Mitologi Wuku

Diposting tanggal 18 Apr 2012 oleh admin di kategori Hindu dan Adat Bali | No Comments » [ 209 views ]

Om Swastyastu-Salam Kasih

Dalam  ajaran Wariga peranan wuku tidak dapat dikesampingkan dalam menentukan padewasan untuk mengawali suatu pekerjaan mapun melakukan Yajña. Setelah wewaran, wuku adalah merupakan rumusan ke dua dari wariga untuk  menentukan padewasan.

Berdasarkan lontar Medangkamulan  diceritakan kelahiran wuku seperti dibawah ini. Tersebutlah ada raja  yang banyaknya 27 orang yaitu Raja Giriswara memerintah di Gunung  Emalaya, Raja Kuladewa di Pasutranu. Raja Talu memerintah di Winekatalu.  Raja Mrebuana di Marga Wisaya. Raja Waksaya di Bragu. Juga ada Raja  Wariwisaya di Waragadiaswara. Raja Mrikjulung memerintah di Sekar Kencana, Raja Sungsangtaya di Sagraya.

Ada lagi yang lainnya yaitu Raja  Dungulan bertahta di Tanpasabda. Raja Puspita di Jena. Raja Langkir di  Langkaraya. Raja Medangsu di Medangpat. Raja Pujitwa di Pujiwisaya. Raja  Paha di Pangkurian. Raja Kruru di Ruruksa. Raja Mrangsinga memerintah  di Mrasuminggah. Raja Tambur memerintah di Kawi. Ada lagi  Raja Medangkusa memerintah di Kusinagara.Raja Matal memerintah di Matala.  Raja Uye di Padengenan. Raja Ijala di Wirajala. Raja Yuda di Prangwija.  Raja Baliraja memerintah di Ladikara. Raja Wiugah di Gandawiran. Raja  Ringgita di Apsari.Raja Kulawudra bertahta di Kalasumihang. Raja Sasawi  di Tresawit.

 

Diceritakan lagi bernama Dang Hyang  Kulagiri, mempunyai istri dua orang, istri yang pertama namanya Dewi  Sintakasih, putra dari bhagawan Gadiswara, istri yang kedua namanya Dewi  Sanjiwartia, pura Dang Hyang Pasupati, kedua putri ini menjadi Raja di  Kundadwipa.  Setelah lama bersuami istri, lalu Dang Hyang Kulagiri  berkata kepada istri keduanya, menyampaikan bahwa beliau segera akan pergi ke Gunung sumeru bertapa, juga mengingatkan supaya permaisurinya baik-baik saja tinggal di kraton selama beliau pergi. Istri beliau  berdua menyetujui.  Tak diceritakan keadaan sang raja bertapa sudah  cukup lama sekarang diceritakan Dewi Sintakasih sudah hamil tua. Dewi  Sintaksih bercakap-cakap dengan Dewi Sanjiwartia, memperbincangkan sang  raja belum datang. Akhirnya dalam percakapan itu diputuskan akan mencari  suaminya ke gunung Sumeru (tempat sang raja bertapa).  Tersebutlah  kedua istri sang raja berangkat dari kraton, menuju tempat suaminya  bertapa, sampailah perjalanan beliau pada lereng Gunung Sumeru, Dewi  Sintakasih sakit perutnya makin lama makin sakit sebagai tanda akan  melahirkan.

Duduklah Dewi Sintakasih di atas batu  yang datar dan lebar, melepaskan lelahnya sampil menahan rasa sakit  perutnya tetapi sayang tidak tertahan saat itu juga Desi Sintakasih  melahirkan bayi laki-laki. Pecahlah batu tersebut karena tertimpa badan  si bayi.  Setelah hal tersebut terjadi gelisah dan berdukacitalah Dewi  Sintakasih bersama Dewi Sanjiwartia. Saat itu pula turunlah Ida Hyang  Padmayoni, bertanya kepada para putri itu, apa sebabnya mereka bersedih.  Sang Dewi menghormat sambil berkata: “Ya, yang terhormat batara, hambamu ini ditinggal oleh suami bertapa di lereng Gunung Sumeru, sejak  hamba baru mulai hamil hingga sekarang. Sampai kelahiran putra hamba ini  belum juga beliau datan (kembali), itulah sebabnya hambamu ini bersedih  hati”. Demikianlah kata kedua putri itu menghormat kehadapan Dewa  Brahma.  Dewa Brahma setelah mendengar cerita kedua putri tersebut  beliau sangat bahagia dan mendoakan supaya bayi itu panjang umur  terkenal di dunia serta diberikan anugerah yang hebat tidak terbunuh  oleh para dewa, danawa, detya, manusia tak terbunuh pada malam hari  maupun pada siang hari, tidak mati dibawah maupun di atas, tidak terbunuh oleh senjata. Kecuali yang dapat membunuhnya adalah Dewa Wisnu.  “ Karena bayimu lahir di atas batu, aku anugrahi nama I Watugunung”.

Demikianlah sabda Dewa Brahma. Sang Dewi  keduanya menghormat dan menghaturkan terima kasih. Kemudian gaiblah  Dewa Brahma kembali ke Kahyangan yang disebut Brahma Loka.  Ketika  lenyapnya Dewa Brahma, sang dewi keduanya ke kraton dengan memangku  seorang putra. Tersebutlah bayi itu mengalami pertumbuhan yang amat cepat, sampai-sampai ibunya mearasa kewalahan meladeni bayinya untuk  memberi makan karena bayinya makan amat kuat. Heranlah kedua permaisuri  itu melihat putranya demikian hebatnya makan, kadang-kadang satu kali  masak atau satu periuk dihabiskan dalam sekali makan tanpa ada sisanya.  Makin hari makin bertambahlah kesibukan ibunya untuk meladeni putranya  yang luar biasa itu.

Sampai-sampai merasa kewalahan untuk memberi makan  dan selalu menuntut untuk makan.  Tersebutlah pada suatu hari ibuny  sedang memasak di dapur, datanglah sang Watugunung mendekati ibunya  seraya minta nasi untuk dimakan. Ibunya berkata : ”Anakku bersabarlah  menunggu sementara ini nasinya belum masak”.

 

Demikian kata ibunya tetapi sang   Watugunung tidak menghiraukan dan melahan mendesak supaya cepat-cepat  memberikan nasi karena perutnya sudah lapar. Karena tidak tahan ketika  itu pula sang Watugunung mengambil dengan sendiri tanpa bantuan ibunya,  dan langsung nasi yang sedang dimasak itu disantapnya sampai habis tidak  menghiraukan sudah matang atau belum, pendeknya dalam keadaan masih panas sudah dihabiskan.  Melihat perilaku putranya demikian sangat tidak  sopan, ibunya menjadi naik pitam dan mengambil sodo (siut) langsung  memukul putranya tepat di kepalanya sampai berlumjuran darah, sang  Watugunung menangis terisak-isak menahan luka yang dideritanya. Ketika  sakit dari lukanya sudah agak reda Watugunung meninggalkan kraton karena  saking marahnya menuju gunung Emalaya. Dalam perjalanan sang Watugunung  berbuat seenaknya saja terual makanan, merampok terutama dalam hal  makanan, merampok makanan rakyat dan langsung dimakannya.  Penduduk di  sekitar lereng Gunung Emalaya merasa sangat heran melihat perilaku anak  kecil itu yang serba berani, memaksa makanan dari penduduk. Hal ini  sangat mengganggu kesejahteraan dan keamanan penduduk. Karena penduduk  merasa kewalahan untuk mengahadapi tingkah polah anak itu, akhirnya masalahnya dilaporkan kepada raja Giriswara.

Mendengar laporan itu sang raja merasa  terkejut, dan naik darah seketika itu juga memerintahkan rakyatnya untuk  membunuh Watugunung.  Setelah mendengar keputusan raja seluruh lapisan  kekuatan daerah itu menyerang sang Watugunung dengan merebutnya dan  memukul dengan bermacam-macam senjata, serangan datang dari segala sudut  yang kesemuanya tertuju ke badan sang Watugunung. Tetapi sayang seluruh  serangan dan seluruh senjata penyerang tidak ada yang mempan.

Sang Watugunung sedikit pun tidak ada  yang cidera. Sang Watugunung terus mengadakan aksinya dengan  mengobrak-abrik yang menyerangnya, mengahancurkan kelompok penyerang  yang hebat itu.  Sehingga pasukan penduduk Emalaya lari terbirit-birit  untuk menyelamatkan jiwanya dari kepungan Watugunung. Sang Raja sangat  marah mengetahui keadaan rakyatnya dihancurkan oleh Watugunung. Raja Girisrawa dengan hati yang membara turun ke medan perang dengan  persenjataan yang lengkap untuk menghadapi sang Watugunung. Maka  terjadilah perang tanding antara raja Giriswara dengan Watugunung, yang  sama-sama hebat dan sakti dalam peperangan itu. Perang tanding itu  berlangsung 7 (tujuh) hari. Dan pada akhirnya Raja Giriswara dapat  dikalahkan oleh sang Watugunung, sehingga raja Giriswara tunduk dan  menghormat kepada sang Watugunung, mengenai kekalahan kerajaan Emalaya  sampai di sini.

Tersebutlah sang Watugunung melanjutkan  serangan mengarah ke kerajaan Pasutranu yang rajanya bernama Prabu  Kuladewa.karena serangan yang dilakukan Watugunung rakyat Kuladewa tidak  tinggal diam, maka terjadilah pertempuran yang tidak kurang dasyatnya  dengan pertempuran di kerajaan Girisrawa. Rakyat Kuladewa kewalahan  menghadapi serangan Watugunung yang hebat itu. Akhirnya mereka lari tunggang langgang meneyelamatkan jiwanya masing-masing. Namun akhirnya  sampai raja Kuladewa dapat dikalahkan, dan tunduk kepada Watugunung.   Sang Watugunung melanjutkan serangannya kepada raja Talu, raja Mrabuana,  raja Wariksaya, raja Pariwisaya, raja Julung, raja Sunsang dan yang  lainnya dengan mudah dapat ditundukkan. Keseluruhan dari kerajaan yang  dikalahkan berjumlah 27 kerajaan dan sampai semua   Rajanya tunduk  kepada sang Watugunung. Tak ketinggalan juga rakyat beserta daerahnya  menjadi jajahan sang Watugunung.  Kesaktian ini diperolehnya pada saat  lahirnya di kaki Gunung Sumeru dari Sang Hyang Padmayoni. Selama 150  tahun sang Watugunung memerintah daerah jajahannya.

Dalam  pemerintahannya itu beliau selalu menanyakan kepada raja-raja taklukannya. Katanya : ”Hai para raja apakah ada raja yang hebat lagi  yang belum aku tundukkan?”. para raja pun menjawab ” Daulat tuanku maha  raja Girisila Emalaya, masih ada dua orang raja lagi yang belum tuanku  tundukkan yaitu keduanya perempuan yang amat rupawan bertahta di negara  Kundadwipa yang sangat diagungkanoleh rakyatnya dan dihormatinya. Jika  tuanku dapat mengalahkannya kedua raja itu sangat patut untuk dijadikan  permaisuri tuanku raja.

Demikianlah jawaban dari raja-raja yang  didengar keterangannya. Dan raja Girisila membenarkan.  Setelah  mendengar keterangan dari  para raja itu, maharaja Girisila  memerintahkan kepada rakyatnya supaya mempersiapkan diri lengkap dengan  persenjataan guna menyerang kerajaan Kundadwipa. Rencana ini didengar  oleh kerajaan Kundadwipa maka dari itu rakyat Kundadwipa bersiap-siap untuk menyambut tamu yang tak diundang itu, tidak ketinggalan pula  dengan persenjataan yang memadai.dan pada saat terjadinya pertempuran  yang sengit, seram sampai aliran darah dari para korban menganak sungai.  Sama-sama perwira sama-sama gagah berani tidak ada yang mau menyerah  pantang mundur. Korban dari kedua belah pihak makin banak, korban jiwa  korban harta dan yang lain-lainnya.

Setelah pertempuran berlangsung yang  menderita kekalahan adalah di pihak Kundadwipa. Maka kedua raja  perempuan itu dikawini, karena lupa padahal itu adalah ibunya sendiri.   Pada suatu saat setelah lama bersuami istri, sang Watugunung menyuruh  kedua permaisurinya untuk mencari kutu di kepala suaminya.

Sedang asyiknya pekerjaan memburu kutu  itu dilakukan terjadilah gempa bumi, hujan dengan lebatnya disertai  angin dan disambung oleh petir yang mengguntur di langit. Melihat  tanda-tanda itu para dewa sangat khawatir kejadian apakah yang bakal  terjadi selanjutnya. Maka sekalian dewa menghadap dewa Siwa.

”Haturnya  yang mulia batara Siwa apakah sebabnya terjadi gerakan-gerakan alam yang  hebat seperti sekarang ini? Kemungkinan besar ada manusia yang berbuat tidak sesuai dengan perikemanusiaan, tidak sesuai dengan tata susila, membenarkan yang tidak benar berlaku seperti binatang”. Mendengarkan  keterangan Dewa seperti itu, Dewa Siwa segera memanggil pendeta para  dewa yaitu Bhagawan Narada(Rsi Priarana) supaya menyelidiki perbuatan  manusia di dunia yang menyebabkan gerak alam yang dasyat ini. Dang Hyang  Narada segera turun untuk menyelidiki perbuatan manusia di dunia ini.  Diketahuilah sang Watugunung sedang asyiknya berkutu dengan kedua  istrinya. Dengan segera Dang Hyang Narada kembali ke Siwa Loka.  Melaporkan kejadian itu kepada Dewa Siwa. Kata beliau ”Yang mulia Dewa  Siwa kami datang dari dunia melaporkan hasil dari penyelidikan yang kami lakukan dengan sangat teliti ternyata memang memang ada manusia berbuat  yang tidak memenuhi tata susila kemanusiaan yaitu sang Watugunung  mengambil kedua ibunya dipakai istri (dipakai permasuri).

Hal yang demikianlah sangat tidak tepat  dilakukan oleh manusia”.  Mendengar laporan yang sangat meyakinkan itu  Sang Hyang Sahasra menjadi naik pitam dan menjatuhkan kutukan yang  ditujukan kepada sang Watugunung, sabda beliau : ”Hai kau sang  Watugunung semoga engkau mati dibunuh Sang Hyang Narayana (Dewa Wisnu) karena perbuatan yang sangat dursila itu yaitu mengambil ibu kandung  dipakai sebagai permaisuri (memperistri ibu kandung), mengambil ”babu  sodaran,, mengambil tumin temen, kewaulan, babu dimisan, keponakan ring  nyama, rerama ringmisan, suta sodaran dan cucu”. Semua yang tersebut di  atas tidak boleh dijadikan istri. Jika ada manusia yang melakukan hal  itu, patut dibuang ke laut, dan jiwanya supaya disiksa oleh rakyat  batara Yama pada alam neraka.

Apabila kelak menjelma agar dalam  kehidupannya itu selamanya menderita kesengsaraan”. Demikian kutuk Sang  Hyang Tri Purusa.  Tersebutlah pada suatu hari sang Watugunung melakukan  pemburuan kutu yang dilakukan oleh kedua istrinya pada atau di atas  kepala sang Watugunung yang besar itu. Saat asyiknya mencari kutu sambil  menggaruk-garuk kepada maha raja, ketika melipat-lipat rambut yang  kurang teratur itu kedua istrinya tercengang seketika, karena melihat  bekas luka pada kepala yang sedang dielus-elusnya itu.

Maka teringatlah beliau dengan  perbuatannya yang terdahulu yaitu memukul kepala putrany dengan sodo  (siut) sehingga menimbulkan luka di kepala putranya demikian  pertimbangan di dalam hati, beliau tidak dapat berbuat apa-apa hanya diam tercengang, bahwa yang dipakai suami adalah putranya sendiri.  Karena kedua pasang tangan istrinya menjadi agak lemas dan percakapan  kecil seketika menjadi hening. Dalam keheningan itu sang Watugunung  bertanya kepada kedua permaisurinya: ”Hai adinda kenapa diam seketika  apa yang menyebabkan coba jelaskan supaya kakanda mengetahui hal itu”.  Pertanyaan itu lama tidak dijawab karena dadanya merasa sesak, akhirnya  menjawab : ”Ampun tuanku raja, adapun yang menyebabkan kami berdiam  karena karena kami ngerempini (ngidam)”.  Sang Watugunung balik  bertanya: ”Bagaimana adinda mengidam?”. Apa yang adinda idamkan  katakanlah! :Kakanda yang terhormat, kami mengingini seorang pembantu yang tidak boleh lain daripada permaisuri Sang Hyang Wisnu”, demikianlah permaisuri beliau menjawab. “Sangat sayang aku tidak mengetahui tempat  Sang Hyang Wisnu, apakah dinda berdua mengetahuinya?” Oh tempat Sang  Hyang Wisnu ada di bawah tanah”. Ya kalau demikian kanda bersedia untuk  mencarinya”.  Sang Watugunung mulai memusatkan pikirannya (angrana sika)  dengan mantap, sehingga dengan kekuatan batinnya tanah (bumi) ini pecah  sampai pada lapis yang ketujuh.

Sang Watugunung turun ke lapis tanah  yang ketujuh sampai di sana disambut oleh Aribuana: Ah-ahih-ih apa  maksud kedatanganmu?” mohon dijelaskan. Sang Watugunung menjawab: “Aum  Batara, adapun kedatanganku kemari, sebab berita yang kudengar di dunia,  bahwa Batara adalah yang amat pengasih, apa saja yang diminta oleh  manusia Batara izinkan”. Apa yang kau sebutkan itu memang benar” jawab  Sang Hyang Wisnu.  Kalau memang benar hal tersebut sekarang permintaanku adalah, jika engkau memang mencintai diriku, saya mohon permaisuri  Hyang Wisnu bagaimana engkau izinkan bukan, katakanlah segera” Sang  Hyang Wisnu segera menjawab”  “Oh permintaanmu bukan perilaku manusia,  permintaanmu tidak benar, tidak boleh meminta istriku cobalah minta yang  lainnya, tentu aku akan penuhi, kehebatan, senjata dan lain-lainnya”.   “Jika demikian halnya Dewa Wisnu berbohong tidak menepati (tidak setia)  kepada ucapan namanya, oh janganlah mengaku pada sadhu dharma (beriman  dan saleh), kamu berikan atau tidak, kalau kamu berikan istrimu engkau  selamat, kalau tidak engkau izinkan berbahayalah engkau”. Sang  Watugunung sangat marah.  “Aum, seperti apa yang kamu katakan, kalau aku  tidak izinkan, bagaimana kehendakmu cobalah bilang”.   “Kalau Batara  tidak izinkan, marilah segera kita berperang. Apakah kamu berani?  katakan”

Bertambah-tambah marahlah sang Watugunung, kata-katanya kasar.

Demikian pula Hyang Wisnu (sangat marah)  segera menjawab: kalau benar seperti apa yang kamu katakan, aku  betul-betul tidak memenuhi permintaan, karena apa yang kamu katakan hal  itu tidak benar (tidak wajar)”.   Ketika itu sang Watugunung sangat  marah, demikian pula Sang Hyang Ari, maka terjadilah pertempuran yang  amat dasyat saling kejar mengejar, tusuk menusuk, pukul memukul dengan  garangnya. Tujuh puluh yuga lamanya Sang Hyang Wisnu berperang melawan  sang Watugunung, seribu kepalanya, dua ribu tangannya, dua ribu kakinya,  matanya seperti bintang, amat menakutkan, rupanya seperti api berkobar-kobar menyala. Sang Hyang Wisnu juga memurti (membesar  wujutnya) beliau berupa kurma, berlidah cakra, bertaring tajam (suligi),  atau (berbelai) bajra yang amat utama, amat dasyat wujut kura-kura itu,  besar badannya. Karena sang Watugunung tidak dapat dikalahkan oleh  dewa, tidak terkalahkan oleh manusia, tak dikalahkan oleh bhuta, pisaca,  tidak mati dibawah dan di atas, tidak mati oleh raksasa dan detya yaksa  sura.

Setelah Sang Hyang Wisnu berwujud  Badwang (Kurma), yang amat menakutkan, barulah beliau berperang.  Bagaikan gelombang laut yang murka, bergetarlah dunia ini, sehingga  menyebabkan para dewa sibuk bertanya. Sang Hyang Siwa pun berkata kepada  para dewa: ”Hai anakku semua, apakah kiranya yang terjadi sehingga terjadi getaran-getaran yang hebat”. Coba katakan!  Bhagawan Narada  menjawab:

”Seperti apa yang batara katakan, hal itu terjadi karena ada  manusia yang congkak berbuat yang tidak wajar, tidak lain manusia itu  adalah si Watugunung, minta permaisuri dari Sang Hyang Wisnu, itulah  yang menyebabkan terjadinya pertempuran, karena perbuatan si Watugunung  amat berdosa.  Mendengar laporan Hyang Narada demikian, lalu sang  Watugunung dikutuk oleh Batara Sangkara. ”Jah tah smat, semoga si  Watugunung mati, karena perilakunya yang amat berdosa mau memperistri  dari salah seorang dewa, terus-menerus sampai pada penjelmaan kelak kemudian hari terbunuh oleh kebesaran Hyang Ari” demikianlah kutuk Sang  Hyang Sangkara.

Tersebutlah lagi pertempuran Sang Hyang  Ari berhadapan dengan si Watugunung, lalu keluarlah api yang amat hebat  dari kurma perwujudan Hyang Wisnu, disemburlah si Watugunung, dibelit  oleh bajra ditikam dengan cakra. Akhirnya kalahlah sang Watugunung,  tembus dadanya.  Berkatalah sang Watugunung: ”Ih Hyang Wisnu sekarang  matilah aku dengan marahnya lalu mengatakan, aku tidak akan  henti-hentinya bermusuhan dengan diriu, sampai kepada penjelmaanku yang ketujuh aku tidak akan melupakan hal ini. Hyang Wisnu berkata: ”benar  katamu itu, tetapi dimanakah engkau akan menjelma? Katakanlah!  Sang  Watugunung menjawab aku akan menjelma di Lengka dengan nama Dasasia dan  sebaliknya menanyakan kepada Hyang Wisnu di mana akan menjelma nanti?

Hyang Aribuana menjawab (bersabda): ”Ih Watugunung, kalau demikian  katamu aku akan menjelma di Yodyapura; pada maharaja Dasaratha dan  setiap kali aku lahir, selalu dapat membunuh dirimu!” akhirnya  meninggallah sang Watugunung. Demikianlah diceritakan tentang sang  Watugunung yang termuat dalam lontar Medangkamulan lembar 1a – 9b.

Tentang cerita lahirnya Wuku yang pernah  termuat dalam majalah Bhagawanagara, disebut pula dipetik dari lontar  Medan Kamulan dengan jalan cerita yang agak berbeda seperti di bawah  ini.  Tersebutlah setelah istri sang Watugunung keduanya minta  permaisuri sang Hyang Wisnu sebagai pembatunya (babu), dengan segera  sang Watugunung mengutus sang Warigadian ke Surga, membawa surat ke hadapan Hyang Ari. Setelah surat itu dibawa, Hyang Wisnu amat marah dan  segera menantang sang Watugunung untuk bertempur.  Hal itu disampaikan  oleh sang Warigadian yang mengakibatkan sang Watugunung menjadi marah,  segera memerintahkan memukul kentongan, rakyatnya semua berkumpul  lengkap dengan senjata, segera menyerbu ke surga. Terjadilah pertempuran  yang sangat dasyat bunuh membunuh antara kedua pihak, sampai Sang Hyang  Wisnu merasa tertekan karena serangan dari pasukan Watugunung.   Diceritakan sang Watugunung sedang berada ditempat tidur disertai oleh  kedua orang permaisurinya.Istri sang Watugunung menanyakan kejadian  peperangan yang telah terjadi dan juga menanyakan hal tersebut sang  Watugunung berkata: ”Janganlah adikku berdua memberitahu kepada orang  lain (awywa wera), kesaktianku ini tidak akan dapat dikalahkan oleh para  dewa, bhuta, danawa, kala, raksasa, manusia.  Namun ada yang dapat  mengalahkan, jika ada orang sakti (nara wisesa) berwujud kurma (empas/badawang), berkuku yang kuat itulah yang dapat membunuh diriku”.  Tentang percakapan tersebut didengar oleh Bhagawan Lumanglah yang sedang  dalam keadaan berupa laba-laba. Bhagawan Lumanglang segera kembali ke  surga, menghadap Dewa Wisnu seraya memberitahukan keadaan Watugunung.

Besok paginya sekitar pukul 9 (dawuh tiga), Dewa Wisnu sudah berwujud  kurma, berkepala seribu, kuku tanganya sangat panjang dan sangat kuat,  segera berangkat untuk bertempur melawan sang Watugunung. Saat itu  adalah Radite Kliwon, peperangan berlangsung sangat sengitnya. Sang  Watugunung dapat ditundukkan dan tergeletak di tanah (mrecapada). Itulah  sebabnya disebut”Watugunung mati terbunuh oleh Batara Wisnu, hari  kematiannya ini dinamai ”Candung Watang”.

Besoknya adalah hari Anggara Pahingnya  mayatnya ditarik-tarik oleh Sang Lumanglang, sehingga hari itu disebut  hari ”paid-paidan”. Hari Budha Pon datanglah Bhagawan Budha, sang  Watugunung dihidupkan kembali, tetapi hanya satu dauh, kemudian dibunuh  kembali oleh Batara Wisnu, hari itu disebut Budha Urip.

Hari Wrhaspati  datanglah Bhagawan Wrhaspati dengan rasa kasihan benar kepada sang  Watugunung, sehingga dihidupkan kembali tetapi sebentar, kemudian  dibunuh kembali oleh Hyang Wisnu, hari itu disebut Panetan.

Pada hari Jumat Kliwon, Hyang Siwa  mengetahui bahwa sang Watugunung mati dan turunlah beliau untuk  menghidupkan kembali sang Watugunung, harinya disebut dengan  Pangredanan.  Saat itu datanglah Batara Wisnu hendak membunuhnya kembali namun dapat dicegah oleh Batara Siwa, sabdanya: ”Hai anakku, janganlah hendaknya sang Watugunung dibunuh, biarkanlah untuk hari-hari  selanjutnya supaya diingat orang sebagai bahan pertimbangan atau  perbandingan.” Maka menjawablah sang Batara Wisnu, sabdanya: ”Yang  Watugunung amat besar dosanya, mengawini orang yang sudah bersuami dan  memperistri ibunya sendiri”. Dikemudian hari tidak boleh orang yang  sudah bersuami dan memperistri ibunya sendiri”.

Batara Wisnu pun  mengutuk sang Watugunung, sabdanya: ”Tiap-tiap enam bulan engkau runtuh  (jatuh). Jawaban sang Watugunung: ”Baiklah hamba menuruti sabda tuanku,  hamba mohon apabila hamba jatuh di darat hendaknya turun hujan dan bila hamba jatuh di laut supaya hari panas terik, agar hamba tidak  kedinginan.

Permohonan sang Watugunung semua dikabulkan serta rakyat  sang Watugunung serta pada Dewa yang menjadi korban dalam pertempuran  itu dihidupkan kembali.

Kiranya cerita yang serupa dengan ini juga ada  di daerah lain atau negara lain.

Di Sunda (Jawa Barat) juga ada mitologi  seperti mitologi Watugunung di atas, yang dinamai Sangkuriang.  Demikian  pula di Yuanani juga ada yang disebut mitologi Oedipus. Pokok isi dari  mitologi itu adalah karena tidak tau sang Watugunung, Sangkuriang,  Oedipus memperistri ibunya sendiri, tetapi di sana- sini ada perbedaan  yang menunjukkan kepribadian bangsa dan sesuai dengan tempatnya mitologi  itu berkembang.

Om Santih Santih Santih Om

oleh: I W Sudarma

posted in http://isudarma.cyberdharma.net

Selamat datang di Tagboardnya www.iloveblue.com, sudahkan Anda membaca aturannya? klik di sini
Promo Iloveblue.com
WHAT'S UP BALI @TWITTER
SEARCH LIRIK LAGU
BANNER PROMO
tiket pesawat murah
RECENT COMMENTS
  • widi: thanks untuk inormasinya… webnya bagus…
  • Made Sudarmadi: bgmana si cranya konsentrasi
  • jah bless: vel kata siapa ganja bikin kecanduan ? lu pernah make ga ? kalo ga pernah diem aje. kalo masalah kesehatan...
  • SUSANTA BAGUS: Om Swastyastu, saya masu tanya, mohon informasinya: 1. Mengapa umat Hindu harus membuat pura 2. Apakah...
  • GdTantya: itu bhagawad gita bab 3 ??
NUMPANG NAMPANG
LATEST POST
JEPRET
PHOTO GALLERY
BANNER SPONSOR
IKLAN PREMIUM

Foto Prewedding di Bali

Iloveblue
Pembuatan foto pre wedding kini telah menjadi suatu keharusan bagi calon mempelai. Keindahan dan keunikan suatu foto pre wedding akan menghiasi kartu undangan ataupun souvenir pernikahan. Terlebih lagi foto itu dibuat di Bali. Ini akan menjadi suatu sensasi tersendiri.

Menikah di Bali

Iloveblue
Untuk melakukan pernikahan di Bali, saat ini bukanlah sesuatu yang susah untuk dilakukan. Anda tinggal kontak ke salah satu wedding organizer, menentukan jumlah undangan yang akan hadir, memilih lokasi upacara, thema, yang tentunya disesuaikan dengan budget Anda.

Lokasi Prewedding di Bali

Iloveblue
Selain terkenal akan budayanya, Bali merupakan salah satu tujuan dari fotografer-fotografer prewedding saat ini. Karena Bali memberikan pilihan lokasi prewedding yang begitu beragam. Mulai dari danau, gunung, pura, pantai dan tentu saja panorama sunset yang eksotis.
Iloveblue
  • Apa kabar? - Punapi gatrane?
  • Berapa harganya ini? - Aji kuda niki?
  • Mau pergi ke mana? - Jagi lunga kija?
  • Saya suka kamu - Tyang tresna sareng ragane
  • Terima kasih banyak ya - Matur suksma nggih

Bali Stock Photos

Welcome to Bali Stock Photos, the web's original source for high quality stock photos / images from Bali. Bali, as well known an island with a thousands pura (temple) has so many wonderers objects / moments that can be captured in photos. Start from most uniquely ceremonies, the wonderful landscapes, balinese life, the exotic face of the balinese, the wonderfully flora and fauna and side by side with the greatness of balinese temples.

iloveblue.com
iloveblue.com