Print
All right reserved. © Iloveblue.com

GALUNGAN DALAM REALITAS KEKINIAN, UMAT MESTI MENANG PERANGI PENYAKIT SOSIAL
 [Ketut Adi]

Besok, Rabu (11/8) Kliwon Dungulan, umat Hindu kembali merayakan hari raya Galungan. Dalam memaknai hakikat Galungan, tentu umat tidak berhenti sebatas ritual. Ada makna filosofis yang mesti dikupas dalam menghadapi realitas kehidupan. Dalam menghadapi musuh-musuh dharma (kebenaran), umat hendaknya selalu menang. Demikian halnya dalam ''memerangi'' penyakit sosial, umat pun harus menang.


--------------------------------------------------------
SETIAP perayaan hari keagamaan, dalam hal ini Galungan, umat diingatkan selalu mengevaluasi diri. Beragam musuh baik dalam diri (sadripu) maupun ''musuh'' eksternal yang bersumbunyi di tengah-tengah kehidupan memang sulit ditaklukkan.

Dalam Galungan inilah umat diingatkan agar selalu mampu memenangkan perang melawan adharma. Dalam konteks kekinian, umat diharapkan mampu menaklukkan musuh-musuh dharma. ''Musuh-musuh'' dharma itu sangat beragam di antaranya penyakit sosial seperti judi, pelacuran, dan peredaran narkoba.

Pengamat budaya Prof. Dr. Wayan Ardika mengatakan memaknai Galungan, umat mesti introspeksi apakah selama ini sudah mampu menang melawan musuh-musuh tersebut, atau justru ''takluk'' di bawah kekuasaannya. Jika selalu takluk, tentu adharma akan merajalela.

''Setiap enam bulan sekali kita diajak mengaca ke dalam. Apa selama ini sudah mampu menjaga dharma dari gempuran adharma. Jika belum, ke depan dharma itu mesti tetap dijaga keajegannya,'' kata Ardika yang Dekan FS Unud ini. Kata Ardika, musuh-musuh dharma itu setiap saat hadir di tengah-tengah kehidupan umat. Karena itu, umat mesti pandai-pandai menyusun strategi agar musuh itu dapat ditaklukkan. Berbagai penyakit sosial juga mesti tidak diberikan ruang untuk bangkit, agar tidak sampai mewabah. Pun, berbagai penyakit sosial itu mesti mampu disembuhkan dengan ''obat'' berdimensi dharma.

Hal yang sama dikatakan dosen STAHN Denpasar Drs. Gusti Ngurah Sudiana, M.Si. Galungan mesti dijadikan tonggak untuk introspeksi, sebagaimana yang tersirat dalam Wuku Dunggulan -- Dunggulaning Parangmuka yang artinya jaya dalam setiap pertempuran melawan adharma. Umat hendaknya tidak terprovokasi oleh hal-hal yang dapat merapuhkan tiang-tiang penyangga dharma.

Menurut agamawan Ir. Made Amir, ada empat tiang dharma yang saat ini sedang mengalami cobaan. Keempat tiang yang mengajegkan dharma itu yakni satyam (kebenaran), saucam (kesucian), tapa (pengendalian diri) dan daya (karunia). Jika umat secara sadar telah melakukan perjudian, tentu tiang dharma bernama satyam akan tergerogoti. Jika perjudian terus berlangsung, tentu tiang-tiang dharma akan menjadi rapuh. Hal ini akan bisa mempengaruhi ajegnya dharma itu sendiri.

Sementara itu, tiang tapa akan makin rapuh manakala mabuk-mabukan sering dilakukan oleh umat. Demikian pula kesucian (saucam) akan terganggu, jika perzinahan merajalela. Karena itu, perjudian mesti diminimalisasi, perzinahan ditanggalkan, mabuk-mabukan diakhiri. Dengan demikian, tiang-tiang dharma tidak mengalami kerapuhan.

Melalui pelaksanaan Galungan, kata Gusti Ngurah Sudiana, seluruh umat manusia (Hindu) diharapkan mampu menata kembali kehidupan yang harmonis (hita) sesuai dengan tujuan agama Hindu. Untuk mencapai hal itu, umat tentu tetap berpegang teguh pada ajaran wiweka untuk menuju pemikiran yang waskita.

Wiwika, kata Sudiana, memiliki pengertian bahwa umat mampu membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan, mana hal yang sebaiknya dilakukan atau yang sepatutnya dilakukan. Sementara waskita mampu mengetahui atau meramalkan segala sesuatu yang akan terjadi.

Dalam memaknai Galungan, umat Hindu hendaknya kembali ke konteks yang sebenarnya yakni mohon pencerahan pikiran agar mampu mengendalikan diri. Dengan mengendalikan diri umat tidak mudah terpengaruh oleh bujuk rayu musuh-musuh dharma. Dalam konteks Galungan inilah umat mesti mampu memerangi kebodohan. Sebab, orang yang bodohlah yang terkena penyakit sosial. (lun)


sumber: BaliPost