Nyepi Istri- Nyepi Lanang Di Ababi, Karangasem
Nyepi Istri-Nyepi Lanang di Ababi
* Tak Digelar, Padi pun ”Puyung”
DESA Pakraman Ababi, terbilang memiliki dresta (tradisi) lain dari desa lain di Karangasem. Kalau di desa tua lainnya ada nyepi desa, di desa yang juga mewilayahi Tirtagangga (sekitar tujuh km utara Amlapura) itu memiliki dresta desa, nyepi wadon (luh) dan nyepi muani/purusa (lanang). Nyepi dalam rangka tawur kasanga menjelang pergantian Tahun Baru Isaka, juga digelar seperti biasa.
Wakil klian desa I Made Suardana dan salah seorang pangelingsir selonding di Pura Puseh setempat, I Nengah Dangin, saat dihubungi beberapa waktu lalu mengatakan, dresta itu tetap dijalankan sejak zaman dulu. Desa Pakraman Ababi diperkirakan mulai ada pada abad ke-11 Masehi. Kini, kata Plt. Kades I Gede Sukayasa, desa tersebut memiliki luas 1.059.495 acre dengan penduduk 7.921 (1.773 KK).
Dangin mengatakan, pelaksanaan nyepi istri dilaksanakan dalam rangka Ngusaba di Pura Ulun Suwi (Pura Kedaton). Ngusaba itu digelar tiap tileming kapitu (sekitar Januari-Februari). Sementara, nyepi muani (lanang) berkaitan dengan ngusaba di pura dalem, sebulan kemudian yakni pada tileming sasih kawulu (Februari-Maret).
Menurut Dangin, Ngusaba di Pura Desa itu, pelaksanaan dan upakara bebantenan untuk yang ke atas (bhatara, Tuhan) seperti pada umumnya. Namun, yang ditujukan kepada bhuta kala (ke bawah) laba berupa kalesan nasi. Laba itu berupa nasi takepan dilengkapi lawar atau olahan daging hewan caru, seperti asu (anjing) blang bungkem, serta godel (anak sapi) jantan pagorsi/kelengan (ada garis bulu hitam dari atas hidung sampai ke punggung) yang belum ditelusuk (dicocok hidungnya). Dasar atau tingkatan pacaruannya manca sata.
Menjelang Ngusaba, bagi pemilik godel jantan dilarang menelusuk. Tujuannya, untuk memilih, siapa tahu ada di antara godel jantan milik warga memenuhi syarat untuk caru. Istilahnya kaciren.
Beberapa hari menjelang Ngusaba, pemilik godel jantan berkumpul dan membawa serta godelnya itu ke areal depan (jaba) Pura Puseh untuk dilakukan pemilihan godel pagorsi. Dulu, seekor anak sapi (godel) jantan yang terpilih untuk hewan caru, biasanya dihaturkan oleh krama pemiliknya. Namun, dengan perkembangan saat ini, di mana harga sapi cukup mahal, sejak tiga tahun lalu si pemilik menghaturkan ke pura sebagian atau setengahnya lagi dibayar pihak desa. ”Karena harga godel jantan kini mahal, imbalan 50% dari harga godelnya diharapkan bisa dibelikan bibit ternak untuk meningkatkan perekonomian keluarga,” ujar Dangin.
Saat pelaksaan pacaruan di Pura Ulun Suwi, tambah Suardana, begitu nasi kalesan dilebar setelah dimohon dibawa pulang untuk disebarkan di areal sawah, terjadi prosesi memperebutkan (majurag) nasi takepan. Semua krama majurag, berusaha mendapatkan nasi kalesan. Selain untuk disebarkan ke sawah, pekarangan rumah, juga untuk disantap. Nasi kalesan itu dipercaya sebagai berkah, yang bakal memberikan kemakmuran dan kesuburan bagi hasil pertanian, terutama padi –di mana sebagian besar wilayah desa merupakan persawahan subur yang menghadirkan pemandangan indah berteras-teras di sekitar Tirtagangga.
Tanpa Aktivitas Wanita
Sehari setelah puncak Ngusaba di Pura Ulun Suwi– di mana distanakan dan dipuja Dewi Sri –dilaksanakan nyepi istri/nyepi luh.
Pada hari ini semua kegiatan yang biasanya dikerjakan para wanita, seperti berdagang, tak boleh dilakukan. Para wanita tak bekerja, dalam rangka ngiring Ida Bhatari Sri masesanjan. Selain amati karya bagi wanita, juga dilakukan amati geni, amati lelanguan (tak menggelar hiburan).
Jika terpaksa, bepergian (lelungaan) diperbolehkan, tetapi tak boleh melewati batas palemahan (lingkungan) desa. Sebulan kemudian yakni pada tileming sasih kawulu, dilaksanakan Ngusaba di Pura Dalem. Rangkaian prosesinya sama seperti di Pura Ulun Suwi sebelumnya. Bedanya, sehari setelah puncak Ngusaba dan macaru desa, digelar nyepi lanang/nyepi muani. ”Siwa sebagai manifestasi Tuhan yang distanakan dan dipuja di Pura Dalem, dipersonifikasikan sebagai purusa, sehingga yang ngiring masesanjan pun kalangan lelaki. Saat nyepi muani itu, lelaki amati karya, seperti tak bekerja ke sawah atau ladang. Pelaksanaannya pun hampir sama (dengan nyepi istri), cuma kali ini yang giliran melaksanakan penyepian yakni para lelaki,” papar Dangin dan Suardana, yang ditemui secara terpisah.
Tradisi agama itu, kata Dangin, merupakan warisan turun-temurun sejak zaman dulu. Tak ada yang berani melanggar. Ini ada ceritanya. Seiingatnya, lanjut Dangin, pada zaman penjajahan Jepang, pernah sekali tradisi ini tak dilaksanakan. Ngusaba dan pacaruan di Pura Ulun Suwi setempat absen diadakan. Soalnya, saat itu, perekonomian amat sulit, rakyat secara kejam dilarang memakan nasi beras sedikit pun. Apa yang terjadi? Kala itu, meskipun tanaman padi di sawah tampak subur dan bulir padi tampak berisi dan merunduk, begitu dipanen ternyata puyung (bulirnya hampa). ”Dengan peristiwa itulah, krama desa Ababi tak berani lagi ngencakang aci Ngusaba (absen melaksanakan Ngusaba). Makin tebal pula kepercayaan masyarakat, bahwa begitu besarnya anugerah kemakmuran jika umatnya bakti kepada Sanghyang Widhi,” ujar Dangin.
Tak hanya nyepi istri dan nyepi lanang ada di Desa Ababi. Menurut Suardana, di Desa Pakraman Ababi juga dikenal pelaksanaan ngaben (palebon) jro ketut (hama tikus). Dulu, lanjutnya, biasanya digelar tiap 10 tahun. Namun, kini akibat perekonomian yang tak memungkinkan–sementara upacara itu tergolong cukup rumit–palebon jro ketut digelar lebih dari 10 tahun, tergantung dari kesepakatan di desa setempat.
sumber: BaliPost 17-5-03

- Bonus Night di Waka Shorea Resort
- Promo Tahun Baru di Hotel Ibis Style Bali Circle
- Honeymoon 3 Hari 2 Malam di Private Pool Villa
- Promo Paket Christmas
- Paket Keluarga di Quest Hotel Kuta
- Romantic Honeymoon di The Oasis Kuta
- Tanah Lot Tour
- Special Offer di A Residence Kuta
- Paket 3 jam spa Rp. 500.000 @ Wellbeing Spa
- Menginap High Season, Harga Low Season!
- widi: thanks untuk inormasinya… webnya bagus…
- Made Sudarmadi: bgmana si cranya konsentrasi
- jah bless: vel kata siapa ganja bikin kecanduan ? lu pernah make ga ? kalo ga pernah diem aje. kalo masalah kesehatan...
- SUSANTA BAGUS: Om Swastyastu, saya masu tanya, mohon informasinya: 1. Mengapa umat Hindu harus membuat pura 2. Apakah...
- GdTantya: itu bhagawad gita bab 3 ??
- Solidaritas dari Bali untuk Rokatenda
- Konser Alam Sejuta Buku – Ruby Soho feat Anak Alam
- Kuta Karnival 2012, The Prosperity World
- Sanur Village Festival 2012 “Salampah Laku”
- Bali, di acara peluncuran Apple iPhone 5
- Kangen ngumpul-ngumpul dengan BlueBrainers yang ada di Jakarta?
- Jadwal Pesta Kesenian Bali yang ke-34 tahun 2012
- FlexiNet Unlimited
- Indosat Mobile
- Nusa Lembongan – Petualangan seru sisi lain Bali


















