Sembahyang Dalam Teror

Diposting tanggal 20 May 2011 oleh admin di kategori Opini | 2 Comments » [ 1,703 views ]

Catatan ringan tirta yatra 8 Mei 2011 dengan Lansia Banjar Tengah Sesetan

Methirta Yatra atau mengunjungi tempat-tempat suci untuk melakukan persembahyangan sambil menapaki kesadaran sebagai mahluk ciptaanNya, Minggu 8 Mei lalu terasa begitu spesial. Bukan karena mendapat anugrah berupa benda ataupun pawisik tetapi karena tirta yatra kali ini menemani para lansia di lingkungan Banjarku.

Mereka ini adalah kelompok lansia yang aktif mengikuti senam lansia dan juga latihan yoga plus meditasi.  Kegiatan yang rutin dilakukan dua kali dalam seminggu. Setiap Kamis sore dan Minggu sore. Tempatnya di b alai Banjar Tengah Sesetan. Tidak semua lansia memang yang ikut. Paling tidak ada 35 lansia yang rajin hadir dari 90 an yang terdaftar. Aku kebetulan ikut menjadi pendamping untuk kegiatan senam yoga dan meditasinya.

Kegiatan olah raga yang dua kali seminggu itu ternyata memberikan dampak yang sangat bagus, menurutku. Setidak-tidaknya pada tirta yatra kali ini. Berangkat dengan menggunakan dua bus pariwisata. Disamping lansia beberapa anggota PKK dan sekhe santi juga ikut serta.  Tentunya mereka ini masih jauh lebih muda dan sehat. Hasil akhirnya, dalam perjalanan selama 15 jam itu, dari lima orang yang muntah, tidak ada satupun dari lansia.  semuanya lansia tetap bugar dan bisa tersenyum ketika sampai kembali di banjar tenagh pukul 21.35

Minggu pagi itu, hujan dengan Guntur sepertinya menguji semangat para lansia untuk berangkat tirta yatra. Syukur hujan tidak terlalu lama. Jam 7.30 pagi aku lihat semua lansia sudah berkumpul di balai banjar. Lengkap dengan tas bekalnya masing-masing. Maklum, kepala lingkungan yang bertindak sebagai penanggung jawab kegiatan hanya menyediakan trasportasinya saja.

Kali ini jalur yang dipilih adalah arah barat, Journey to the west. Target pertama, pura Rambut Siwi yang berada di sisi timur kota Negara. Pura ini populer karena merupakan salah satu dari enam pura utama di Bali. Disamping merupakan tempat persinggahan bagi para pengendara Hindu yang akan menuju tanah Jawa ataupun datiang dari tanah Jawa. Berhenti sejenak memohon keselamatan dan tak jarang melepas penat sambil menambah perbekalan.

Karena menggunakan Bus, rombongan harus masuk dari areal parkir  terbawah. Para lansia yang melihat tingginya tangga menuju pura sempat menarik nafas panjang. Maklum, beberapa ada yang memiliki riwayat sesak nafas dan beberapa lainnya memiliki masalah pada kaki-kaki yang mulai renta. “Sing pegat angkihan we, menek?” atau “ Nyidang batis we ked meduur?” itulah pertanyaan mereka.

Akupun hanya bisa bilang, “Adeng-adeng gen menek we. Yen kenyel nak dadi negak!” Rupanya, pura-pura besar  di Bali hanya bagi mereka yang sehat dan kuat saja. Pikiranku mengingat tangga pura besakih, Lempuyang  dan uluwatu.  Melihat kaki-kaki renta yang telah menopang tubuh lebih dari 65- 70 tahun, dalam pola kehidupan yang tidak sehat, jelas terlihat tangga-tangga dari batu hitam yang mahal dan mewah merupakan terror bagi mata-mata yang mulai rabun itu.

Syukur semua rombongan bisa memasuki areal pura. Meskipun dua- tiga lansia harus dipapah. Dan hal pertama yang mereka lakukan ketika sampai di depan pura adalah mencari tempat duduk yang teduh – kami sampai di sini jam 11.30- melepas lelah dan mengatur nafas.

Selesai bersembahyang, saatnya tantangan baru menunggu. Menuruni tangga. Bagiku tentu bukan masalah, tetapi bagi para lansia ini, menuruni tangga adalah masalah. Sama susahnya dengan naik. Kakinya harus turun, menapaki satu anak tangga ke anak tangga yang berikutnya, perlu perjuangan.  Menahan agar badannya tidak meluncur ke bawah. Saling berpegangan menjadi solusinya.

Rombongan menikmati makan siang, dari bekal masing-masing, di areal parkir. Lumayan untuk melepas lelah. Ada rasa bangga dan syukur ketika aku melihat wajah-wajah tua, tersenyum dalam canda mereka. Ah, semoga Hyang khalik memberiku waktu sepanjang mereka, tentunya dengan tubuh yang lebih sehat.:)

Selanjutnya, perjalanan dilanjutkan menuju kuburan Jaya Prana, di daerah Teluk Terima. Tempat ini populer karena legenda Jaya Prana yang hidup ditengah-tengah masyarakat Bali. Tidak banyak yang bisa aku ceritakan mengenai perjalanannya. Maklum, perut kenyang dan saat-saat mata ngantuk. Aku terbangun lima menit sebelum lokasi. Lebih dari satu jam rupanya aku tertidur.

Segerombolan monyet terlihat menatap rombongan, ketika kami berkumpul di depan jalan masuk menuju tempat sembahyang. Informasi dari salah satu petugas, bahwa jarak makam Jaya Prana dari sisi jalan itu sekitar 400 meter, membuat aku bertanya-tanya, akankah para lansia, kakek nenek dan bibiku bisa sampai? Beberapa dari mereka berinisiatif mencari dahan kayu untuk tongkat, penyangga dalam perjalanan. Dan beberapa lansia sempat harus duduk menarik nafas di tengah perjalanan. Akhirnya semua bisa sampai dan bersembahyang di makam Jaya Prana.

Selanjutnya perjalanan dilanjutkan menuju pura Pemuteran, disebut pura Pemuteran karena terletak di desa Banjar Tengah Sesetan. Lokasi pura ini sangat nyaman bagi para lansia. Parkir yang sangat dekat dan pancuran air hangat untuk membasuh muka, kaki dan tangan di areal pura membuat para peserta merasa lebih segar dan tidak terlalu menguras tenaga mereka. Jalan dan tangga tidak menjadi terror! Oya, jarak dari makam Jaya Prana ke pura Pemutaran ini tidak terlalu jauh, kurang dari 20 menit berkendaraan.

Dari Pemuteran perjalanan dilanjutkan menuju pura Pulaki. Di daerah Pulaki, Singaraja. Tidak terlalu jauh dari Pemuteran, sekitar 10 menit berkendaraan. Baru turun dari bus, rombongan sudah disambut monyet-monyet yang mendekat.

KAmi semua sudah diingatkan sebelumnya untuk berhati-hati di Pulaki. Barang-barang lebih banyak kami biarkan di dalam bus. Monyet-monyet di sini terkenal dengan gerakannya yang cepat dalam mengambil barang yang di bawa pengunjung.

Kamera pun terpaksa tidak berani aku keluarkan, karena melihat tatapan-tatapan monyet-monyet yang seperti mengincar. Salah satu peserta rombongan pendamping dari PKK banjar yang membawa Mie Gelas dibuat terdiam ketika seekor monyet besar mengambil gelasnya. Tidak ada perlawanan sama sekali. Aku pikir mirip seperti kalau kita dipalak preman yang sangar. Awas lho, kalau teriak! Mungkin begitulah arti tatapan mata si monyet sambil memperlihatkan gigi-giginya.

Akhirnya semua rombongan tiba di areal dalam pura untuk bersembahyang.  Aku tersenyum saja ketika melihat tempat menghaturkan banten dikelilingi  jala dari kawat. Mirip kerangkeng menurutku. Dengan ranta-rantai dan gemboknya. Aku tidak ingat betul kapan tempat banten yang ada kerangkengnya itu dibuat, maklum sudah lebih dari 20 tahun tidak pernah bersembahyang di pura ini. Paling hanya lewat ataupun kalau mampir tidak pernah ikut bersembahyang, lebih senang melihat orang-orang yang terkaget-kaget ketika diloncati monyet.

Ketika rombongan sudah menaruh banten di “kerangkeng” dan duduk untuk mulai persembahyangan, baru aku sadari kalau rombongan ini dikawal oleh beberapa pengayah pura yang membawa kayu. Ya mirip para polisi yang mengamankan demo mahasiswa. Hanya saja bukan rombongan kami yang menjadi obyek pengamanan itu. Para monyetlah yang dijaga agar tidak mengganggu kami. Wuih terasa jadi pejabat saja!!!

Monyet-monyet itu cukup cerdas juga, mungkin benar karena masih satu jalur dengan kita kali ya…mereka mengawasi para penjaga, menunggu mereka lengah dan bergerak mendekati kami. Alhasil, saat melakukan panca sembah, mataku tidak bisa terpejam lama. Sebentar-sebentar aku melirik monyet yang di depan, di atas dan di samping. Mungkin sebagian besar rombongan sepertiku.

Dan benar saja, begitu selesai panca sembah yang terakhir. Seekor monyet besar sudah berada di tengah-tengah rombongan. Berjalan pelan melihat apa yang bisa diambil. Para penjaga kecolongan! Dan kami pun cukup ketakutan! Syukur si monyet besar ini mau pergi setelah diancung-ancungkan kayu oleh para pengayah pura. Hanya canang dan kewangen dari salah satu lansia yang diambilnya.

Aku sempat merasa, inilah persembahyangan yang penuh dengan terror. Dari baru masuk, saat sembahyang hingga keluar selalu ada mata-mata yang mengawasi. Lengah sedikit barang bawaan akan berpindah tangan. Jadi teringat dengan Pasar ular di Jakarta Utara dahulu.

Nakalnya monyet-monyet di pulaki sudah terkenal. Kenakalan mereka tentunya ada penyebab. Salah satunya adalah berkurangnya buah-buahan di dalam hutan sehingga mereka memilih mencari makan di areal pura. Dan tidak adanya makanan yang memadai telah membuat monyet-monyet ini biasa melakukan barter dengan cara mengambil barang pengunjung atau orang yang bersembahyang untuk ditukar dengan pisang, buah atau kacang.

Dalam lanjutan persembahyangan menuju pura pasar agung, pura melanting dan pura kertha kawat. Kelakuan monyet-monyet Pulaki tadi seperti memberikan gambaran masa depan tentang Bali ini. Suatu saat nanti orang-orang Bali ini tidak ubahnya akan seperti monyet-monyet di Pulaki yang harus belajar menjambret untuk sekedar memdapatkan makanan.

Setelah seluruh lahan garapan berpindah tangan, setelah semua sawah, hutan dan lading berubah menjadi hotel dan private villa. Para pemilik hotel dan villa membayar preman-preman bersenjata untuk menjaga areal hotel dan villa dari intipan mata-mata lapar orang-orang Bali. Pekerja-pekerja hotel dan villa pun sudah didatangkan dari luar Bali, karena mereka liburnya… pasti dan lebih sedikit dari orang bali yang  begitu sering, tiba-tiba, harus ijin karena ada kerjaan adat.

Seremonial di pura-pura pun nantinya akan diselenggarakan oleh EO-EO professional yang waktunya bisa sewaktu-waktu sesuai dengan pesanan. Karena pengempon pura sudah tidak mampu lagi melaksanakan odalan yang hanya menghabiskan biaya besar dan menjadi tontonan gratis para toris.

Ahh sembahyang dalam terror di Pulaki telah benar-benar meneror Masa depan Kebalianku!!!

(sumber: www.dudikdreams.com)

Tags: , , ,

  • http://me.legawa.com Cahya

    Jika itu memang sudah jadi risiko perjalanan ke sana, meski tidak hanya untuk bersembahyang saja. Jika populasi kehilangan habitatnya, mau tidak mau akan mencari habitat baru yang terdekat yang bisa menyokong kehidupannya, meskipun bisa jadi menimbulkan masalah bagi populasi lainnya.

  • SiraNiki

    Mantabb bli.. Tulisan yang “cerdas”.. semoga mampu menggugah pihak terkait (kalau sempat di baca :p) untuk mencari solusinya..

    Mari “selamatkan” Bali.. :D

Selamat datang di Tagboardnya www.iloveblue.com, sudahkan Anda membaca aturannya? klik di sini
Promo Iloveblue.com
WHAT'S UP BALI @TWITTER
SEARCH LIRIK LAGU
BANNER PROMO
tiket pesawat murah
RECENT COMMENTS
  • Agus: Swastyastu,tyang mau tanya apakah ada lowongan untuk uru agama tapi di jawa timur karena saya tinggal di jawa...
  • widi: thanks untuk inormasinya… webnya bagus…
  • Made Sudarmadi: bgmana si cranya konsentrasi
  • jah bless: vel kata siapa ganja bikin kecanduan ? lu pernah make ga ? kalo ga pernah diem aje. kalo masalah kesehatan...
  • SUSANTA BAGUS: Om Swastyastu, saya masu tanya, mohon informasinya: 1. Mengapa umat Hindu harus membuat pura 2. Apakah...
NUMPANG NAMPANG
LATEST POST
JEPRET
PHOTO GALLERY
BANNER SPONSOR
IKLAN PREMIUM

Foto Prewedding di Bali

Iloveblue
Pembuatan foto pre wedding kini telah menjadi suatu keharusan bagi calon mempelai. Keindahan dan keunikan suatu foto pre wedding akan menghiasi kartu undangan ataupun souvenir pernikahan. Terlebih lagi foto itu dibuat di Bali. Ini akan menjadi suatu sensasi tersendiri.

Menikah di Bali

Iloveblue
Untuk melakukan pernikahan di Bali, saat ini bukanlah sesuatu yang susah untuk dilakukan. Anda tinggal kontak ke salah satu wedding organizer, menentukan jumlah undangan yang akan hadir, memilih lokasi upacara, thema, yang tentunya disesuaikan dengan budget Anda.

Lokasi Prewedding di Bali

Iloveblue
Selain terkenal akan budayanya, Bali merupakan salah satu tujuan dari fotografer-fotografer prewedding saat ini. Karena Bali memberikan pilihan lokasi prewedding yang begitu beragam. Mulai dari danau, gunung, pura, pantai dan tentu saja panorama sunset yang eksotis.
Iloveblue
  • Apa kabar? - Punapi gatrane?
  • Berapa harganya ini? - Aji kuda niki?
  • Mau pergi ke mana? - Jagi lunga kija?
  • Saya suka kamu - Tyang tresna sareng ragane
  • Terima kasih banyak ya - Matur suksma nggih

Bali Stock Photos

Welcome to Bali Stock Photos, the web's original source for high quality stock photos / images from Bali. Bali, as well known an island with a thousands pura (temple) has so many wonderers objects / moments that can be captured in photos. Start from most uniquely ceremonies, the wonderful landscapes, balinese life, the exotic face of the balinese, the wonderfully flora and fauna and side by side with the greatness of balinese temples.

iloveblue.com
iloveblue.com