Melestarikan Budaya Bali-Utara

Diposting tanggal 31 May 2012 oleh admin di kategori Hindu dan Adat Bali | 1 Comment » [ 229 views ]

*Pendahuluan*

 

Budaya Bali Utara adalah budaya campuran, antara budaya yang berasal dari agama-agama Budha (Mahayana), Hindu (Jawa, Bali, India), dan Islam. Selain itu percampuran budaya juga terisi oleh tradisi berbagai etnis yang datang dan menetap di Bali Utara, antara lain: Jawa, Madura, Bugis, Bali (Tengah, Selatan, Timur), Cina, dan Arab.

 

Ciri-ciri percampuran itu ada yang masih terlihat sebagai bentuk aslinya, namun banyak yang sudah tidak nampak secara khas. Budaya campuran ini terlihat dari: gaya bahasa, kesenian, pola berpikir, pola kehidupan, dan kepercayaan. Untuk memahami proses percampuran ini, berikut diuraikan sekilas sejarah Bali Utara (Den Bukit) sebagai berikut:

Penduduk asli Den Bukit adalah orang Bali Kuna. I Nyoman Singgin Wikarman, dalam bukunya ‘Leluhur orang Bali’ menggunakan istilah ‘Bali Mula’ untuk Bali Kuna.

Beliau menggali lebih dalam berdasarkan temuan Drs. Soekmono (1973) temuan Dr. R.P. Soejono (1961), dan tulisan I Made Sutaba, masing-masing mengungkap keberadaan orang-orang Bali Utara sejak zaman batu, zaman perundagian, sampai zaman kehidupan agraris.

Mereka yang digolongkan sebagai orang Bali Kuna termasuk rumpun manusia Austronesia, yang belum beragama. Baru pada abad ke-8 Masehi, seorang yogi dari India Selatan bernama Maha Rsi Markandeya datang menyebarkan Agama Hindu sekte Waisnawa. Sebelum ke Bali beliau telah mendirikan pasraman di Gunung Dieng dan Gunung Raung.

Kedatangannya di Bali, pertama mengunjungi Besakih, kemudian menetap di Taro (Tegallalang – Gianyar). Sebelum moksah di Sepang (Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng) beliau lama menetap di pinggir Danau Tamblingan (Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng)

 

*Perekonomian di Den Bukit pada zaman Bali Kuna*

 

Mayoritas penduduk Den Bukit hidup dari penghasilan sektor agraris: pertanian, peternakan, perikanan, dan mengumpulkan hasil hutan. Sebagian kecil penduduk hidup dari sektor perdagangan sebagai pengepul hasil bumi terutama beras, untuk dijual kepada saudagar-saudagar Cina.

Sebaliknya mereka membeli barang-barang kelontong dan barang-barang kerajinan dari pedagang-pedagang Cina seperti kain, porselain, pecah-belah, dan keperluan rumah tangga lainnya.

Perdagangan di Bali Utara lebih ramai daripada di Bali Selatan, karena kesibukan lalu lintas kapal-kapal dagang lebih banyak di pantai utara. Jalur pelayaran di Nusantara mulai dari semenanjung Malaka menyusuri pantai timur Sumatra, pantai utara Jawa, pantai utara Bali, berbelok ke selatan di Selat Lombok, seterusnya ke Sumbawa, Sulawesi Selatan dan Maluku.

Pelabuhan-pelabuhan laut di pantai utara Bali adalah: Teluk Terima, Pemuteran, Buleleng, Sangsit, Kubutambahan, dan Julah. Sedangkan pelabuhan di pantai selatan Bali hanya Sanur.

Jalur perdagangan di daratan pulau Bali bermula dari pelabuhan menuju ke pegunungan. Dari Teluk Terima, jalur darat menuju Desa-Desa: Busungbiu, Munduk, Tamblingan, Candi Kuning, terus ke Tabanan. Dari Pemuteran mengikuti jalur yang sama dengan jalur Teluk Terima.

Dari Buleleng, ada jalur ke: Gitgit, Wanagiri, Buyan, Candi Kuning, terus bersatu dengan jalur ke Tabanan. Dari Sangsit, Kubutambahan dan Julah, jalur yang paling ramai menuju Desa-Desa pegunungan bagian timur, akhirnya menuju pusat kerajaan di Kintamani, dan Bedahulu.

Awalnya perdagangan dilakukan secara barter, yakni tukar-menukar barang (mepurup-purup), karena Raja-Raja yang berkuasa tidak menciptakan mata uang bagi negerinya. Kedatangan saudagar-saudagar Cina yang membawa mata uang Cina serta mengajarkan kepada penduduk Bali Kuna sistem jual-beli menggunakan uang kartal, menarik perhatian Raja Udayana.

Sistem ini dinilai baik karena praktis, melancarkan perdagangan, dan memudahkan Raja memungut pajak. Walaupun penduduk telah mengenal dan menggunakan mata uang Cina sebelum pemerintahan Sri Ugrasena, namun Raja Udayana-lah pada tahun 989 Masehi yang secara resmi menetapkan berlakunya mata uang Cina sebagai uang kartal atau alat tukar yang sah. Orang Bali Kuna menyebut mata uang itu: pis-bolong.

Pis bolong yang mulai beredar di Bali pada abad ke-7 dibuat di Cina pada zaman pemerintahan Dinasti Tang (618 M – 907 M). Peranan pis bolong sebagai alat tukar di Bali Kuna makin kuat, karena beberapa hal, yaitu:

   1. Perkawinan Raja Sri Jaya Pangus (1133 M – 1173 M) dengan seorang putri Cina, kerabat Raja Khu Bilai Khan.

   2. Bali Kuna pernah dijajah oleh kerajaan Singasari (1284 – 1324), sedangkan Singasari ketika itu dikuasai Cina di bawah Gubernur Militer Jenderal Meng Khi. Pemerintahan Singasari di Bali adalah untuk dan atas nama Jenderal Meng Khi. Pejabat yang ditunjuk, seorang panglima militer Singasari bernama Kebo Parud.

   3. Jalur perdagangan keluar negeri dari Bali dimonopoli Cina untuk menjaga agar keuntungan dari perdagangan candu (opium) terjaga.

   4. Setelah pemerintahan Dinasti Tang di Cina berakhir, Dinasti Sung malah lebih banyak menyebarkan pis bolong ke Nusantara, khususnya ke Bali Kuna. Jumlah ekspor pis bolong dari Cina ke Majapahit diperkirakan 1,8 miliar qian (= keteng) setahun.

 

*Pengaruh kebudayaan Cina di Den Bukit*

 

Pelabuhan-pelabuhan penting di Bali Utara (Den Bukit) seperti Pabean Buleleng dan Pabean Sangsit dikendalikan oleh pedagang terkemuka, sekalian merangkap sebagai pejabat militer Cina.

Di Pabean Buleleng pejabat itu berpangkat Kapitain (tidak jelas namanya), dan seorang berpangkat Mayor yang bernama Kho Bun Sing sebagai penguasa di Pabean Sangsit. Pejabat dan saudagar-saudagar ini sangat kaya dan berpengaruh.

Mereka menguasai tanah pertanian yang luas dari praktek meminjamkan uang kepada para petani dengan suku bunga tinggi atau disebut sistim riba.

Penduduk Bali Kuna yang dahulunya belum mengenal candu (opium), kemudian menjadi ‘kecanduan’ sehingga hidupnya sengsara; sawah – kebun tergadai, kehilangan pekerjaan, sampai ada yang menjual anak-anak untuk menjadi budak saudagar-saudagar Cina. Orang Bali Kuna menamakan candu: madat

Kebiasaan berjudi pada orang-orang Cina ditiru oleh penduduk lokal, seperti permainan: Ceki, Cap Bi Kie, Mong-mong, Tokek, Tog-tog, Contok, dan Truwie.

Dengan adanya pis bolong sebagai mata uang kartal yang sah, perjudian semakin marak, menyebabkan penduduk asli banyak yang jatuh miskin karena kalah berjudi.

Penduduk mulai mengenal pola-pola pikir spekulatif, ingin mendapat keuntungan dengan cepat, dan yang berniat melakukan kejahatan pencurian dan perampokan makin berpeluang.

Yang terakhir ini menjadi lebih mudah karena penduduk asli yang semula menimbun hasil panen dalam bentuk natura, kemudian menabung dalam bentuk uang kartal, sehingga memudahkan para pencuri dan perampok menguras harta benda mereka.

Perkawinan Raja Sri Jayapangus dengan seorang wanita Cina, dipuja-puja rakyatnya. Bentuk pemujaan ini dengan menstanakan Bhatari Cina di Pura Ulun Danu Batur, Bhatari Ratu Subandar di Besakih, dan simbol-simbol lain misalnya adanya barong landung lanang wadon yang merupakan replika Sri Jayapangus dan permaisurinya.

Cerita-cerita rakyat Cina pun menyebar di Bali, misalnya kisah Sampik – Ing Tay. Ilmu silat dari Cina juga berkembang di Bali Kuna dalam bentuk pencak, dan dalam bentuk tarian masal, misalnya: baris dapdap, baris demung, baris presi, baris tumbak, baris tamiang, dan lain-lain, yang kini dapat dijumpai di pedesaan Bali Utara.

Pis bolong selain digunakan sebagai uang kartal, juga digunakan dalam upacara dan upakara. Beberapa jenis banten harus menggunakan pis bolong.

Pretima dan prerai dibuat dari pis bolong tertentu yang dinamakan pis koci.

Pis bolong yang bernama pis krinyah digunakan dalam upacara kematian.

Canang sari dan kwangen menggunakan pis lumrah. Jenis-jenis pis bolong yang disebutkan diatas disakralkan, tidak boleh digunakan berjudi.

Untuk berjudi digunakan jenis pis wadon, pis lembang dan pis jahi. Ada juga jenis pis bolong yang digunakan sebagai jimat, misalnya pis Siwa, pis Gana, pis Jogor Manik, pis rerajahan, pis Anoman, pis Kresna, pis Rama, pis Bima, pis Rejuna, pis Dedari, pis Jaran, pis Padang, dan pis Jaring.

Di bidang kemiliteran, prajurit Den Bukit mulai mengenal senjata-senjata jenis panah, tombak, pedang dan perisai (tamiang) yang berkualitas lebih baik karena dibuat dari baja yang halus dan tajam. Industri peleburan baja belum ada di Bali. Oleh karena itu senjata-senjata jenis itu kebanyakan diimpor dari Cina.

Pakaian-pakaian mahal yang digunakan oleh Raja-Raja dan kaum bangsawan berbahan sutera (kain pere) yang dibeli dari saudagar-saudagar Cina. Sejenis kertas buatan Cina yang dinamakan kertas ulan taga disakralkan, hanya digunakan sebagai salah satu sarana penting dalam upacara kematian.

Perkawinan campuran antara orang-orang Cina dengan penduduk asli banyak terjadi. Orang Cina yang sudah membaur menjadi penduduk Bali biasanya menggunakan nama kombinasi Cina-Bali, misalnya: Babah Ketut, Babah Nyoman, dll.

Di kalangan bangsawan dan saudagar kaya, dikenal nama-nama yang berbau Cina, misalnya: Kho Cin Bun (yang menetap di Desa Sinabun), Kho Ping Gan (yang menetap di Desa Pinggan – Kintamani), Ma Sui La dan Ma Sui Lie, anak-anak kembar buncing dari Kho Ping Gan (oleh orang Bali dinamakan Masula – Masuli), keluarga Beng Kui Lun yang menetap di Desa Bungkulan, dan keluarga Ma Pa Cung yang menetap di Desa Pacung.

 

*Den Bukit di masa pendudukan Majapahit*

 

Ketentraman Den Bukit di masa Bali Kuna terguncang oleh invasi militer Majapahit pada tahun 1343 M. Invasi ini kemudian disusul migrasi besar-besaran penduduk Jawa Timur ke Bali karena berbagai hal, terutama karena berkembangnya Agama Islam.

Migrasi ini dipelopori oleh para pendeta Hindu (Danghyang, Mpu, Rsi). Namun perubahan budaya sebagai pengaruh Majapahit sebagian besar terjadi di wilayah Bali Selatan yang pusatnya di Samprangan (Gianyar) dan Gelgel (Klungkung).

Den Bukit tetap menjadi “wilayah tak bertuan” dan lepas dari perhatian para elit Majapahit. Wilayah Karangasem bagian barat (Sukadana) yang berbatasan dengan Den Bukit dikuasai oleh patih Majapahit bernama Arya Gajahpara.

Wilayah bagian barat tetap dikuasai oleh tokoh Bali Kuna bernama Pungakan Gendis yang berkedudukan di Desa Panji. Kiyai Sasangka Adri (keturunan Kiyai Ularan) berkuasa di Pengastulan, Petemon dan Bubunan. Kiyai Alit Mandala berkuasa di bagian timur.

Raja-Raja dari dinasti Majapahit yang menetap di Bali Selatan memandang Bali Utara sebagai wilayah liar, kurang subur, bersuhu panas, banyak binatang buas di hutan-hutan yang lebat, sehingga tak perlu diperhatikan.

Den Bukit kemudian menjadi tempat pelarian bagi para desertir tentara kerajaan-kerajaan: Gelgel, Badung, Menguwi dan Tabanan. Karena demikian “sangar”-nya wilayah ini, maka Den Bukit juga menjadi tempat pembuangan narapidana dari kerajaan-kerajaan di Bali selatan.

Selain itu mereka yang terkena penyakit kusta (sakit gede) yang dianggap penyakit terkutuk di masa itu, dibuang juga ke Den Bukit di suatu tempat yang bernama Kali Genit.

Den Bukit baru mempunyai Raja ketika Ki Barak menobatkan diri, setelah mengalahkan Pungakan Gendis pada tahun 1616 dengan gelar Kiyai Anglurah Panji Sakti. Beberapa tahun kemudian seluruh wilayah Den Bukit dikuasainya dan ibu kota kerajaan Den Bukit dipindahkan dari Panji ke Sukasada pada tahun 1629 M.

Sejak itu nama Den Bukit diganti dengan Buleleng. Ada dua versi yang menaksir kata buleleng. Versi pertama, buleleng nama sejenis padi-padian.

Versi kedua, buleleng dari “ibu-leleng”, yakni pelinggih tua yang berdiri miring karena rusak dan lapuk.

 

*Ekspansi Kerajaan Buleleng*

 

Angkatan bersenjata kerajaan Buleleng yang bernama Taruna Goak, sangat kuat dan ditakuti oleh kerajaan tetangga, baik di Bali maupun di Jawa Timur.

Taruna Goak dibentuk dari kesatuan-kesatuan yang berasal dari: rakryan dan pengendeh laskar Bali Kuna, yakni pasukan Kiyai Tamblang Sampun, patriot suku Bugis anak buah Karaeng Galesong, Karaeng Manggapa, dan Karaeng Bonto Marannu, para desersi tentara VOC di bawah komandan Henrik Berede Roode dan Jan Van Troet, ex tentara Cina (laskar Kho Bun Sing), dan prajurit jarahan dari Banyuwangi, Pasuruan, Probolinggo yang kebanyakan suku Madura.

Selain itu Taruna Goak dilengkapi dengan pasukan gajah.

Panglima Taruna Goak bernama Kiyai Tamblang Sampun berkali-kali memimpin operasi militer ke Blambangan, Pasuruan, Probolinggo, Menguwi, Jembrana, Karangasem, Tabanan dan Badung. Hanya ekspansi ke Tabanan dan Badung saja yang tidak berhasil.

Dari segi mistik, kegagalan ini karena tidak mendapat restu dari Ki Panji Landung, tokoh misterius yang membimbing Panji Sakti mencapai kejayaan.

 

*Persatuan dan kesatuan rakyat Buleleng*

 

Raja Panji Sakti mencapai kejayaan karena pemahaman yang tinggi pada kondisi rakyatnya yang heterogin, baik dari agama, bangsa, ras, suku, dan status sosial lainnya. Semangat menyatukan Buleleng sebagai sebuah kerajaan dan keinginannya untuk memunculkan eksistensi Buleleng di antara kerajaan-kerajaan di Bali dan Jawa, berhasil.

Bahkan Buleleng menjadi perhatian serius dari Gubernur Jendral Belanda di Batavia: Matcsuycker. Buleleng juga diperhitungkan oleh Pangeran Adipati Anom (Mataram), Trunojoyo (Pasuruan), Raja Gelgel: Kiyai Agung Maruti, dan Raja-Raja kecil lainnya di Bali Selatan.

Ada beberapa hal pokok yang dipegang sebagai prinsip dalam menetapkan kebijaksanaan pemerintah Panji Sakti, yakni:

   1. Sikap yang konsisten terhadap prinsip-prinsip kebebasan, kemerdekaan dan keadilan.

   2. Toleransi yang tinggi pada keyakinan orang lain (Agama) yang berbeda dengan Hindu-Bali.

   3. Patriotisme, cinta tanah air

   4. Anti imperialisme

   5. Anti feodalisme

   6. Anti monopoli perdagangan

Prinsip-prinsip itu tertanam di hati rakyat Buleleng, melekat pada pola pikir dan perilaku. Hal ini tentu saja melegakan penduduk asli Buleleng (orang-orang Bali Mula) sehingga mereka menerima dengan senang hati kaum pendatang terutama yang berasal dari wilayah Bali Selatan, asalkan mereka melepaskan titel-titel kebangsawanannya, tidak menonjolkan soroh, siap membaur ke masyarakat, dan menerima “bahasa Buleleng” sebagai ciri rasa persaudaraan.

 

*Budaya kesenian tradisional Buleleng*

 

Seperti yang telah diuraikan di atas, para eksudos yang datang ke Buleleng sebagian besar orang-orang yang tidak puas pada sistim sosial/ politik di Bali Selatan, prajurit yang desersi, nara pidana (menurut hukum adat di Bali Selatan).

Mereka membawa keahliannya berupa kesenian: lukis, tabuh, tari, ukir, dll.

Namun karena masyarakat Buleleng yang heterogen, hanya jenis kesenian tertentu saja yang dapat beradaptasi dan disenangi.

Bahkan ada beberapa jenis kesenian tari yang tercipta di Buleleng, sebagai hasil olahan kesenian Bali Selatan, namun di rekonstruksi menjadi lebih dinamis dan bersemangat. Misalnya tari: Janger, Joged, Panji Semirang, Teruna Jaya, dll.

Tabuh gamelan juga mengalami rekonstruksi misalnya: Angklung Kebyar, Gegilakan, Tabuh Telu, dll. Kesenian Wayang berkembang, namun ceritra yang disenangi dari ephos Bharatayuda, perang Pandawa – Korawa.

 

*Buleleng di masa penjajahan Belanda sampai menjelang perang kemerdekaan RI*

 

Sepeninggal Panji Sakti, Buleleng mengalami masa suram akibat pertikaian antara keturunannya yang berujung pada perang “Yudha semeton kalih” antara Puri Singaraja dpp. Ki Gusti Anglurah Jelantik Satra dengan Puri Sukasada dpp. Ki Gusti Anglurah Panji pada tahun 1765.

Puri Singaraja dibantu oleh prajurit Karangasem menggempur Puri Sukasada yang menyebabkan Ki Gusti Anglurah Panji gugur. Sejak masa itu Kerajaan Buleleng telah diintervensi oleh Raja Karangasem dalam pemerintahan dan kebijakan politik. Bahkan akhirnya Kerajaan Buleleng total dikuasai Raja-Raja dari dinasti Karangasem.

Perang puputan Jagaraga (1848) mengakhiri kemerdekaan Buleleng sebagai sebuah kerajaan. Raja “boneka” yang diangkat oleh Belanda adalah Ki Gusti Made Rai, dilantik oleh Letkol Van Swieten pada tahun 1851 atas restu Pangeran Van Saxe Weimer di Netherland.

Namun tidak berselang lama, kekuasaan Ki Gusti Made Rai dipecah-pecah oleh Van Swieten menjadi tiga: Wilayah timur dari Desa Tembok sampai Ponjokbatu dikuasakan kepada Ketut Sidemen.

Wilayah tengah dari Ponjokbatu sampai Enjung Sanghyang dikuasakan kepada Ki Gusti Made Rai. Wilayah barat dari Enjung Sanghyang sampai Cekik, dikuasakan kepada Ide Gde Jelantik.

Setelah sekian lama Buleleng terpecah tiga, akhirnya seiring dengan pembentukan Dewan Raja-Raja di Bali, Pemerintah Belanda melantik Ki Gusti Putu Jelantik, generasi X sebagai Raja Buleleng pada tanggal 29 Juni 1938, dengan gelar Anak Agung Putu Jelantik.

 

*Buleleng di masa kemerdekaan RI*

 

Kota Singaraja yang sekarang ibu kota kabupaten Buleleng, sejak zaman Belanda sampai awal masa kemerdekaan RI menjadi pusat pemerintahan, pusat perdagangan, dan pusat pendidikan. Pernah sebagai kedudukan Residen Bali-Lombok, dan Ibu kota propinsi Sunda Kecil (Nusa Tenggara).

Di masa itu kehidupan perekonomian Buleleng maju pesat karena pelabuhan Pabean Buleleng masih sangat berfungsi melancarkan perdagangan ekspor – impor dan antar pulau.

Sekolah – sekolah SLTP dan SLTA yang berkualitas baik tersedia, sehingga tidak sedikit pemuda-pemudi Buleleng menikmati pendidikan yang memadai sebelum mereka meneruskan studi keluar Bali, umumnya ke Surabaya, Jogya, Malang dan Makasar.

Baru di era 1960-an setelah terbentuk Propinsi Bali, ibu kota dipindahkan ke Denpasar. Maka masa kejayaan Buleleng dari hari kehari semakin redup.

 

*Masyarakat Buleleng dalam era globalisasi*

 

Di awal era globalisasi ada pergeseran sumber mata pencaharian penduduk yang sangat besar pengaruhnya pada tatanan kehidupan dan kebudayaan. Penduduk yang semula bekerja sebagai petani atau aktif dalam agri-bisnis berubah menjadi pekerja sektor industri, khususnya industri pariwisata.

Sejak boom pariwisata di tahun 1970-an pemuda-pemudi Buleleng melakukan urbanisasi besar-besaran ke sentra-sentra pariwisata di Badung, Gianyar, dan Tabanan. Akibatnya lahan pertanian banyak yang terbengkalai atau berubah fungsi menjadi perumahan, kegiatan industri dan perdagangan.

Tatanan masyarakat petani dengan ciri kehidupan sosial gotong royong berubah menjadi kelompok individualistis. Bersamaan dengan itu, peranan organisasi Subak semakin samar, bahkan banyak Pura Subak yang terbengkalai karena tidak ada lagi krama penyungsungnya.

Budaya kesenian tradisional juga banyak yang punah karena tidak mampu menjadi daya tarik penonton. Peranan dan wewenang Desa Adat Pakraman tidak jelas karena tumpang tindih dengan Desa Dinas dan Tripika yang mempunyai jenjang berkait dengan otoritas pemerintah.

Masalah penduduk pendatang yang tinggal di kawasan-kawasan real estate atau perumahan penduduk asli hingga saat ini belum jelas pengaturannya. Apakah mereka dibawah pengawasan Desa Adat Pakraman, ataukah Desa Dinas.

Hal-hal tersebut di atas merupakan ancaman pada kelestarian tradisi budaya Bali Utara. Padahal gerak roda perekonomian Bali pada umumnya dan Bali Utara pada khususnya tergantung pada keajegan tradisi-tradisi kebudayaan yang bersumber dari Adat dan Agama Hindu-Bali.

 

*Strategi melestarikan tradisi budaya Bali Utara*

 

Walaupun telah terjadi kemunduran yang drastis pada kelestarian tradisi budaya di Buleleng, namun masih ada harapan untuk menyelamatkan serta mengajegkannya dengan beberapa cara sebagai berikut:

   1. Sektor agraris dalam arti luas yang mencakup pertanian tanaman pangan, tanaman perkebunan, peternakan dan perikanan agar dihidupkan lagi dengan memberikan rangsangan kepada petani berupa kemudahan dan kemurahan biaya produksi, jaminan kelancaran pemasaran dan kegiatan-kegiatan pasca panen termasuk crops insurance (asuransi atas kegagalan panen).

   2. Desa Adat diberikan kewenangan penuh dalam masalah administrasi dan pengelolaan kependudukan.

   3. Pembangunan sarana dan prasarana yang berimbang antara Bali Utara dengan Bali Selatan, sehingga dengan demikian potensi objek wisata di Bali Utara dapat dikembangkan dengan baik. Bila ini bisa diwujudkan maka kesenian-kesenian tradisional dirangsang akan tumbuh dan berkembang karena didukung oleh pemasaran yang baik dalam bentuk pementasan di objek-objek wisata.

   4. Pembangunan proyek-proyek investasi agar memperhatikan kelestarian lingkungan sehingga konsep trihita karana dapat diwujudkan.

   5. Promosi pariwisata untuk Bali Utara lebih digiatkan.

   6. Keamanan, ketertiban, kebersihan dan keindahan wilayah dijaga sehingga para wisatawan merasa aman dan nyaman tinggal di Buleleng.

 

*Manfaat menjaga kelestarian tradisi budaya Bali Utara*

 

   1. Membuka lapangan kerja, mengurangi pengangguran

   2. Meningkatkan pendapatan masyarakat dan PAD Pemerintah Daerah Kabupaten Buleleng.

   3. Mengurangi urbanisasi penduduk Buleleng ke kota-kota lain di Bali Selatan misalnya Denpasar, Gianyar dan Tabanan

   4. Meningkatkan kecintaan dan kebanggaan masyarakat Buleleng pada tanah kelahirannya.

 

sumber: HDnet

  • Gunawan

    Alangkah baiknya kalau photographer Bali melakukan eksplorasi spot-spot yang indah di Bali Utara dan  mempromosikannya kepada teman-teman photographer dari luar Bali dengan menyelengarakan photography tour 3 hari 2 malam di Bali Utara bekerjasama dengan hotel dan transportasi serta tempat makan yang khas Bali ( syaratnya bersih dan harga reasonable).

Selamat datang di Tagboardnya www.iloveblue.com, sudahkan Anda membaca aturannya? klik di sini
Promo Iloveblue.com
WHAT'S UP BALI @TWITTER
SEARCH LIRIK LAGU
BANNER PROMO
tiket pesawat murah
RECENT COMMENTS
  • Agus: Swastyastu,tyang mau tanya apakah ada lowongan untuk uru agama tapi di jawa timur karena saya tinggal di jawa...
  • widi: thanks untuk inormasinya… webnya bagus…
  • Made Sudarmadi: bgmana si cranya konsentrasi
  • jah bless: vel kata siapa ganja bikin kecanduan ? lu pernah make ga ? kalo ga pernah diem aje. kalo masalah kesehatan...
  • SUSANTA BAGUS: Om Swastyastu, saya masu tanya, mohon informasinya: 1. Mengapa umat Hindu harus membuat pura 2. Apakah...
NUMPANG NAMPANG
LATEST POST
JEPRET
PHOTO GALLERY
BANNER SPONSOR
IKLAN PREMIUM

Foto Prewedding di Bali

Iloveblue
Pembuatan foto pre wedding kini telah menjadi suatu keharusan bagi calon mempelai. Keindahan dan keunikan suatu foto pre wedding akan menghiasi kartu undangan ataupun souvenir pernikahan. Terlebih lagi foto itu dibuat di Bali. Ini akan menjadi suatu sensasi tersendiri.

Menikah di Bali

Iloveblue
Untuk melakukan pernikahan di Bali, saat ini bukanlah sesuatu yang susah untuk dilakukan. Anda tinggal kontak ke salah satu wedding organizer, menentukan jumlah undangan yang akan hadir, memilih lokasi upacara, thema, yang tentunya disesuaikan dengan budget Anda.

Lokasi Prewedding di Bali

Iloveblue
Selain terkenal akan budayanya, Bali merupakan salah satu tujuan dari fotografer-fotografer prewedding saat ini. Karena Bali memberikan pilihan lokasi prewedding yang begitu beragam. Mulai dari danau, gunung, pura, pantai dan tentu saja panorama sunset yang eksotis.
Iloveblue
  • Apa kabar? - Punapi gatrane?
  • Berapa harganya ini? - Aji kuda niki?
  • Mau pergi ke mana? - Jagi lunga kija?
  • Saya suka kamu - Tyang tresna sareng ragane
  • Terima kasih banyak ya - Matur suksma nggih

Bali Stock Photos

Welcome to Bali Stock Photos, the web's original source for high quality stock photos / images from Bali. Bali, as well known an island with a thousands pura (temple) has so many wonderers objects / moments that can be captured in photos. Start from most uniquely ceremonies, the wonderful landscapes, balinese life, the exotic face of the balinese, the wonderfully flora and fauna and side by side with the greatness of balinese temples.

iloveblue.com
iloveblue.com