnya tidak perlu terjadi jika manusia mengerti hakekat dari Tuhan itu sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada bab ketujuh, penulis kembali menyuguhkan “sup panas” kepada pembaca dengan mengawali pembahasan mengenai demonstrasi yang dilakukan sekelompok mahasiswa saat pemilu tahun 2007 lalu di Indonesia. Para mahasiswa ini mengatakan bahwa hanya hukum Tuhan yang paling benar dan harus ditegakkan, sedangkan demokrasi yang diusung Indonesia pasti mati dan tidak bisa membawa Indonesia menjadi lebih baik. Penulis mengungkapkan bahwa penulis sangat setuju bahwasanya hukum Tuhan adalah yang paling benar dan paling baik. Tetapi penulis tidak menyetujui jika dalam kehidupan berbangsa yang heterogen seperti ini dipaksakan satu jenis hukum berbasis agama, karena masing-masing agama memiliki hukumnya masing-masing. Dengan nada argumentatif, penulis memaparkan bagaimana kegagalan penerapan hukum Tuhan, “Khilafah” di berbagai daerah telah gagal dan tidak menunjukkan hal yang lebih baik dari pada daerah-daerah lainnya. Penulis juga berargumen bagaimana ketidakadilan yang terjadi pada kaum minoritas jika Khilafat tersebut diterapkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sedangkan pada bab delapan dan sembilan, penulis secara spesifik memaparkan kosmologi dalam Agama Islam dan Kristen sebagai wakil Agama Langit dan dari Hindu sebagai wakil Agama Timur dan berikutnya dibandingkan dengan Ilmu Pengetahuan modern. Pada bab ini sangat dituntut kekritisan dan pola pikir ilmiah pembaca sehingga bisa menarik kesimpulan yang objektif. Dan dengan metode argumentatif yang lugas, penulis juga bisa menunjukkan bahwasanya pemahaman kosmologi Agama Langit tidaklah lebih baik dari pada Agama Bumi, sehingga tidak ada alasan mengatakan Agama Langit lebih superior dari Agama Bumi. Bahkan dari pemaparan ini, dapat dikatakan agama-agama yang dituduh Agama Bumilah yang lebih superior dan lebih sesuai dengan fakta ilmiah. Bab ini sekaligus bab penutup pembuktian bahwa ajaran Islam, Kristen dan Yahudi tidaklah lebih superior dari Hindu dan Agama Timur lainnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sedangkan pada bab sepuluh sebagai bab penutup, penulis memberikan satu solusi pembagian keyakinan yang bersumber dari ajaran Veda dan sepertinya bisa menjadi solusi alternatif yang tidak bernada meninggikan atau merendahkan ajaran apapun. Penulis juga menyertakan pandangan ilmu psikologi yang membenarkan pandangan ini. Anda penasaran? Dapatkan segera di agen-agen terdekat di kota anda.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Resensi Buku: sumber : HDnet</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iloveblue.com/mendebat-agama-langit-membunuh-arogansi-dikotomi-ngawur-agama-langit-agama-bumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>NATURAL DISASTER &#8211; mengenal rotasi bencana alam</title>
		<link>http://www.iloveblue.com/natural-disaster-mengenal-rotasi-bencana-alam-2/</link>
		<comments>http://www.iloveblue.com/natural-disaster-mengenal-rotasi-bencana-alam-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jan 2013 13:58:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hindu dan Adat Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iloveblue.com/?p=25191</guid>
		<description><![CDATA[Nanggluk merana sebenarnya bukan merupakan Hari raya, tetapi sejenis upacara preliminary yadnya yang dilaksanakan pada tilem ke VI yang tujuannya adalah untuk menjauhkan diri kita dari marabahaya khususnya terhadap bencana alam ( Natural disaster ) yang termasuk wabah pada masarakat industri pertanian semacam hama, dan sejenisnya. Secara Ilmiah: Sebenarnya Sang-surya mulai transisi lintasan (Istilah fisika [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Nanggluk merana sebenarnya bukan merupakan Hari raya, tetapi sejenis upacara preliminary yadnya yang dilaksanakan pada tilem ke VI yang tujuannya adalah untuk menjauhkan diri kita dari marabahaya khususnya terhadap bencana alam ( Natural disaster ) yang termasuk wabah pada masarakat industri pertanian semacam hama, dan sejenisnya.</p>
<p>Secara Ilmiah:</p>
<p>Sebenarnya Sang-surya mulai transisi lintasan (Istilah fisika disebut musim pancaroba) yaitu dari utara keselatan, karena berada dilintasan Daksinayana – belahan Bumi selatan, sehingga perubahan temperature panas  berada didaerah bagian selatan, akibat perbedaan temperature ini Tekanan udara pada bumi belahan selatan menjadi lebih rendah, sehingga Udara berpindah dari utara menuju selatan,  inilah yang kemudian menjadikan angin yang bertiup kencang dari utara keselatan, hanya saja karena Bumi berotasi, sehingga seolah olah angin yang bergerak menuju keselatan, seolah olah datangnya dari Barat, shg dibali sangat familiar disebut angin “BARET” seolah-olah datangnya dari Barat.</p>
<p>Dalam kondisi ini, sering terjadi bencana alam, wabah, umumnya influenza bagi anak anak yang sedang masa pertumbuhan, penyakit dan sebgainya bahkan sering muncul Bencana ALAM / Natural disaster.</p>
<p>Contoh saja Bencana Tsunami di Aceh persis terjadi pada saat tilem ke VI, silahkan diverifikasi.</p>
<p>Dari bahasa alam ini sering diaplikasikan di Bali dengan Buana sudah mulai kotor shg perlu diberikan suatu labean (labe) atau di yadnya</p>
<p>Secara arafiah  Nangluk Merana berarti :</p>
<p>Nangluk = Menangguhkan.</p>
<p>Merana  = Marabahaya.</p>
<p>Jadi marabahaya yang sebenarnya di awali dari Tilem Ke VI yang mengancam dunia dan isinya, karena dirasakan dunia sudah mulai kotor pada saat itu ( terbukti dengan tilem ini para anjing &amp; hewan lainnya ) mulai meraung raung, Angin ribut dan hujan deras disertai guntur dsb.</p>
<p>Saat itu kita hanya tangguhkan acaranya (berhutang), sehingga akhirnya kita Taur pada saat Acara Taur Agung sasih ke IX. Maka  dari itu acara Nangluk Merana tidak banyak di kenal orang.</p>
<p>Sebenarnya secara berkala, ketika mentari berada dilintasan daksinayana,  ini berarti sudah ditandai dengan berbagai isyarat alam semesta hanya saja kita sebagai penghuninya kurang peka untuk menterjemahkan isyarat alam semesta ini. Ketika Sasih ke VI, terjadi banyak bencana Bromo, Mentawai, irian jaya terjadi lebih awal.</p>
<p>SIWARATRI Ketika sasih ke VII, sebenarnya Bencana akan beralih ke Mahluk Hidup khususnya manusia yang kecendrungan wataknya yang aneh-aneh serta keluar dari jalur dharma, Umat Hindu menyikapinya dengan menghayatinya dengan lebih introspeksi diri pada saat purwani tilem ke VII disitu ada  perarayaan SIWA-RATRI, di Bali ada suatu lontar yang memberikan pencerahan kepada umat hindu yaitu Lubdaka Kalpa _ karangan Rsi Empu Tanakung, sedang kan di India juga ada suatu Ajaran yang dituliskan dengan kisah SUKUMARA. Di  bali mengambil perayaan ini yaitu pada Purwani tilem ke VII. Konon malam ini termasuk Malam yang paling gelap ( peteng dedet), sebenarnya kekelapan malam bulan tilem sama saja, hanya saja sasih ke VII di hubungkan dengan Peteng Pitu, sesuai dengan symbol symbol cakra yang kita miliki, yaitu.</p>
<p>Gelap ke 1. Muladara Cakra ketika orang itu  tidak tau diri (maaf bahasa balinya dikenal dengan sing ngelah Bool) orang yang dikatagorikan seperti ini orng yang tidak tau malu, tidak tau  diri, ibaratnya duduk saja tidak bisa, dalam artian dudukpun seharusnya  memiliki etika, dimana saya duduk, mengapa saya  duduk, dengan siapa saya duduk, bagaimana semestinya posisi saya duduk dsbnya.</p>
<p>Gelap ke 2. swadistana Cakra (kemaluan) yang identik dengan kama / nafsu sex,…hem yang ini silahkan anda terjemahkan.</p>
<p>Gelap  ke 3. Manipura Cakra ( Udel ) identik dengan se-enak udelnya saja kasarnya, cseperti anjing kelaparan tidak punya prinsip, ngula ngae  basing betek di je jek nak ngelah gae….ditu ya ngaba basang layah, alias giro poster,….gigi ronggoh pos ngetel, itulah sebabnya kalau kita ngayah,…biasanya  nganggo ambed, agar kita membatasi diri jangan sampai ngabe basang  layah dogen.</p>
<p>Gelap ke 4. Anahata Cakra-hrudaya, Prema, kalau orang kehilangan kasih sayang, segalanya akan berubah, hidup saling membenci…anarkhis kalau sudah begini akal sehatpun hilang semakin jauh dari Hyang Widdhi.</p>
<p>Gelap ke 5. Visudhi Cakra, makanan enak itu hanya sebatas kerongkong an selewat itu sudah tak terasa lagi, begitu juga Lidah dan bibir semuanya dikontrol dari sini, lidah tak bertulang jangan semaunya ngontalang layah, hem….jadi inget tuh lagunya si Bob Tutu poli, “meang lidah tak bertulang, tak terbatsk kata kata…a….a Kunci dari dharma adalah kesetiaan, Setia wacana, setia mitra, setia laksana dan setia Hrudaya.</p>
<p>Gelap ke 6. Ajna cakra mata ke tiga, mata adalah jendela hati, apabila mata ketiga sebagai mata  bijak tidak berfungsi, siap siaplah anda menjadi budak diri kita sendiri.</p>
<p>Gelap ke 7. Sahasrara- kesadaran tertinggi, dilukiskan  sebagai daun teratai yang berkilau dengan beribu ribu kelopak daun bunga, yang berisi abjad sanskerta, ditengah tengah itu ada lingga Ciwa yang bercahaya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nah ketika kesemua fungsi fungsi ini tidak disadari dan tidak dihayati merekalah sesungguhnya yang disebut dengan Jatma setara dengan peteng pitu asuri sampad &#8211; bukan Manusia  (manut sekadi sesananing manusia yg mendekatkan diri kepada Daivi sampad) Itulah sebabnya Ketika sasih ke VII ini Siwa berkenan turun melakukan linggam yang dirayakan oleh Umat Hindu menjadi perayaan Siwa-Ratri.</p>
<p>Berikutnya Sasih ke VIII, marabahaya beralih kepada mahluk yang bertaring, sehingga pada sasih ini, semua mahluk bertaring menunjukan kejayaannya, seperti kucing, Srigala, anjing, harimau singga dan sejenisnya, meraung raung, sepertinya merekalah yang menjadi pemilik alam smesta ini.</p>
<p>Dan semua ini akan berakhir ketika akhirnya kita musim berganti kembali mentari melintasi chatulistiwa menuju Daksina yana yg ditandai oleh kita umat hindu melakukan Pangrebu buana yang merupakan Taur ke-IX, yang kita akhiri dengan Perayaan tahun bara Icaka Warsa, yaitu hari raya Nyepi.</p>
<p>Di India hal ini dirayakan dengan “CHAITA SAKTA PRATIPADA” karena mereka dikalahkan dengan perayaan menyambut musim semi, sehingga yang inilah kelihatannya semakin semarak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Inggih sapunike damun pakeling titiang mantuk maring Idedane sinamian, ngalunsurang Geng Rne sinampura antuk kekirangannyane.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam Kisah Mahabrata hal ini dikisahkan oleh :</p>
<p>Ibu Kunti pada Tilem Ke VI, datang ketengahing Kurusetra untuk memohon keampunannya Kepada Hyang Maha Agung agar tak satupun anaknya menjadi korban dalam Perang Mahabrata yang akan datang,&#8230;..?</p>
<p>Tetapi Ibu Kunti tetap mendapaktkan jawaban bahwa salah satu anaknya tetap akan  menjadi korban (tidak bisa di tolak) dalam peperangan yang akan datang&#8230;&#8230;.</p>
<p>Pada saat itu Ibu Kunti menjawabnya langsung menyetujuinya, tetapi masih dengan setengah hati&#8230;..? dengan jawaban yang setengah hati itu, kemudian apa yang terjadi&#8230;..?</p>
<p>Beberapa bulan berikutnya  terjadi lah Goncangan yang maha Hebat di keluarga Pendawa ( Ibu Kunti ) Kemasukan Hyang Kalika&#8230;..? Sehingga ingin membantai / membunuh serta memakan Putra-putranya, apakah  yang telah  terjadi..?</p>
<p>Saat itulah Nakula, yang tanpa mengetahui tentang process serta mekanisasi kemarahan ibunya serta merta  dengan hati yang tulus Nakula  menyerahkan Jiwa dan raganya sebagai korbannya  kalau memang Ibu Suri yang menghendaki.</p>
<p>Justru melihat saking ketulusan hati Nakula itu, Hyang Kalika langsung melepaskan godaan ini, karena kalah dengan sebuah ketulusan hati yang spontanitas dari Nakula.</p>
<p>( Pengorbanan yang maha tulus ) sehingga&#8230;&#8230;? Selamatlah akhirnya Pendawa. Akhirnya apa yang terjadi&#8230;&#8230;&#8230;.?</p>
<p>Adalah masih tetap salah satu putranya yang harus dikorbankan dalam Mahabrata tapi&#8230;? Bukan dari Pendawa Lima, Kalau begitu siapa&#8230;&#8230;&#8230;?</p>
<p>Ainggih sameton sendirilah yang mencarikan jawabanya.</p>
<p>(Ceritra ini sering di pentaskan oleh Barong Dance di Batubulan.) Nawegang atas Awidyan titiange, Semoga Ide-dane sane Nyampurnayang.</p>
<p>Namaste.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="mailto:Jeromangku_sudiada@Yahoo.com">Jeromangku_sudiada@Yahoo.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iloveblue.com/natural-disaster-mengenal-rotasi-bencana-alam-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hakikat Tumpek Landep</title>
		<link>http://www.iloveblue.com/hakikat-tumpek-landep/</link>
		<comments>http://www.iloveblue.com/hakikat-tumpek-landep/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jan 2013 13:55:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hindu dan Adat Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iloveblue.com/?p=25189</guid>
		<description><![CDATA[“api ched asi papebhyah sarvebhyah papakrittamah sarvam jnanaplavenai &#8216;va vrijinam samtarishyasi” (BhagavadgītāIV.36) &#160; Walau seandainya engkau paling berdosa diantara manusia yang memikul dosa dengan perahu ilmu-pengetahuan ini lautan dosa engkau akan seberangi &#160; Setiap hari suci agama umat Hindu sesungguhnya tak hanya sekadar rerahinan rutin yang mesti dirayakan. Namun, didalamnya ada nilai filosofis yang penting [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>“api ched asi papebhyah</strong></em></p>
<p><em><strong>sarvebhyah papakrittamah</strong></em></p>
<p><em><strong>sarvam jnanaplavenai &#8216;va</strong></em></p>
<p><em><strong>vrijinam samtarishyasi”</strong></em> (BhagavadgītāIV.36)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Walau seandainya engkau paling berdosa</strong><br />
<strong>diantara manusia yang memikul dosa</strong><br />
<strong>dengan perahu ilmu-pengetahuan ini lautan dosa engkau akan seberangi</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setiap hari suci agama umat Hindu sesungguhnya tak hanya sekadar rerahinan rutin yang mesti dirayakan. Namun, didalamnya ada nilai filosofis yang penting dimaknai dalam kehidupan sehari-hari. Tumpek Landep, misalnya, memiliki nilai filosofi agar umat selalu menajamkan pikiran. Setiap enam bulan sekali umat diingatkan untuk melakukan evaluasi apakah pikiran sudah selalu dijernihkan (disucikan) atau diasah agar tajam? Sebab, dengan pikiran yang jernih dan  tajam, umat menjadi lebih cerdas, lebih jernih ketika harus melakukan analisis, lebih tepat menentukan keputusan dan sebagainya.</p>
<p>Lewat perayaan Tumpek Landep itu umat diingatkan agar selalu menggunakan pikiran yang tajam sebagai tali kendali kehidupan. Misalnya, ketika umat memerlukan sarana untuk memudahkan hidup, seperti mobil, sepeda motor dan sebagainya, pikiran yang tajam itu mesti dijadikan kendali. Keinginan mesti mampu dikendalikan oleh pikiran. Dengan demikian keinginan memiliki benda-benda itu tidak berdasarkan atas nafsu serakah, gengsi, apalagi sampai menggunakan cara-cara yang tidak benar. Semua benda tersebut mestinya hanya difungsikan untuk menguatkan hidup, bukan sebaliknya, justru memberatkan hidup.</p>
<p>Dulu, keris dan tombak serta senjata tajam lainnyalah yang digunakan sebagai sarana atau senjata untuk menegakkan kebenaran, kini sarana untuk memudahkan hidup dan menemukan kebenaran  itu sudah beragam, seperti kendaraan, mesin dan sebagainya.</p>
<p>Sehingga pada saat Tumpek Landep diupacarai dengan berbagai upakara seperti: sesayut jayeng perang dan sesayut pasupati, dengan maksud untuk memuja Tuhan, dan lebih mendekatkan konsep atau nilai filosofi yang terkandung dalam Tumpek Landep.</p>
<p>Landep = Lancip/ Tajam</p>
<p>Kata Landep dalam Tumpek Landep memiliki makna lancip atau tajam. Sehingga secara harfiah diartikan senjata tajam seperti tombak dan keris. Benda-benda tersebut dulunya difungsikan sebagai senjata hidup untuk menegakkan kebenaran. Dalam Tumpek Landep benda-benda tersebut diupacarai.</p>
<p>Kini, pengertian landep sudah mengalami pelebaran makna. Tak hanya keris dan tombak, juga benda-benda yang terbuat dari besi atau baja yang dapat mempermudah hidup manusia, di antaranya sepeda motor, mobil, mesin, komputer, radio dan sebagainya.</p>
<p>Sementara secara konotatif, landep itu memiliki pengertian ketajaman pikiran. Pikiran manusia mesti selalu diasah agar mengalami ketajaman. Ilmu pengetahuanlah alat untuk menajamkan pikiran, sehingga umat mengalami kecerdasan dan mampu menciptakan teknologi. Dengan ilmu pengetahuan pulalah umat menjadi manusia yang lebih bijaksana dan mampu memanfaatkan teknologi itu secara benar atau tepat guna, demi kesejahteraan umat manusia. Bukan digunakan untuk mencederai nilai-nilai kemanusiaan.</p>
<p><em><strong>“tad viddhi pranipatena</strong></em></p>
<p><em><strong>paripprasnena sevaya</strong></em></p>
<p><em><strong>upadekshyanti te jnanam</strong></em></p>
<p><em><strong>jnaninas tattvadarsina”</strong></em></p>
<p>(BhagavadgītāIV.34)</p>
<p><strong>Belajarlah dengan wujud displin, dengan</strong></p>
<p><strong>bertanya dan dengan kerja berbakti,</strong></p>
<p><strong>guru budiman yang melihat kebenaran akan mengajarkan padamu ilmu budi-pekerti</strong></p>
<p>sumber:  Jero Mangku Sudiada</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iloveblue.com/hakikat-tumpek-landep/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bhagawad Gita Menjawab Misteri Tentang Tuhan</title>
		<link>http://www.iloveblue.com/bhagawad-gita-menjawab-misteri-tentang-tuhan/</link>
		<comments>http://www.iloveblue.com/bhagawad-gita-menjawab-misteri-tentang-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jan 2013 09:30:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hindu dan Adat Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iloveblue.com/?p=25186</guid>
		<description><![CDATA[Banyak dari kita yang tidak menyadari betapa agungnya kitab Suci kita&#8230;.betapa lengkapnya pengetahuan yang diberikan dalam Weda, bahkan tidak banyak yang tahu jika Tuhan sendiri telah menyampaikan kebenaran diriNYa kepada arjuna di medan perang kuruksetra yang telah dicatatkan secara lengkap oleh Maha Rsi Wyasa dlm kitab suci Bhagawad Gita (Pancama Weda) Berikut kutipan-kutipan sloka yang [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak dari kita yang tidak menyadari betapa agungnya kitab Suci kita&#8230;.betapa lengkapnya pengetahuan yang diberikan dalam Weda, bahkan tidak banyak yang tahu jika Tuhan sendiri telah menyampaikan kebenaran diriNYa kepada arjuna di medan perang kuruksetra yang telah dicatatkan secara lengkap oleh Maha Rsi Wyasa dlm kitab suci Bhagawad Gita (Pancama Weda)</p>
<p>Berikut kutipan-kutipan sloka yang menyatakan siapa Sri Krishna penyabda Bhagawad Gita di medan perang Kuruksetra</p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>seluruh susunan alam semesta dibawah Ku. atas kehendak Ku alam semesta dengan sendirinya diwujudkan berulang kali.atas kehendak Ku akhirnya alam semesta dileburkan ( Bhagawad Gita 9.8)</li>
</ul>
<ul>
<li>Orang bodoh mengejek diri Ku bila Aku menurun dalm bentuk seperti manusia.mereka tidak mengenal sifat rihani Ku sebagai Tuhan Yang Maha Esa yang berkuasa atas segala sesuatu yang ada ( BG 9.11)</li>
</ul>
<ul>
<li>wahai putra pritha, orang yang tidak dikhayalkan, roh2 yang mulia,dibawah perlindungan alam rohani.mereka tekeun sepenuhnya dalam Bhakti karena mereka mengenal diri Ku sebagai kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, asal mula yang tidak dapat dimusnahkan ( BG 9.13)</li>
</ul>
<ul>
<li>Akulah ayah alam semesta ini,ibu,penyangga dan kakek. Akulah obyek pengetahuan yang menyucikan dan suku kata OM. Aku juga reg,sama dan yajur Weda ( BG 9.17)</li>
</ul>
<ul>
<li> Aku adalah tujuan,pemelihara,penguasa,saksi,tempat tinggal,pelindung dan kawan yang paling tercinta.aku adalah ciptaan dan peleburan, dasar segala sesuatu,sandaran dan benih awal ( BG 9.18)</li>
</ul>
<ul>
<li> satu-satunya Aku yang menikmati dan menguasai semua korban suci. karena itu,orang yang tidak mengenal sifat rohani Ku yang sejati jatuh ( BG 9.24)</li>
</ul>
<ul>
<li> orang yang mengenal Aku sebagai yang tidak dilahirkan,sebagai yang tidak berawal,sebagai Tuhan Yang Maha Esa yang berkuasa atas semua dunia, dikalangan manusia dia yang tidak berkhayal dan hanya dialah yang dibebaskan dari segala dosa (BG 10.3)</li>
</ul>
<ul>
<li>Aku adalah sumber segala dunia rohani dan segala dunia material. segala sesuatu berasal dari Ku. orang bijaksana yang mengetahui kenyataan ini secara sempurna menekuni bhakti kepada Ku dan menyembah Ku sepenuh Hatinya (BG 10.8)</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebenarnya masih ada lg sloka -sloka yg menegaskan siapa Bliau sebnarnya,namun karena keterbatasan saya dan untuk menumbuhkan rasa ingin tahu teman2 umat sedharma, saya tidak tampilkan sloka-sloka tsb lebih lanjut,hanya saja sebagai penutup saya mencantumkan bagaimana kesimpulan dari arjuna setelah mendapat sabda gita dari Sri Krishna.</p>
<p>Arjuna berkata : Anda adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, tempat tinggal tertinggi yang maha suci,Kebenaran Mutlak. Anda adalah Yang MAha Abadi, Yang Rohani dan melampui dunia ini, Kepribadian Yang asli dan tidak dilahirkan dan Yang maha besar.semua rsi yang mulia seperti narada, asita,dewala dan vyasa membenarkan kenyataan ini tentang anda dan sekarang anda sendiri menyatakan demikian kepada hamba.</p>
<p>Semoga bermanfaat.OM TAT SAT</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>By <a href="http://www.facebook.com/putu.darmadi">Putu Gede Putra Darmadi</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iloveblue.com/bhagawad-gita-menjawab-misteri-tentang-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Empat Tipe Bhakta</title>
		<link>http://www.iloveblue.com/empat-tipe-bhakta/</link>
		<comments>http://www.iloveblue.com/empat-tipe-bhakta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jan 2013 09:28:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hindu dan Adat Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iloveblue.com/?p=25184</guid>
		<description><![CDATA[Dalam perjalanan spiritual, ada satu pertanyaan mendasar yang mestinya selalu  direnungkan, yakni siapa yang dapat menyelamatkan siapa? Jawaban pertanyaan itu secara tegas adalah Dia Yang Maha Spiritual. Dia ibarat akar yang super kuat menjulur pada tepian sungai samsara. Siapapun yang tercemplung dan terseret arus sungai itu, asalkan dia yakin pada kekuatan Sang Akar dan mau [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam perjalanan spiritual, ada satu pertanyaan mendasar yang mestinya selalu  direnungkan, yakni <em>siapa yang dapat menyelamatkan siapa</em>? Jawaban pertanyaan itu secara tegas adalah Dia Yang Maha Spiritual. Dia ibarat akar yang super kuat menjulur pada tepian sungai samsara. Siapapun yang tercemplung dan terseret arus sungai itu, asalkan dia yakin pada kekuatan Sang Akar dan mau berusaha untuk menggapai-Nya, maka dia pasti selamat. Lalu, kalau ada akar seperti itu, mengapa kita bersusah payah meraih akar-akar semak belukar yang lapuk dan tidak memberi harapan?</p>
<p>Orang yang berpegang kepada Tuhan, menyerahkan diri dan percaya kepada daya penyelamatan yang dimiliki-Nya adalah seorang bhakta. Seorang bhakta sejati tidak hanya melaksanakan upacara-upacara agama, menyanyikan lagu-lagu rohani, mengulang-ulang mantra, berdoa, atau duduk melakukan meditasi. Tapi  juga yang lebih penting adalah keyakinan yang tak tergoyahkan kepada Tuhan dan selalu ingin berkorban agar dapat “bercinta” dengan-Nya. Akan tetapi, di jaman Kaliyuga ini, sangat sulit menemukan orang yang menjadi bhakta sejati seperti itu. Kebanyakan orang baru ingat dan berdoa kepada Tuhan jika ada maunya. Kalau doanya sudah terkabul, Tuhan lalu dilupakan.</p>
<p>Sri Sathya Sai Baba mewejangkan bahwa ada empat tipe bhakta, yakni <strong><em>arthi, arthaarthi, jignasu,</em></strong><strong> </strong>dan<strong> <em>jnani</em>.</strong><em> </em>Tipe <em>arthi </em>adalah orang yang berdoa kepada Tuhan bila ia berada dalam kesulitan dan mengalami banyak cobaan serta kesengsaraan. Hanya pada saat itulah ia ingat kepada Tuhan. Mengenai tipe jenis ini ada pantun bahasa Bali yang relevan, <em>“Tain belek tain belenget. Mare jelek mare inget”</em> Artinya: Setelah jelek (tertimpa kesusahan/penderitaan) barulah ingat kepada Tuhan.</p>
<p>Pengabdi tipe kedua adalah <em>arthaarthi</em>. Pengabdi ini memuja Tuhan dan memohon agar diberi kekayaan, jabatan, kekuasaan, umur panjang, keturunan, dan lain-lain yang bersifat keduniawian. Banyak orang yang mendambakan anugrah kekayaan tanpa menyadari bahwa kekayaan yang  sejati adalah kebijaksanaan, bahwa harta yang sejati adalah tingkah laku yang baik, bahwa permata yang paling berharga adalah watak yang baik. Mereka bernafsu untuk memperoleh kekayaan duniawi, tetapi tidak mengerti arti dan makna dari semua simbol lahiriah harta benda duniawi itu.</p>
<p>Pengabdi tipe ketiga adalah <em>jignasu</em>. Pengabdi ini tidak henti-hentinya menekuni asas kerohanian. Di manakah Tuhan? Siapakah Tuhan? Siapakah Aku? Bila sudah masuk dalam tahap jignasu, seseorang akan sibuk mencari jawaban-jawaban pertanyaan itu untuk memperoleh pengetahuan kerohanian. Tipe ini lebih maju dibandingkan dua tipe sebelumnya.</p>
<p>Pengabdi tipe keempat adalah <em>jnani</em>. Pengabdi ini sudah mengetahui kebenaran. Jnana berarti pengetahuan. Apakah pengetahuan duniawi yang dimaksudkan? Tidak! Jnana tidak menyangkut pengetahuan duniawi, jnana adalah pengetahuan spiritual yang sejati. Jnana berarti kebijaksanaan, ia juga berarti penghayatan kesatuan, pengetahuan yang esa tiada duanya.</p>
<p>Ada satu cerita yang mengambarkan keempat tipe bhakta itu. Pada suatu hari, seorang suami yang mempunyai empat istri harus pergi ke luar negeri untuk suatu urusan bisnis. Ia tinggal beberapa bulan di luar negeri. Sebelum pulang, ia menelpon keempat istrinya. Dalam telepon itu dikatakan bahwa tiga hari lagi ia akan pulang. Jika ada sesuatu yang diminta dari luar negeri, maka ia akan sangat senang membawakan permintaaan itu.</p>
<p>Istri yang keempat adalah yang termuda dan tercantik. Oleh karena itu banyak sekali keinginannya. Ia merajuk, “Kang Mas, belikanlah aku cincin dan kalung berlian yang indah, rok mini, <em>lipstick, cologne</em>, dan semua kosmetik yang lagi <em>in</em> di sana”. Sang suami membelikan semua yang diminta oleh istri termudanya.</p>
<p>Istri yang ketiga kurang ceria. Ia menderita berbagai macam penyakit. Ia menjelaskan bahwa kesehatannya sedang terganggu dan ingin mendapat obat-obatan luar negeri yang paten agar sembuh dari sakitnya. Suaminya kemudian mencarikan apa yang diminta oleh istrinya.</p>
<p>Istri yang kedua memiliki minat spiritual yang besar. Oleh karena itu, ia meminta suaminya untuk membelikan kitab suci dan buku-buku kerohanian serta buku-buku yang memuat kehidupan orang-orang suci. Suaminya juga menyanggupi. Ia mengunjungi beberapa toko buku yang besar di sana. Buku-buku yang diminta istrinya pun dapat dicarikannya.</p>
<p>Istri yang pertama berkata, “Mas, saya tidak membutuhkan apa-apa, untuk diri saya sendiri. Pulanglah dengan selamat dan sehat walafiat. Itu akan membuat saya bahagia”. Demikian pesan singkat istri pertamanya yang membuat sang suami terharu dan semakin sayang kepadanya.</p>
<p>Ketika pulang, ia membawa apa yang diminta oleh istri-istrinya. Untuk yang termuda, istri yang keempat, ia membawa perhiasan dan kebaya sutra yang indah-indah. Untuk istri yang ketiga ia membawakannya obat-obatan dan tonikum yang paten. Untuk istri yang kedua, dibawakannya buku-buku kerohanian. Kemudian ia tinggal bersama istrinya yang pertama, yang hanya meminta, “Pulanglah dengan selamat, saya tidak butuh apa-apa”. Istri ini hanya membutuhkan suaminya. Ketiga istri yang lain merasa iri dan salah seorang di antaranya berkata, “Setelah sekian lama tidak bertemu dengan kami, satu kali pun Kang Mas tidak pernah mengunjungi kami. Apa gerangan sebabnya? Sang suami menjawab, “Aku telah memberi engkau masing-masing apa yang engkau minta. Yang meminta perhiasan dan kosmetik sudah aku  berikan. Yang meminta obat sudah juga aku berikan. Yang meminta buku-buku kerohanian pun sudah aku berikan. Yang terakhir menginginkan diriku sendiri, maka aku tinggal bersama dia sekarang”. Suami melambangkan Tuhan sendiri. Keempat istrinya adalah keempat tipe pengabdi. Tuhan akan memberi kita apa yang kita minta. Siapa yang meminta Tuhan sendiri, maka Tuhan akan datang kepadanya dan bersemayam dalam hati peminta-Nya.</p>
<p>Tuhan adalah <em>Kalpataru</em> yakni pohon yang mengabulkan segala permintaaan. Tuhan adalah <em>Kamadhenu</em> yakni sapi surgawi yang dapat memberikan apa saja yang diinginkan. Ya, Dia akan memenuhi permintaan setiap orang walau dengan cara yang berbeda. Kalaupun tampaknya doa dan keinginan bhakta tidak terkabul, pasti ada alasannya. Bila seorang anak kecil meminta pisau yang sangat tajam sebagai mainan, atau meminta permen pada saat dia sedang sakit, apakah  sang Ibu yang bijak akan memberinya?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>By <a href="http://www.facebook.com/BukanCalonTuhan">Page Paradev</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iloveblue.com/empat-tipe-bhakta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Narada Muni Pertama Kali Bertemu Sri Radha</title>
		<link>http://www.iloveblue.com/narada-muni-pertama-kali-bertemu-sri-radha/</link>
		<comments>http://www.iloveblue.com/narada-muni-pertama-kali-bertemu-sri-radha/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jan 2013 09:27:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hindu dan Adat Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iloveblue.com/?p=25182</guid>
		<description><![CDATA[Narada Muni pertama kali mendapatkan darsana dari Srimati Radharani ketika Beliau muncul di tanah Vraja. by Svarūpa Siddhi Dās Suatu hari, saat mengeliling alam semesta dan bermain dengan alat musik Vina nya, Narada Muni mencapai planet Goloka untuk mendapatkan darsana dari Tuhan Sri Krishna. Ia menemukan bahwa setiap kegiatan dan lila dari Sri Krishna akan tampak [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Narada Muni pertama kali mendapatkan darsana dari Srimati Radharani ketika Beliau muncul di tanah Vraja.</strong></p>
<p>by Svarūpa Siddhi Dās</p>
<p>Suatu hari, saat mengeliling alam semesta dan bermain dengan alat musik Vina nya, Narada Muni mencapai planet Goloka untuk mendapatkan darsana dari Tuhan Sri Krishna. Ia menemukan bahwa setiap kegiatan dan lila dari Sri Krishna akan tampak sangat berbeda. Narada Muni kemudian mengambil posisi duduk untuk bermeditasi, dan dengan demikian dipahami bahwa Tuhan Sri Krishna, bersama dengan rekan-rekanNya, telah turun ke dunia material. Narada Muni ingin melihat Tuhan di dunia material sehingga ia pergi ke Bhauma Vrindavan.</p>
<p>Pertama dia mengunjungi  rumah Nanda Maharaja. Di sana ia melihat Tuhan dalam bentuk anak kecil, tidur di ranjang yang empuk yang telah dirancang dengan baik terbuat dari emas. Semua wanita para pengembala sedang memandang beliau dan dalam kebahagiaan dari bentuk indah Sri Krishna. Tuhan membuat bahagia semua orang dengan melirik mereka dari sudut mata-Nya. Biru-hitam rambutNya bergelombang, tersebar di wajah-Nya, membuat Beliau menjadi sangat indah. Narada Muni sangat senang melihat Tuhan pujaanNya dalam bentuk bayi telanjang dan mengatakan kepada Nanda Maharaja, &#8220;Tidak ada yang mengetahui kualitas terbatas anakmu. Bahkan para dewa yang mulia seperti Siva, Brahma, dan Indra menginginkan keterikatan yang kekal kepada-Nya. Karakter anak laki-laki ini akan menjadi penyebab kebahagiaan untuk semua orang. Para penyembahNya akan selalu mendengar dan menyanyikan kegiatan-Nya. Anda harus menyerahkan setiap harapan bagi dunia ini dan planet-planet yang lebih tinggi dan hanya mengembangkan cinta kasih untuk anak ini.</p>
<p>Narada Muni kemudian meninggalkan rumah Nanda Maharaja. Dia berpikir, &#8220;Sekarang Tuhan Sri Hari telah muncul untuk menampilkan kegiatan-Nya di dunia material ini. Jadi pendamping-Nya yang kekal juga harus telah muncul sebagai Gopi di tanah Vraja untuk membantu Tuhan Sri Krishna dalam kegiatan-Nya. Tidak ada keraguan tentang hal ini. Hari ini, aku harus pergi ke rumah setiap penduduk Vrajavasi untuk menemukan-Nya.</p>
<p>Berpikir seperti ini, Narada Muni mengunjungi setiap rumah di Vraja. Beliau diterima dengan sangat baik dan disembah oleh para Vrajavasi ke mana pun ia pergi.</p>
<p>Akhirnya, Narada Muni tiba di rumah Vrsabhanu maharaj. Narada mengatakan kepadanya: &#8220;Anda sangat terkenal di seluruh dunia dalam kegiatan keagamaan Anda. Aku bisa melihat Anda sangat kaya, dengan kemewahan yang begitu banyak. Tolong, beritahu aku jika Anda memiliki seorang putra atau putri. Aku ingin melihat mereka. &#8220;Mendengar ini, Vrisabhanu Deva membawa anaknya yang paling berkilau, Sridama, untuk menunjukkan kepada Narada Muni dan menyampaikan sembah sujud untuk Muni &#8211; vara. Dengan melihat bentuk yang paling indah dari anak ini, Narada Muni menjadi sangat bahagia. Merasakan dari kasih sayang yang besar ia memeluk anak itu lagi dan lagi dan mengatakan kepada Vrisabhanu, &#8220;Anakmu akan menjadi teman baik Krishna dan Balaram. Dia akan bermain dengan Mereka siang dan malam. Dia sangat beruntung. Tolong, rawat dia dengan baik.</p>
<p>Narada Muni bersiap-siap untuk melanjutkan perjalananya, ketika itu Vrisabhanu Maharaj berkata, anak ini memiliki seorang adik perempuan yang meskipun seindah penghuni surga ,tetapi Dia buta, tuli, dan bisu. Aku memohon berbaik hatilah untuk membuatNya normal dengan memberikan Anda dharsana suci. Silahkan masuk dan berkati anak perempuan kecil ini.</p>
<p>Di sana ia melihat putri Raja Vrisabhanu bermain di tanah. Narada Muni segera mengangkat gadis itu dan meletakan-Nya di pangkuan. Dia merasa sangat gembira melihat gadis ini – kebahagian yang sama ia rasakan ketika melihat Krishna, anak dari Nanda Maharaja. Dia merasakan kebahagian yang luar biasa, sehingga sejenak ia kehilangan akal sehatnya dan menjadi tertegun seperti batu.</p>
<p>Ketika kembali sadar secara eksternal, ia membuka matanya dan sangat terkejut bahwa ia tidak dapat mengucapkan kata-kata. Narada berpikir, &#8220;Aku sudah berkeliling ke semua planet-planet termasuk Brahma-loka, Rudra-loka, dan Indra-loka. Tapi aku belum pernah melihat gadis begitu indah seperti ini. Aku telah melihat putri Himalaya, Devi Parvati. Kecantikannya menyenangkan semua orang di dunia material ini. Tapi kecantikannya tidak bisa menyentuh gadis ini. Keindahan Laksmi dan Saraswati tidak akan sama bahkan bayangan dari gadis ini. Aku telah melihat bentuk Mohini devi dari Sri Visnu, yang mana membuat bingung Deva Siva. Tapi kecantikanNya tidak sama dengan keindahan gadis ini. Aku tidak memiliki kekuatan untuk memahami kebenaran gadis ini. Beliau adalah istri tercinta dari Sri Hari. Tidak ada yang dapat memahami-Nya. Hanya dengan mendapatkan dari darsana gadis ini, aku merasakan cinta begitu besar kepada Sri Govinda. Aku belum pernah merasakan cinta begitu sangat seperti ini sebelumnya. Aku harus memuliakan-Nya dengan menyampaikan doa-doa dan sembah sujud kepada-Nya.</p>
<p>Narada Muni kemudian menyampaikan doa-doanya sebagai berikut:</p>
<p>O, Devi! Anda adalah <strong>Maha-yoga-svarupini</strong>, Anda permaisuri dari <strong>Goloka-Bihari, Sri Hari</strong>. Anda selalu tenggelam dalam kebahagiaan yang paling indah dan manis. Aku telah mendapatkan dharsana dari Anda karena keberuntungan yang besar. Anda selalu terhubung dalam merenungkan <strong>prana-vallabha</strong> Anda, <strong>Syamsundara</strong>, dan dengan demikian menurunkan kebahagiaan yang begitu dalam. Anda yang paling indah dan bahagia dan selalu puas. Anda telah memberikan Mahavisnu kelahiran. Anda adalah penyebab manifestasi kosmis, pemeliharaan dan pemusnahan. Anda <strong>visuddha-sattva svarupa</strong> dan <strong>para-sakti</strong>. Anda adalah <strong>Brahma Gayatri</strong> dan ibu dari <strong>Sruti</strong>. Bahkan para dewa yang agung seperti Brahma dan Rudra tidak mengetahui tattwa dari keberadaan Anda.</p>
<p>Yogindra dan Munindra tidak bisa memahami Anda dengan meditasi. <strong>Govinda iccha-sakti, sakti Janan,</strong> dan <strong>kriya-sakti</strong> adalah hanya bagian dari Anda. Anda adalah <strong>ahladini-sakti, ananda-rupini,</strong> dan<strong> isvari.</strong> Tidak ada keraguan tentang hal ini. Sri Krishna memiliki kegiatan yang kekal dengan Anda di dalam hutan Vrindavan. Dalam bentuk bayi,  Anda membuat bingung seluruh alam semesta dengan keindahan Anda. Dengan bentuk ini, Nandanandana Sri Krishna juga menjadi bingung dan pingsan. Dengan penyerahan diri kepada kaki padma Anda dan menyampaikan sembah sujud sederhana ku untuk Anda.</p>
<p>Jika Anda merasa saya memenuhi syarat, maka mohon perlihatkanlah bentuk kisori Anda  untuk ku.</p>
<p>Narada Muni menyampaikan sembah sujud untuk Radharani dan mulai memuliakan keindahan Sri Krishna. Ketika Srimati Radharani mendengar kemuliaan bentuk dan kualitas-Nya yang paling terkasih Syamasundara, maka Beliau memanifestasikan dalam bentuk-Nya paling lengkap. Selain itu, dengan mendengar dari penyembahnya yang agung Narada Muni seperti itu, Beliau menjadi lebih berkarunia. Ketika Narada Muni mulai memuliakan keindahan dari Sri Krishna, maka Srimati Radharani memperlihatkan bentukNya yang paling menarik dan indah dalam bentuk seorang gadis berumur empat belas tahun. Pada waktu itu juga, semua sakhi Nya muncul di sana dan mengelilingi Radharani.</p>
<p>Mereka berpakaian bagus dan dihiasi dengan ornamen banyak. Dengan melihat ini Narada tidak bisa terus menyampaikan doanya lagi. Dia berada dalam kebahagian yang luar biasa sehingga ia menjadi tertegun dan tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.</p>
<p>Para sakhi kemudian membawakan air dan membasuh kaki padma dari Radharani dan memercikan air tersebut kepada Rsi Narada untuk membawa kembali ke kesadarannya. Para sakhi, sangat murah hati kepada Narada Muni, dan menyampaikan kepadanya, &#8220;Wahai Rsi yang mulia! Anda harus melayani Tuhan Sri Hari, yang mana selalu memenuhi keinginan penyembahNya, dengan pengabdian kerohanian yang mulia. Itulah sebabnya hari ini Anda telah dapat melihat bentuk abadi yang paling indah dari kisori<strong>Sri Hari-vallabha Radharani.</strong></p>
<p>Bahkan Brahma, Rudra, Rsi besar, Siddha, muni, dan bhagavata yang lain belum dapat melihat bentuk dari Sri Radhika. Apa yang dibicarakan untuk melihat-Nya, mereka tidak mengetahui tentang-Nya. Hari ini Beliau memberikan dharsanNya  dalam bentuk kisori. Anda sangat beruntung. O Brahmana! Bersabar dan bangunlah.</p>
<p>Dalam keadaan tertegun melihat bentuk Srimati Radharani, Narada Muni menyampaikan sujudnya lagi dan lagi. Bentuk paling menarik dari Radharani adalah cahaya kerlip seperti kilat. Bentuk kisoriNya akan menghilang perlahan-lahan. &#8221;</p>
<p>Para sakhi melanjutkan, &#8220;Ada satu pohon asoka di tepi sungai Kusuma Sarovara di kaki bukit dari Govardhana. Pohon asoka tsb menghasilkan bunga selalu. Harum bau bunga-bunga ini menyebar di seluruh hutan dan membuat seluruh daerahnya menjadi sangat wangi. Anda akan mencapai dharsana kami di bawah pohon asoka tersebut di tengah malam.</p>
<p>Kemudian, ketika dalam waktu yang tepat, Anda akan melihat Srimati Radharani bersama para sakhi Nya. &#8221;</p>
<p>Dengan menyampaikan hal ini, para gopi menghilang dari sana, dan lagi Srimati Radhika mengambil bentuk semula sebagai seorang bayi. Maharaj Vrisabhanu kembali masuk ke kamar. Dia melihat Narada Muni menyampaikan sembah sujud kepada anaknya dan bertanya, &#8220;O Muni! Mengapa Anda menyampaikan doa-doa untuk bayi saya? &#8220;Narada Muni meyakinkan Vrisabhanu maharaj bahwa semua akan baik-baik, kemudian Rsi Narada meninggalkan tempat itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>By <a href="http://www.facebook.com/srinidhi.dasa">Srinidhi Dasa</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iloveblue.com/narada-muni-pertama-kali-bertemu-sri-radha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
